MEMAHAMI WASIAT MBAH KIYAI ARWANI KUDUS YANG MELARANG SANTRI-SANTRINYA BERMUSABAQAH AL-QURAN

Sudah lama saya mendengar dan bertemu langsung dengan para penghafal Al-Quran lulusan Kudus yang bersanad kepada Mbah Kiyai Arwani. Mereka tidak pernah mau ikutan musaqabah Al-Quran. Mereka menyandarkan ketidakmauan mereka kepada wasiat Mbah Kiyai Arwani langsung. Alhamdulillah, akhirnya saya berkesempatan melihat langsung foto manuskirip wasiat tersebut. Ditulis dalam bahasa Jawa dengan huruf Arab pegon. Manuskrip yang saya lihat bertarikh 11 Jumadal Ula tahun 1401 H., atau bertepatan dengan tahun 1981 M. Saya terkesima dengan isi wasiat beliau yang begitu dahsyat yang melukiskan kepribadian beliau yang wara’, tawadhu, dan penyayang kepada murid-muridnya. Padanya tercermin akhlak penghafal dan Al-Quran yang luhur. Ibarat menemukan air yang segar di tengah keadaan dunia menghafal Al-Quran yang kian kering dari air keikhlasan.

Berikut adalah kutipan lengkap wasiat Mbah Kiyai Arwani Kudus kepada santri-santrinya:

قال الله تعالى في كتابه العظيم
ولا تشتروا باٰياتي ثمنا قليلا

Kabeh anak putuku santri Al-Qur’an sing isih sinau ono pondokku kene utowo sing wes boyong mulih ono umahe dewe-dewe, aku gurumu Al-Qur’an ngestoake dawuh wasiate guruku Al-Qur’an Embah Kiyai Munawwir allaahu yarhamuh: Aku lan guruku ora ngelilani yen ono anak putu santri Al-Qur’an kang melu-melu daftar moco Al-Qur’an kanggo luru dun-yo. Podo ugo lantaran nganggo Musabaqah Tilawatil Qur’an utowo Musabaqah Ajwad Huffadz Al-Qur’an utowo nganggo coro liyane. Mulo songko iku kabeh anak putuku santriku kakung putri kang ora ngestuake wasiatku iki ora takdaku anak putu santriku dunyo akherat. Lan ora didaku putro wayahe Embah Kiyai Muhammad Munawwir almarhum. Jalaran guru iku: (GU) kudu digugu dawuhe. (RU) kudu ditiru tindake. Cukup semene wasiatku. Supoyo podo diestuake temenan-temenan. Wassalam.

Semua anak cucuku santri Al-Qur’an yang masih belajar di pondokku ini atau yang sudah boyong pulang ke rumahnya masing-masing, aku guru qur’an-mu mematuhi wasiat guru quran-ku Mbah Kiai Munawwir allaahu yarhamuh: Aku dan guruku tidak rela jika ada anak cucu santri Al-Qur’an yang ikut-ikutan membaca Al-Qur’an untuk mengejar dunia. Sama juga lantaran menggunakan Musabaqah Tilawatil Qur’an atau Musabaqah Ajwad Huffazh Al-Quran atau dengan cara lainnya. Maka dari itu semua anak cucuku santriku laki-laki maupun perempuan yang tidak mematuhi wasiatku ini tidak kuakui sebagai anak cucu santriku dunia akhirat. Dan tidak diakui sebagai keluarga Mbah Kiai Muhammad Munawwir almarhum. Sebab GURU itu: (GU) harus digugu (dipatuhi) petuahnya. (RU) harus ditiru tindakannya. Cukup sekian wasiatku. Agar betul-betul dipatuhi. Wassalam.

Saya tidak punya sanad kepada beliau. Tapi saya merasa wasiat beliau adalah untuk saya juga, dan untuk para penghafal Al-Quran di seluruh dunia. Bahkan ketika saya mulai menulis artikel ini saya bingung harus menyebut beliau dengan sebuatan apa. Saya khawatir menulis nama beliau dengan sebutan yang tidak sesuai dengan keluhuran ilmu dan ibadah beliau. Lalu saya pilih sebutan Mbah Kiyai Arwani allaahu yarhamuh. Mengambil contoh dari sebuatan yang beliau pergunakan untuk menyebut guru beliau, Mbah Kiyai Munawwir allaahu yarhamuh dalam teks wasiat beliau. Lalu saya pun bingung harus menyebut diri saya dengan apa. Sedang Mbah Kiyai Arwani menyebut diri beliau sendiri di atas nama jelas tandatangan wasiatnya dengan Turabul Aqdam. Artinya “debu kaki.” Menunjukan betapa tawadhu-nya beliau. Lalu saya pilih kata “saya,” yang terambil dari bahasa Sansakerta, “sahaya.” Artinya hamba sahaya, budak, dan pelayan. Kalau beliau adalah Turabul Aqdam (Debu Kaki) maka saya adalah budak debut kaki itu.

Mbah Kiyai Arwani memulai wasiatnya dengan mengutip firman Allah Swt:

وَلاَ تَشْتَرُوا بِاٰيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلاَ

… dan janganlah kamu menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah

Dari kutipan ayat ini terlihat dengan jelas inti wasiat beliau yang akan ditulis. Yaitu melarang menjadikan ayat-ayat Al-Quran untuk mencari duniawi. Karena penghafal Al-Quran akan menjadi hilang wibawa dan harganya. Yakni tak mulia lagi. Al-Quran sangat mahal. Bahkan dunia dan seisinya tak sebanding dengan satu huruf pun dari Al-Quran. Penghafal Al-Quran yang mengejar dunia dengan Al-Quran menunjukan dirinya tak ada harganya lagi. Al-Quran akan melaknatnya, bukan malah memberikan syafaat padanya. Jelas ini sangat berbahaya. Mbah Kiyai Arwani allaahu yarhamuh tidak mau santri-santrinya menjadi tak mulia karena salah memperlakukan Al-Quran.

Lalu Mbah Kiyai Arwani menyebutkan sasaran dari wasiatnya. Yaitu seluruh santri-santrinya yang sudah dianggap anak-anaknya sendiri. Yang dimaksud seluruh santri adalah mencakup yang masih di pondok maupun yang sudah pulang. Juga termasuk laki-laki dan perempuan. Dari sini saya melihat adanya sebab yang mendorong beliau menulis wasiat ini. Yaitu adanya para penghafal Al-Quran yang tak lagi berakhlak Al-Quran karena diketahui telah menjadikannya alat mencari dunia. Wallaahu a’lam apakah penghafal Al-Quran itu murid beliau atau bukan. Yang jelas, beliau sangat khawatir murid-muridnya jatuh ke situ. Tampaknya pula wasiat ini ditulis agak belakangan. Yakni setelah banyak santri-santri beliau yang pulang kampung.

Sebelum masuk ke konten wasiat, Mbah Arwani membuat sanad wasiat yang bersambung kepada Mbah Kiyai Munawwir al-marhum. Beliau menulis bahwa wasiatnya tersebut adalah juga wasiat gurunya kepada beliau. Dan menuliskan kembali wasiat kepada santri-santri adalah bagian terpenting dari mematuhi wasiat sang guru tersebut. Oleh karenanya, ketika memulai menulis konten wasiat, beliau menggandeng guru beliau. Beliau mengatakan: “Aku lan guruku ora ngelilani…” Artinya “aku dan guruku tidak merelakan…”

Mbah Kiyai Arwani berwasiat:
“Aku lan guruku ora ngelilane yen ono anak putu santri Al-Quran kang melu-melu daftar moco Al-Qur’an kanggo luru dunyo.” Artinya, “aku dan guruku tidak rela jika ada anak cucu santri Al-Qur’an yang ikut-ikutan daftar membaca Al-Qur’an untuk mengejar dunia.”

Kata “tidak rela” adalah soal perasaan. Bukan sekadar larangan. Yakni hati beliau akan terluka, juga hati guru beliau, apabila ada santrinya yang mengejar dunia dengan Al-Quran. Rasa ini sama dengan yang dirasakan Rasulullah Saw ketika melihat kaumnya tidak beriman kepada Al-Quran misalnya seperti yang dilukiskan dalam surah Al-Kahfi ayat 6. Yakni hal ini bukan karena beliau tidak ikhlas mengajar santri-santrinya. Tetapi karena begitu sayang kepada santri-santrinya. Beliau ingin semua santrinya bahagia.

Dalam kalimat beliau ada kata “ikut-ikutan” dan kata “daftar.” Yakni, pada saat beliau menulis wasiat, ada semacam festival atau kontes membaca Al-Quran yang diikuti oleh para santri Al-Quran dan banyak yang mendaftar. Dan beliau melihat motivasinya tak lain kecuali dunia. Inilah yang tidak diridhoi Mbah Kiyai Arwani dan Mbah Kiyai Munawwir, yaitu “luru dunyo.” Yakni, bahkan, dengan melepaskan kata “ikut-ikutan” dan kata “daftar” pun, yakni, dengan kata lain, bukan dalam rangka ikut festival, membaca Al-Quran dengan tujuan duniawi tetap tidak diridhai. Lalu, keadaannya bisa dibalik. Yakni, meski mendaftar, dan meski ikut-ikutan, kalau tidak bertujuan duniawi maka bukanlah sesuatu yang tidak diridhoi. Hanya saja, kenyataan yang terjadi, tidak mudah mengeluarkan tujuan duniawi dari bacaan Al-Quran dalam keadaan berfestival.

Festival Al-Quran yang lazim diikuti dengan tujuan “luru dunyo” pada masa itu adalah Musabaqah Tilawatil Quran dan Musabaqah Ajwad Huffazh Al-Qur’an. Tapi yang tidak diridhoi Mbak Kiyai Arwani bukan hanya ikutan dua kontes itu melainkan dengan cara-cara yang lain. Beliau mengawali kalimat wasiat tentang festival dan kontes membaca Al-Quran untuk tujuan dunia ini dengan kata “podo ugo,” yang artinya sama saja. Dua kata ini menunjukan dua pengertian:

1. Beliau tidak merelakan para santri beliau mengikuti festival atau kontes membaca Al-Quran untuk tujuan mengejar harta dunia. Meskipun festival atau kontes tersebut berupa Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Musabaqah Ajwad Huffazh Al-Quran yang banyak diikuti orang.

2. Yang tidak direlakan oleh beliau dari para santrinya bukan hanya mengejar dunia dengan membaca Al-Quran dalam Musabaqah Tilawatil Quran dan Musabaqah Ajwad Huffazh Al-Quran saja, tapi mengejar dunia dengan Al-Quran dalam segala hal, baik dalam festival dan kontes, maupun dalam selainnya.

Dengan demikian, menjadi guru Al-Qur’an, simaan Al-Quran, menjadi imam masjid, dan selainnya adalah termasuk yang tidak direlakan beliau selama tujuannya mengejar dunia. Hal ini pun terlihat dari bagian terakhir wasiat tentang guru yang harus digugu dan ditiru. Yakni Al-Quran dijadikan mata pencahaarian. Itu yang tidak direlakan. Adapun disebutkannya Musabaqah Tilawatil Quran dan Musabaqah Ajwad Huffazh Al-Quran secara khusus adalah karena secara kasat mata memang keduanya paling berpotensi melahirkan dorongan dunia.

Jika difahami secara tekstual, maka mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran dan Musabaqah Ajwad Huffazh Al-Quran adalah tidak direlakan meski tidak ada niat luru dunyo. Pemahaman tekstual ini adalah yang selama ini dari masa ke masa dipegang murid-murid beliau juga para penerus beliau hingga kini. Mengingat betapa sulitnya menghindar dari tujuan dunia dalam kedua even tersebut. Sehingga, dengan memutuskan tidak mengikutinya sama sekali, menjadi lebih aman dari cengkraman luru dunyo. Tapi, murid-murid dari Mbah Kiyai Munawwir selain jalur Mbah Kiyai Arwani, kendati diberikan wasiat yang sama, yakni tidak rela murid luru dunyo dengan Al-Quran, terbuka untuk mengikuti even Musabaqah Tilawatil Quran dan Musabaqah Ajwad Huffazh Al-Quran.

Pencantuman Musabaqah Tilawatil Quran dan Musabaqah Ajwad Huffazh Al-Quran secara khusus sebagai perbuatan yang tidak direstui dalam teks wasiat menunjukan beberapa hal:

1. Sanad wasiat Mbah Kiyai Arwani ke Mbah Kiyai Munawwir dilakukan secara makna. Yakni, wasiat Mbah Kiyai Munawwir hanya sebatas pada ketidakrelaan santri luru dunyo dengan Al-Quran. Tidak sampai kepada menyebutkan ikut perlombaan Musabaqah Tilawatil Quran dan Musabaqah Ajwad Huffazh Al-Quran secara terperinci. Karena Mbah Kiyai Munawwir wafat tahun 1942 sedang kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an pertama kali diselenggarakan oleh Pemerintah tahun 1968. Sebelumnya saya dapat informasi bahwa Musabaqah Tilawatil Qur’an pertama kali diadakan oleh Jam’iyyatul Qurra Wal Huffazh di bawah Nahdhatul Ulama pada tahun 1940. Yakni dua tahun sebelum Mbah Kiyai Munawwir wafat. Tapi, setelah diteliti, ternyata Jam’iyyatul Qurra Wal Huffazh baru didirikan pada tahun 1951 dan Musabaqah Tilawatil Quran baru diadakan setelahnya. Dengan demikian sanad yang bersambung ke Mbah Kiyai Munawwir hanya wasiat tentang luru dunyo dengan Al-Qur’an saja. Belum sampai menyebutkan Musabaqah Tilawatil Qur’an secara terperinci.

2. Bisa jadi perlombaan-perlombaan Al-Quran yang menjadi cikal baka Musabaqah Tilawatil Quran sudah ada pada zaman Mbah Kiyai Munawwir. Atau bisa jadi, kalau sanad wasiat Mbah Kiyai Arwani ini bersambung semuanya ke Mbah Kiyai Munawwir, wasiat ini terjadi secara kasyaf. Sanad Kasyaf ini diterima dalam Ilmu Thariqah. Karena baik Mbah Kiyai Munawwir maupun Mbah Kiyai Arwani kedua-duanya dikenal sebagai waliyullah yang dianugerahi karamah-karamah.

3. Musabaqah Ajwad Huffazh Al-Quran yang disebut oleh Mbah Kiyai Arwani dalam wasiatnya mungkin adalah yang dimaksud Masabaqah Hidzhil Qur’an sebagai salah satu cabang dari Musabaqah Tilawatil Qur’an. Pertama kali dilaksanakan di akhir tahun tujuh puluhan. Karena sebelumnya, Musabaqah Tilawatil Quran hanya memperlombakan Tilawah, yakni membaca Al-Quran dengan irama atau disebut Mujawwad. Tidak memperlombakan hafalan Al-Quran. Tampaknya semakin membuktikan wasiat ini ditulis di awal tahun delapan puluhan kalau tidak bertepatan dengan tanggal 11 Jumadal Ula tahun 1401 H. sebagaimana foto manuskrip yang saya lihat.

Wasiat Mbah Kiyai Arwani ini tidak berhenti di situ. Saat membaca bagian ini saya sampai menitikan air mata. Terbayang rasa sayang beliau kepada para santrinya. Kok ada guru yang pengorbanannya sebegitu hebatnya. Bagaimana tidak. Beliau pasang badan demi melindungi murid-muridnya. Bahkan beliau pasangkan badan gurunya, Mbah Kiyai Munawwir. Beliau menulis:

“Mulo songko iku kabeh anak putuku santriku kakung putri kang ora ngestuake wasiatku iki ora takdaku anak putu santriku dunyo akherat. Lan ora didaku putro wayahe Embah Kiyai Muhammad Munawwir almarhum.”

Artinya: “Maka dari itu semua anak cucuku santriku laki-laki maupun perempuan yang tidak mematuhi wasiatku ini tidak kuakui sebagai anak cucu santriku dunia akhirat. Dan tidak diakui sebagai keluarga Mbah Kiyai Muhammad Munawwir almarhum.”

Banyak yang menganggap wasiat bagian ini sangat kejam. Tapi saya melihat tidaklah demikian. Karena memang benar, santri yang tidak mematuhi wasiat ini, yakni santri tersebut malah menjadikan Al-Quran untuk luru dunyo, tidak akan dianggap murid beliau dengan sendirinya. Yakni meski tanpa wasiat ini. Tapi, justru, wasiat ini menunjukan beliau benar-benar guru sejati yang sangat penyayang kepada santri-santrinya seumur hidup mereka. Yakni, dengan kata lain, beliau hanya akan merasa berhasil menjadi guru apabila para santrinya terbukti menjaga Al-Quran dari lulu dunyo seumur hidup mereka. Beliau sampai relakan putus hubungan dengan para santri yang luru dunyo dengan Al-Quran di dunia dan akhirat.

Ini tentu sangat berat. Tidak mudah bagi seorang nabi kehilangan seorang pun dari umatnya. Seorang nabi yang paling bersedih di akhirat nanti adalah nabi yang paling sedikit umatnya yang beriman. Hal ini justru menjadi pertaruhan Mbah Kiyai Arwani. Karena saking sayangnya kepada santri. Dengan kata lain, seorang santri tidak perlu berbuat yang lain untuk menyenangkan hati beliau, tapi cukup dengan menjaga Al-Quran dari luru dunyo sepanjang hayatnya. Juga sebaliknya, tidak perlu melakukan yang lain untuk melukai hati beliau atau membuat beliau menangis, tapi cukup dengan luru dunyo dengan Al-Quran.

Alangkah bahagia santri yang mempunyai guru seperti Mbah Kiyai Arwani dan para pemegang wasiatnya. Sangat beruntung. Keberkahan ilmu dan keberkahan guru melindungi hidupnya. Teruslah berdoa dan murojaah untuk beliau. Tapi, saya berharap, jangan gagal fokus ke Musabaqah Tilawatil Quran dan Musabaqah Ajwad Huffazh Al-Quran. Tapi fokuslah ke “luru dunyo.” Ikut musabaqah adalah hal kecil. Yakni, hal yang kecil saja beliau peringatkan, apalagi yang besar. Tidak menjaga Al-Quran, tidak murojaah, tidak ngederes, dan tidak tak takrir karena sibuk dengan selain Al-Quran sampai banyak ayat yang tidak lancar atau lupa, tentunya hal itu lebih melukai hati beliau.

Yang dimaksud tidak diakui anak santri di dunia dan akhir tentu saja bukan sebenarnya. Melainkan kalimat majaz. Yakni Mbah Kiyai Arwani, saking sayangnya kepada santri dan khawatir mereka celaka, sampai mengatakan hal demikian. Dengan kata lain, Mbah Kiyai Arwani melakukan shock therapy kepada santri-santrinya. Bukan berarti benar-benar kemudian tidak akan dianggap murid dunia dan akhirat. Karena untuk tidak melanggar wasiat sama sekali sangatlah sulit. Soalnya luru dunyo dengan Al-Quran ini masalah niat. Bisa saja kita tidak ikut musabaqah. Tapi dalam hal lain apakah kita bisa. Untuk memastikan hati benar-benar kosong dari tujuan luru dunyo dengan Al-Qur’an tidaklah mudah. Karena hati selalu berubah-berubah. Bisa jadi malah yang ikut musabaqah lebih ikhlas. Rasulullah Saw pun, di akhirat kelak, akan turun tangan untuk memberikan syafaat kepada para pendosa sebagai wujud rasa sayang beliau kepada umatnya. Demikian pula Mbah Kiyai Arwani, rasa sayang kepada santri-santrinya begitu kuat. Tidak mungkin memutus hubungan dengan santri-santrinya. Justru, dengan wasiatnya ini, beliau tengah menjalin hubungan yang kuat dengan para santrinya di dunia dan akhirat. Karena saya memahami bahwa Mbah Kiyai Arwani ini seorang waliyullah. Kalimat wasiat ini salah satu buktinya. Shock therapy di dalamnya terasa begitu berat. Tidak mungkin bisa diucapkani oleh orang seperti saya. Karena saya belum tahu apakah saya lebih ikhlas dibanding santri-santri saya. Saya belum tahu keadaan saya di akhirat kelak apalah termasuk yang bahagia atau yang celaka. Bahkan saya masih membutuhkan syafaat santri.

Di penutup wasiatnya, beliau memberikan alasan mengapa penting menjaga wasiat ini. Yaitu karena para penghafal Al-Quran adalah guru. Falsafah guru menurut beliau adalah digugu (dipatuhi) petuahnya dan ditiru tindakannya. Jika guru sudah menjual Quran-nya dengan dunia maka bagaimana dengan yang lain. Dia tak lagi jadi guru. Beliau pun menulis wasiat ini karena beliau adalah guru. Beliau bertanggungjawab di hadapan Allah terhadap murid-muridnya. Bahkan di bagian terakhir dari penutup beliau menegaskan kembali agar wasiat ini dipatuhi dengan sungguh-sungguh. Yakni, harus benar-benar sungguh-sungguh. Tampaknya bagian penutup ini mengisyaratkan betapa semakin ke sini zaman semakin penuh dengan tantangan dan godaan bagi para penghafal Al-Quran. Sehingga wasiat ini benar-benar penting ditulis dan untuk dipatuhi.

Wallaahu ‘alam
Oleh : al-faqir Deden Muhammad Makhyaruddin

Link Asli : http://www.annahlbsdcity.com/kegiatan/artikel/serba-serbi/memahami-wasiat-mbah-kiyai-arwani-kudus-yang-melarang-santri-santrinya-bermusabaqah-al-quran/

Kebijaksanaan

Hanya orang bodoh yang gila akan dungu atau orang gila yang bodoh karena dungu yang mencoba berbkcara akan kebijaksanaan dari orang bijaksana atau kebajikan orang yang bajik

Karena kebijaksanaan cukuplah sebagai sebuaj kebijaksanaan bukan termasuk dari kepuasan mutlak yang karenanya maklum adanya bila di satu sisi ada yang senang dan tidak senang, ada yang puas dan tidak puas, ada yang bahagia dan tidak bahagia, ada yang cukup dan tidak cukup tergantung dari sisi mana saat itu berada

Bagi orang yang bodoh mungkin sudah cukup baginya berjalan di belakang aturan yang ada sedangkan aturan itu sendiri mungkin tidak akan mampu menjamah kilauan cahaya mahkota dari sebuah kebijaksanaan yang bersinar terik tanpa terhalang sesikitpun gumpalan awan di hamparan langit tanpa awan

Hal ini dikarenakan, kualitas dan kuantitas tidak bisa berjalan bersama seirama searah. Mana yang akan berjalan melangkah lebih jauh mungkin tergantung kebutuhan mana yang diinginkan oleh mahkota kebijaksanaan itu sendiri

Terlebih, jika proses dianggap lebih utama lalu kenapa terkadang kebijaksanaan itu sendii merasa kebingungan dengan proses sesudah tujuan tercapai karena kebijaksanaan telah mendobrak tatanan proses sebelum tujuan haya karena selendang belas kasihan yang mungkin tiada bersulam dengan keadilan

Akan tetapi bagi seorang murid jangan pernah mencoba untuk masuk ke dalam ranah kebijaksanaan guru, karena seorang guru memiliki banyak pertimbangan dalam kebijaksanaannya yang mana hal tersebut tidak pernah terpikirkan oleh sang murid. Kemungkinan hal ini terjadi hanya karena pemahaman murid selalu berjalan bersama dengan sang waktu adapun pemahaman guru tisak seperti itu

Oleh karenanya berikut mungkin hal yang tidak pantas diganggu gugat
1. Kebijaksanaan orang bijak
2. Kecerdikan orang cerdik
3. Kepintaran orang pintar
4. Kebodohan orang bodoh
5. Kedunguan orang dungu
6. Kegilaan orang gila
Atau mungkin masih banyak hal lain selain tersebut dalam ranah makhluk yang juga tidak pantas diganggu gugat

Bukankah pada diri sendiri saja terkadang bisa berubah sikap, ucap, tingkah, laku, keputusan, pemahaman, kebijaksanaan, perasaab atau apapun itu tergantung dari posisi atau kedudukan di mana saat itu mengalami dan memandang

Bisa jadi ada pilihan di bawah ini yang bisa atau tidak bisa dipilih (semua tergantung pada diri sendiri dan hati nurani)
1. Membenarkan diri, menyalahkan lainnya
2. Menyalahkan diri, membenarkan lainnya
3. Membenarkan diri dan lainnya
4. Menyalahkan diri dan lainnya
5. Membenarkan atau menyalahkan diri tanpa melihat lainnya
6. Membenarkan atau menyalahkan lainnya tanpa melihat diri
Atau mungkin ada pilihan yang lebih bijaksana dari semua hal di atas???

Shacma, 09-07-18

Wirdu as Sa’adah

Berikut adalah Ijazah yang sering diberikan oleh Beliau K.H. Abdul Hannan Ma’shum (Pengasuh PP. Fathul Ulum Kwagean Kediri)
Beliau menyebutnya Wirdu as Sa’adah, di mana salah satu fadhilah dari ijazah ini adalah Insya Allah anak kita akan menurut kepada orangtuanya dan Allah
Berikut Wirdu as Sa’adah dari Beliau
Membaca QS. Al Fatihah setiap selesai melaksanakan shalat fardhu sebanyak
30x setelah Subuh
25x setelah Dhuhur
20x setelah Ashar
15x setelah Maghrib
10x setelah Isya

Semoga anak-anak kita menjadi anak yang sholih atau sholihah dan menjadi kebanggan tidak hanya orangtua, keluarga namun juga berguna untuk masyarakat, nusa dan bangsa juga untuk agama Islam

Ada kurangnya mohon disempurnakan bagi yang pernah mendengar maupun sudah mengamalkan Wirdu as Sa’adah tersebut

Batu Nisan

Di hari-hari pembangunan Masjid, suasana berkabung menyelimuti seluruh penduduk Madinah. ‘Utsman ibn Madh’un salah satu sahabat Muhajirin meninggal. Rasulullah sangat berduka atas meninggalnya ‘Utsman, saudara sesusuan beliau. Di hari pemakamannya, beliau datang dengan mengenakan jubah besarnya. Setelah ‘Utsman dikebumikan, beliau memerintahkan para sahabatnya untuk memerciki pusaranya dengan air. Sebongkah batu besar yang tidak mampu diangkat seorang sahabat yang tadinya diperintahkan Nabi, diletakkan di atas pusara dengan tangan beliau sendiri. “Dengan batu ini, aku akan mengetahui di mana makam saudaraku. Di makam ini pula aku akan memakamkan keluargaku”. Kata Beliau di tengah-tengah pemakaman Baqi’ al-Gharqad.
Inilah peletakkan batu nisan pertama kali agar mempermudah ketika hendak menziarahinya. Sekaligus untuk memberikan penghargaan dan mengenang amal perbuatan orang-orang Shalih. Diharapkan dengan mengunjungi makam-makam itu, kelak warga muslim tidak akan pernah melupakan jasa para pendahulunya dan meneladani seluruh perulaku mulianya.

Kutipan Buku Lentera Kegelapan

Keinginanku

Ya Allah
Hentikan keinginanku hanya pada-Mu
Aku takut menjadi hamba keinginan
Karena keinginan menjadikan aku hina
Terlebih jika keinginan itu di luar batas kewajaran yang seharusnya
Ketika keinginanku sudah memuncak
Ia akan menuntut kemustahilan
Yang tidak memandang sisi lain
Selain dari keterpenuhan keinginan
Aku takut akan keinginanku
Aku takut terkebak keinginan
Aku takut digembala oleh keinginan
Menuju kandang ketamakan
Tanpa pertolongan dari-Mu
Tiada seorangpun bisa melepaskan diri dari gudang ketamakan
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Penuhi kalbu dan hatiku hanya untuk bersama-Mu
Bukan hanya mengingat Dzat Mu
Namun selalu bersama Engkau untuk menuju Engkau hanya karena Engkau saja
Tiada yang lain selain Engkau saja

Irsyah, 20092017

KEMUNAFIKANKU

Di alam ruh aku telah bersumpah menyatakan bahwa Allah adalah Tuhanku
Namun kini terkadang aku lupa akan sumpah itu
Bahkan teradang aku menciptakan Tuhan sendiri menurut kehendakku
Allah hanya memberiku amanah untuk hanya beribadah kepada-Nya
Namun nyatanya aku memiliki ibadah lain yang bukan hanya untuk Allah semata
Aku selalu berdoa memohon petunjuk jalan yang lurus
Namun kakiku malah melangkah ke jalan yang gelap gulita

Jika aku sendiri masih berkubang dengan sifat munafik
Apa mungkin aku bisa mengatakan kemunafikan orang lain
Atau karena aku yang jelas-jelas munafik menjadi sebab aku mudah memunafikkan orang lain yang belum tentu mereka munafik di sisi Allah

Di sini aku dan Kemunafikanku

Seharusnya Menjalani

Terkadang apa yang sedang terjadi dan telah terjadi pada diriku tidak seperti yang aku bayangkan dan inginkan. Malah sebaliknya kejadian itu terjadi begitu saja seperti semua sudah berjalan sebagaimana mestinya tanpa harus diarahkan dan dikendalikan
Terkadang hati masih sulit untuk menerima semuanya karena tidak semua yang aku ketahui berjalan seperti seharusnya, entah karena pengetahuanku yang salah atau karena pengetahuan yang aku miliki tidak sampai sana sehingga berat untuk mengakuinya dan merelakannya

Jika saja apa yang terjadi seperti yang aku ketahui atau seperti yang aku bayangkan, tidak menjamin hal itu akan berjalan seperti seharusnya sebab kehidupan yang terjadi bukan hanya milikku seorang namun semua yang hidup diberikan kesempatan untuk merasakannya oleh Allah

Jika semua yang hidup sementara itu memiliki gambaran masing-masing kejadian yang seharusnya otomatis apa yang terjadi bukalah yang seharusnaya malahan sebaliknya kacau, rancu, dan tidak terkontrol

Pada akhirnya biarlah semua kejadian terjadi bukan karena seharusnya melainka karena itu sudah Kehendak Allah SWT, tinggal bagaimana aku menjalaninya. Apa aku akan menjalani seperti Keinginan dan Ridha-nya ataukah aku menjalaninya seperti seharusnya dengan tiada pernah rasa syukur di dalamnya

Belajar seharusnya menjalani buka mencoba menjalani yanv seharusnya.

Tetap semangat

Previous Older Entries

%d blogger menyukai ini: