Kebijaksanaan

Hanya orang bodoh yang gila akan dungu atau orang gila yang bodoh karena dungu yang mencoba berbkcara akan kebijaksanaan dari orang bijaksana atau kebajikan orang yang bajik

Karena kebijaksanaan cukuplah sebagai sebuaj kebijaksanaan bukan termasuk dari kepuasan mutlak yang karenanya maklum adanya bila di satu sisi ada yang senang dan tidak senang, ada yang puas dan tidak puas, ada yang bahagia dan tidak bahagia, ada yang cukup dan tidak cukup tergantung dari sisi mana saat itu berada

Bagi orang yang bodoh mungkin sudah cukup baginya berjalan di belakang aturan yang ada sedangkan aturan itu sendiri mungkin tidak akan mampu menjamah kilauan cahaya mahkota dari sebuah kebijaksanaan yang bersinar terik tanpa terhalang sesikitpun gumpalan awan di hamparan langit tanpa awan

Hal ini dikarenakan, kualitas dan kuantitas tidak bisa berjalan bersama seirama searah. Mana yang akan berjalan melangkah lebih jauh mungkin tergantung kebutuhan mana yang diinginkan oleh mahkota kebijaksanaan itu sendiri

Terlebih, jika proses dianggap lebih utama lalu kenapa terkadang kebijaksanaan itu sendii merasa kebingungan dengan proses sesudah tujuan tercapai karena kebijaksanaan telah mendobrak tatanan proses sebelum tujuan haya karena selendang belas kasihan yang mungkin tiada bersulam dengan keadilan

Akan tetapi bagi seorang murid jangan pernah mencoba untuk masuk ke dalam ranah kebijaksanaan guru, karena seorang guru memiliki banyak pertimbangan dalam kebijaksanaannya yang mana hal tersebut tidak pernah terpikirkan oleh sang murid. Kemungkinan hal ini terjadi hanya karena pemahaman murid selalu berjalan bersama dengan sang waktu adapun pemahaman guru tisak seperti itu

Oleh karenanya berikut mungkin hal yang tidak pantas diganggu gugat
1. Kebijaksanaan orang bijak
2. Kecerdikan orang cerdik
3. Kepintaran orang pintar
4. Kebodohan orang bodoh
5. Kedunguan orang dungu
6. Kegilaan orang gila
Atau mungkin masih banyak hal lain selain tersebut dalam ranah makhluk yang juga tidak pantas diganggu gugat

Bukankah pada diri sendiri saja terkadang bisa berubah sikap, ucap, tingkah, laku, keputusan, pemahaman, kebijaksanaan, perasaab atau apapun itu tergantung dari posisi atau kedudukan di mana saat itu mengalami dan memandang

Bisa jadi ada pilihan di bawah ini yang bisa atau tidak bisa dipilih (semua tergantung pada diri sendiri dan hati nurani)
1. Membenarkan diri, menyalahkan lainnya
2. Menyalahkan diri, membenarkan lainnya
3. Membenarkan diri dan lainnya
4. Menyalahkan diri dan lainnya
5. Membenarkan atau menyalahkan diri tanpa melihat lainnya
6. Membenarkan atau menyalahkan lainnya tanpa melihat diri
Atau mungkin ada pilihan yang lebih bijaksana dari semua hal di atas???

Shacma, 09-07-18

Wirdu as Sa’adah

Berikut adalah Ijazah yang sering diberikan oleh Beliau K.H. Abdul Hannan Ma’shum (Pengasuh PP. Fathul Ulum Kwagean Kediri)
Beliau menyebutnya Wirdu as Sa’adah, di mana salah satu fadhilah dari ijazah ini adalah Insya Allah anak kita akan menurut kepada orangtuanya dan Allah
Berikut Wirdu as Sa’adah dari Beliau
Membaca QS. Al Fatihah setiap selesai melaksanakan shalat fardhu sebanyak
30x setelah Subuh
25x setelah Dhuhur
20x setelah Ashar
15x setelah Maghrib
10x setelah Isya

Semoga anak-anak kita menjadi anak yang sholih atau sholihah dan menjadi kebanggan tidak hanya orangtua, keluarga namun juga berguna untuk masyarakat, nusa dan bangsa juga untuk agama Islam

Ada kurangnya mohon disempurnakan bagi yang pernah mendengar maupun sudah mengamalkan Wirdu as Sa’adah tersebut

Batu Nisan

Di hari-hari pembangunan Masjid, suasana berkabung menyelimuti seluruh penduduk Madinah. ‘Utsman ibn Madh’un salah satu sahabat Muhajirin meninggal. Rasulullah sangat berduka atas meninggalnya ‘Utsman, saudara sesusuan beliau. Di hari pemakamannya, beliau datang dengan mengenakan jubah besarnya. Setelah ‘Utsman dikebumikan, beliau memerintahkan para sahabatnya untuk memerciki pusaranya dengan air. Sebongkah batu besar yang tidak mampu diangkat seorang sahabat yang tadinya diperintahkan Nabi, diletakkan di atas pusara dengan tangan beliau sendiri. “Dengan batu ini, aku akan mengetahui di mana makam saudaraku. Di makam ini pula aku akan memakamkan keluargaku”. Kata Beliau di tengah-tengah pemakaman Baqi’ al-Gharqad.
Inilah peletakkan batu nisan pertama kali agar mempermudah ketika hendak menziarahinya. Sekaligus untuk memberikan penghargaan dan mengenang amal perbuatan orang-orang Shalih. Diharapkan dengan mengunjungi makam-makam itu, kelak warga muslim tidak akan pernah melupakan jasa para pendahulunya dan meneladani seluruh perulaku mulianya.

Kutipan Buku Lentera Kegelapan

Keinginanku

Ya Allah
Hentikan keinginanku hanya pada-Mu
Aku takut menjadi hamba keinginan
Karena keinginan menjadikan aku hina
Terlebih jika keinginan itu di luar batas kewajaran yang seharusnya
Ketika keinginanku sudah memuncak
Ia akan menuntut kemustahilan
Yang tidak memandang sisi lain
Selain dari keterpenuhan keinginan
Aku takut akan keinginanku
Aku takut terkebak keinginan
Aku takut digembala oleh keinginan
Menuju kandang ketamakan
Tanpa pertolongan dari-Mu
Tiada seorangpun bisa melepaskan diri dari gudang ketamakan
Allah
Allah
Allah
Allah
Allah
Penuhi kalbu dan hatiku hanya untuk bersama-Mu
Bukan hanya mengingat Dzat Mu
Namun selalu bersama Engkau untuk menuju Engkau hanya karena Engkau saja
Tiada yang lain selain Engkau saja

Irsyah, 20092017

KEMUNAFIKANKU

Di alam ruh aku telah bersumpah menyatakan bahwa Allah adalah Tuhanku
Namun kini terkadang aku lupa akan sumpah itu
Bahkan teradang aku menciptakan Tuhan sendiri menurut kehendakku
Allah hanya memberiku amanah untuk hanya beribadah kepada-Nya
Namun nyatanya aku memiliki ibadah lain yang bukan hanya untuk Allah semata
Aku selalu berdoa memohon petunjuk jalan yang lurus
Namun kakiku malah melangkah ke jalan yang gelap gulita

Jika aku sendiri masih berkubang dengan sifat munafik
Apa mungkin aku bisa mengatakan kemunafikan orang lain
Atau karena aku yang jelas-jelas munafik menjadi sebab aku mudah memunafikkan orang lain yang belum tentu mereka munafik di sisi Allah

Di sini aku dan Kemunafikanku

Seharusnya Menjalani

Terkadang apa yang sedang terjadi dan telah terjadi pada diriku tidak seperti yang aku bayangkan dan inginkan. Malah sebaliknya kejadian itu terjadi begitu saja seperti semua sudah berjalan sebagaimana mestinya tanpa harus diarahkan dan dikendalikan
Terkadang hati masih sulit untuk menerima semuanya karena tidak semua yang aku ketahui berjalan seperti seharusnya, entah karena pengetahuanku yang salah atau karena pengetahuan yang aku miliki tidak sampai sana sehingga berat untuk mengakuinya dan merelakannya

Jika saja apa yang terjadi seperti yang aku ketahui atau seperti yang aku bayangkan, tidak menjamin hal itu akan berjalan seperti seharusnya sebab kehidupan yang terjadi bukan hanya milikku seorang namun semua yang hidup diberikan kesempatan untuk merasakannya oleh Allah

Jika semua yang hidup sementara itu memiliki gambaran masing-masing kejadian yang seharusnya otomatis apa yang terjadi bukalah yang seharusnaya malahan sebaliknya kacau, rancu, dan tidak terkontrol

Pada akhirnya biarlah semua kejadian terjadi bukan karena seharusnya melainka karena itu sudah Kehendak Allah SWT, tinggal bagaimana aku menjalaninya. Apa aku akan menjalani seperti Keinginan dan Ridha-nya ataukah aku menjalaninya seperti seharusnya dengan tiada pernah rasa syukur di dalamnya

Belajar seharusnya menjalani buka mencoba menjalani yanv seharusnya.

Tetap semangat

Makna di balik Syair Lagu Lir Ilir

Gambar

Lirik Lagu Lir Ilir

Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh penganten anyar
Bocah angon bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro dodotiro kumintir bedah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surak’0 surak hiyo

 

Makna yang terkandung lagu di atas adalah sbb:

  1. Lir-ilir, Lir-ilir (Bangunlah, bangunlah)
  2. Tandure wus sumilir (Tanaman sudah bersemi)
  3. Tak ijo royo-royo (Demikian menghijau)
  4. Tak sengguh temanten anyar (Bagaikan pengantin baru)

Makna: Sebagai umat Islam kita diminta bangun. Bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk lebih mempertebal keimanan yang telah ditanamkan oleh Alloh dalam diri kita yang dalam ini dilambangkan dengan Tanaman yang mulai bersemi dan demikian menghijau. Terserah kepada kita, mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru.

  1. Cah angon, cah angon (Anak gembala, anak gembala)
  2. Penekno Blimbing kuwi (Panjatlah (pohon) belimbing itu)
  3. Lunyu-lunyu penekno (Biar licin dan susah tetaplah kau panjat)
  4. Kanggo mbasuh dodotiro (untuk membasuh pakaianmu)

Makna: Disini disebut anak gembala karena oleh Alloh, kita telah diberikan sesuatu untuk digembalakan yaitu HATI. Bisakah kita menggembalakan hati kita dari dorongan hawa nafsu yang demikian kuatnya? Si anak gembala diminta memanjat pohon belimbing yang notabene buah belimbing bergerigi lima buah. Buah belimbing disini menggambarkan lima rukun Islam. Jadi meskipun licin, meskipun susah kita harus tetap memanjat pohon belimbing tersebut dalam arti sekuat tenaga kita tetap berusaha menjalankan Rukun Islam apapun halangan dan resikonya. Lalu apa gunanya? Gunanya adalah untuk mencuci pakaian kita yaitu pakaian taqwa.

  1. Dodotiro, dodotiro (Pakaianmu, pakaianmu)
  2. Kumitir bedah ing pinggir (terkoyak-koyak dibagian samping)
  3. Dondomono, Jlumatono (Jahitlah, Benahilah!!)
  4. Kanggo sebo mengko sore (untuk menghadap nanti sore)

Makna: Pakaian taqwa kita sebagai manusia biasa pasti terkoyak dan berlubang di sana sini, untuk itu kita diminta untuk selalu memperbaiki dan membenahinya agar kelak kita sudah siap ketika dipanggil menghadap kehadirat Alloh SWT.

  1. Mumpung padhang rembulane (Mumpung bulan bersinar terang)
  2. Mumpung jembar kalangane (mumpung banyak waktu luang)
  3. Yo surako surak iyo!!! (Bersoraklah dengan sorakan Iya!!!)

Makna: Kita diharapkan melakukan hal-hal diatas  ketika kita masih sehat (dilambangkan dengan terangnya bulan) dan masih mempunyai banyak waktu luang dan jika ada yang mengingatkan maka jawablah dengan Iya!!!…… Lir ilir, judul dari tembang di atas. Bukan sekedar tembang dolanan biasa, tapi tembang di atas mengandung makna yang sangat mendalam. Tembang karya Kanjeng Sunan ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah. Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menterjemahkan lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“.

Apakah makna mendalam dari tembang ini? Mari kita coba mengupas maknanya

Lir-ilir, lir-ilir tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? Pikiran? terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan.

tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.

Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan.

Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“.

dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.

Yo surako surak hiyo. Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)

http://menone.wordpress.com/2012/04/18/makna-dibalik-lagu-lir-ilir/

Previous Older Entries

%d blogger menyukai ini: