Cara Membedakan antara Malaikat dan Setan

duel

Cara untuk membedakan antara makhluk ghaib, apakah itu Malaikat ataukah itu Setan ada baiknya ikuti kisah di bawah ini yang terjadi antara Nabi Muhammad SAW dan Sayyidah Khadijah setelah pengangkatan Muhammad SAW sebagai Nabi Akhir Jaman dengan ditandai penerimaan wahyu pertama QS. Al-Alaq ayat 1-5

Seperti yang telah direncanakan, ketika Jibril menemui baginda Nabi maka beliau segera memanggil istri tercintanya itu.
“Wahai Khadijah, ini Jibril datang padaku”.
“Kemarilah suamiku. Duduklah di atas pahaku yang sebelah kiri”.

Mendengar permintaan itu, Nabi langsung duduk di atas paha Khadijah. Sesaat kemudia istrinya berbisik lirih di telinga beliau, “Apakah kau masih melihatnya?”
“Ya”, jawab Nabi
“Suamiku, beralihlah ke paha sebelah kanan”.
Nabi lantas pindah ke paha Khadijah sebelah kanan. Beliau kembali berbisik di telinga suaminya.
“Apakah kau masih melihatnya?”
“Ya”, jawab Nabi

Pelan-pelan Khadijah kemudian membuka cadarnya sehingga wajah dan kepalanya terbuka. Sambil memangku Nabi, Khadijah kembali bertanya, “Apakah engkau masih melihatnya?”
Nabi menjawab, “Tidak”
Kini Khadijah yakin bahwa sosok yang menemui suaminya itu adalah Jibril. Dengan gembiranya, berliau berkata pada Rasulullah, “Teguhkanlah dirimu wahai putra pamanku dan bergembiralah. Demi Allah, sesungguhnya yang datang kepadamu adalah malaikat bukan syaitan”

Team Sejarah 2010, ATSAR, Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW -Lentera Kehidupan – Untuk Mengenal Pendidik Sejati Manusia, Kediri : Pustaka Gerbang Lama, 2012, hal. 109-110

Iklan

Tulisan pada Batu Pondasi Ka’bah

Pada batu yang menjadi pondasi bangunan Ka’bah yang telah diletakkan Nabi Ibrahim telah ditemukan sebuah batu bertuliskan bahasa Suryani. Kejadian ini terjadi saat renovasi Ka’bah untuk pertama kalinya sedangkan usia Nabi Muhammad SAW saat itu sekitar 35 tahun

2241930469_0bdc91b249_m

“Aku adalah Allah sang pemilik Bakkah, Aku membangunnya ketika kuciptakan langit, bumi, matahari dan bulan. Aku mengelilinginya dengan tujuh malaikat yang setia. Malaikat-malaikat itu akan selalu begitu hingga gunung-gunung yang mengitarinya runtuh. Dan Aku berikan keberkahan bagi ahli Bakkah di dalam air dan susu”

Team Sejarah 2010, ATSAR, Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW -Lentera Kehidupan – Untuk Mengenal Pendidik Sejati Manusia, Kediri : Pustaka Gerbang Lama, 2012, hal. 95

Pidato Nikah Abu Thalib

Di bawah ini mupakan petikan pidato yang disampaikan oleh Abu Thalib pada saat pernikahan Baginda Nabi Muhammad SAW dengan Sayyidah Khadijah

“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita keturunan Nabi Ibrahim as serta menjadikan kita putra dari Ismail as keturunan Ma’ad dan kerabat Mudhar. Allah juga telah menjadikan kita penjaga Baitullah dan mengatur tanah Haram. Menjadikan kita bait yang dikunjungi jamaah haji. Menjadikan tanah Haram aman, serta mengangkat kita sebagai pemutus persoalan masyarakat. Kemudian putra saudaraku yang bernama Muhammad bin Abdullah yang dimana keutamaannya tidak pernah dapat disaingi oleh siapa pun, hari ini dia datang untuk melamar salah satu putri kalian yang bernama Khadijah. Meskipun harta Muhammad sedikit, semua tidak lain hanya karena kenikmatan harta benda pasti akan lenyap serta membuat kita lalai. Semua itu hanya pinjaman yang harus dikembalikan. Saat ini pula dia menyerahkan maskawin dalam jumlah sekian dengan demikian bereslah urusan.

Team Sejarah 2010, ATSAR, Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW -Lentera Kehidupan – Untuk Mengenal Pendidik Sejati Manusia, Kediri : Pustaka Gerbang Lama, 2012, hal. 84

images

Cincin Nabi Sulaiman

cincin

Wahab bin Munbih mengatakan bahwa cincin Nabi Sulaiman `Alaihissalaam berasal dari langit yang memiliki empat sisi.

Diantara sisinya tertulis kata “Laa Ilaha Illallahu Wahdahu Laa Syariika Lahu Muhammadun Abduhu wa Rosuuluhu,

artinya : ‘Tidak ada tuhan selain Allah tidak ada sekutu bagi-Nya. Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya”

Pada sisi kedua tertulis,”Allahumma Maalikal Mulki Tu’til Mulka Man Tasya wa Tanzi’ul Mulka Man Tasya wa Tu’izzu Man Tasya wa Tuzillu Man Tasya,

artinya : ‘Wahai Allah Raja yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kekuasaan kepada yang Engkau kehendaki, Engkau cabut (kekuasaan) dari orang yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki”

Pada sisi ketiga tertulis,”Kullu syai’in Haalikun Illalloh. Artinya : ‘Segala sesuatu akan musnah kecuali Allah.”

Dan pada sisi keempat tertulis,”Tabarokta Ilahiy Laa Syariika Laka. artinya : ‘Maha suci Engkau wahai Tuhanku yang tidak ada sekutu bagi-Mu.” Cincin tersebut memiliki cahaya yang bersinar yang apabila dikenakan maka akan berkumpul para jin, manusia, burung, angin, setan dan awan.

Dia juga mengisahkan bahwa suatu hari Nabi Sulaiman hendak berwudhu maka ia menyerahkan cincinnya itu kepadanya (budak perempuannya yang bernama Aminah).

Ketika itu ada jin yang bernama Sokhr yang mendahului Sulaiman masuk ke tempat wudhu dan bersembunyi dibalik pintu.

Tatkala Sulaiman memasuki tempat wudhu untuk menunaikan keperluannya lalu setan itu keluar dari dalam tempat wudhu dengan menyerupai wajah Sulaiman sambil mengibas-ngibas jenggotnya yang bekas wudhu dan tidak berbeda sama sekali dengan Sulaiman dan mengatakan –kepada Aminah,”Cincinku wahai Aminah.”

Aminah pun memberikan cincin tersebut kepadanya dan dia meyakini bahwa ia adalah Sulaiman maka cincin itu pun berada di tangannya. Lantas dia pun duduk di singgasana Sulaiman sehingga golongan burung, jin, setan pun tunduk kepadanya.

Tak berapa lama Nabi Sulaiman as selesai berwudhu dan mengatakan kepada Aminah,”Cincinku.” Aminah pun bertanya,”Siapa anda?” Dia menjawab,”Aku Sulaiman bin Daud.”
Dan tampak terdapat perubahan pada penampilannya. Aminah berkata,”Engkau bohong, sesungguhnya Sulaiman telah mengambil cincinnya dan saat ini dia tengah duduk di singgasanan kerajaannya.” Maka tahulah Sulaiman bahwa dia telah mendapati suatu kesalahan.”

(Mukhtashor Tarikh Dimasyq juz III hal 379)

Wahab bin Munbih juga menjelaskan bahwa pada saat Nabi Sulaiman ke kamar kecil maka setan yang menyerupai Nabi Sulaiman mendatangi budak perempuannya tanpa ada kecurigaan darinya. Setan itu lalu mengambil cincin tersebut darinya, meletakkannya di jarinya dan langsung pergi ke istana Nabi Sulaiman serta duduk diatas singgasananya. Berdatanganlah para tentaranya dari golongan manusia, jin dan burung dan mereka semua berdiri dihadapannya sebagaimana biasanya. Mereka menyangka bahwa ia adalah Nabi Sulaiman.

Tatkala Sulaiman keluar dari kamar kecil dan meminta cincin dari budak perempuannya itu lalu budak perempuan itu melihat kearahnya dan tampak terdapat perubahan didalam penampilannya. Budaknya pun bertanya,”Siapa kamu?” Dia menjawab,”Aku Sulaiman bin Daud.” Budak itu berkata kepadanya,”Sulaiman telah mengambil cincinnya, dia sudah pergi dan duduk diatas singgasananya.” Sulaiman pun menyadari bahwa setan telah memperdayai budak perempuannya dan mengambil cincin darinya.

Kemudian Nabi Sulaiman pun berlari ke padang tandus hingga pada suatu ketika ia merasa sangat lapar dan dahaga. Dan terkadang ia meminta kepada orang-orang agar memberikannya makanan sambil mengatakan,”Aku Sulaiman bin Daud.” Namun orang-orang tidak mempercayainya. Nabi Sulaiman berada dalam keadaan lapar dan tanpa tutup kepala ini selama 40 hari.

Sampailah Nabi Sulaiman di tepi pantai dan dia menyaksikan sekelompok nelayan lalu ia pun menghampiri dan bekerja bersama mereka sebagai seorang nelayan. Kemudian Asif bin Barkhoya berkata,”Wahai orang-orang Bani Israil sesungguhnya cincin Sulaiman telah dicuri oleh sekelompok setan dan sesungguhnya Sulaiman telah pergi dengan ketakuan diwajahnya.” Tatkala setan yang duduk di singgasana itu mendengar perkataan tersebut maka ia pun pergi menuju lautan dengan perasaan takut dan membuangnya. Cincin yang dibuang itu lalu dimakan oleh ikan salmon yang kemudian ikan itu dijaring oleh Nabi Sulaiman dengan izin Allah swt.

Dan ketika Nabi Sulaiman menyembelih perut ikan tersebut maka ia mendapati cincinnya berada didalamnya lalu dia pun memakainya di jarinya dan bersujud syukur kepada Allah swt. Setelah itu dia kembali ke singgasananya dan duduk diatasnya sebagaimana disebutkan didalam firman Allah swt :

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَى كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ

Artinya : “dan Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat.” (QS. Shaad : 34) –

(Bada’i az Zuhur fii Waqo’i ad Duhur juz I hal 85)

kITAB Bada’i az Zuhur fii Waqo’i ad Duhur AdalahKITAB karangan Ibn Iyas sejarawan asal Mesir dan merupakan salah satu murid Jalaluddin as-Suyuthi. Nama lengkapnya ialah Abu al-Barakat Muhammad bin Ahmad bin Iyas, lahir di Kairo pada tahun 852 H / 1448 M dan meninggal pada tahun 930 H / 1524 M.

https://www.faceb**k.com/abunawasmajdub?ref=stream/cincin-nabi-sulaiman

Mutiara Rajab 1435H

ayah_isra'

1. Kyai itu orang yang sudah tua namun bukan dalam hal usia melainkan dalam hal ilmu pengetahuan agama, akhlak, budi pekerti
2. Kyai merupakan orang yang sanggup untuk melayani (ngayahi)
3. Mbah Kyai merupakan orang yang bisa selalu menambah sesuatu terlebih dalam hal ketaatan kepada Allah SWT
4. Pak Kyai merupakan orang yang suka numpak (naik) dan grayahi (mengambil apa yang bisa diambil dari santri)
5. Manusia itu tercipta abadi dengan perpindahan dari beberapa alam kehidupan
6. Manusia asalnya adalah bangsa halus/ruh yang diletakkan di dalam alam kandungan
7. Kita tidak mempunyai apa pun karena sejatinya hanya Allah yang memiliki kehendak apa-apa tersebut
8. Pekerjaan Allah itu sangat halus sampai tidak ada cacat sedikit pun dalam hasil pekerjaan tersebut
9. Hidup di alam dunia ini tinggal melaksanakan saja karena di alam mitsal kita (dalam bentuk ruh) sudah menerima takdir yang akan berlaku atas diri kita
10. Takdir ada yang Muallaq yang masih bisa dirubah dengan usaha manusia seperti kaya, pintar, cantik dan ada juga takdir Mubram yang tidak bisa dirubah oleh manusia
11. Hidup di dunia itu semua sudah tertanggung oleh Allah SWT sebagaimana kita yang diundang dalam sebuah rumah maka perjamuan dan fasilitas akan disediakan oleh tuan rumah selama kita tidak berpindah-pindah tempat yang mana hal tersebut bisa menjadikan tuan rumah bingung untuk melayani kita
12. Orang miskin seharusnya merasa bahagia karena tidak dierpotkan untuk membawa sesuatu bukankah lebih enak dibawakan daripada membawa sendiri
13. Perbedaan orang kaya dengan orang miskin sebenarnya tidak terlalu jauh, seperti contoh dalam hal makan
14. Jasad hanyalah bungkus buat ruh
15. Perpindahan ruh menuju alam dunia dari alam kandungan itu melalui proses ibu yang mengejan maka seperti itulah ketika akan menuju alam barzah, maka masing-masing individu akan mengejan sendiri untuk mengeluarkan ruh mereka dan bagi mereka yang kesulitan (naza’ su’ul khotimah) maka akan dibantu oleh malaikat maut dengan cara ditarik paksa
16. Ketika Allah memandang ruh orang mukmin maka hal itu lebih menyenangkan dibanding kebahagian orang tua yang memandang putranya
17. Isi (ruh) bisa mempengaruhi bungkus (jasad)
18. Keterbiasaan itu sulit sekali untuk itu diperlukan latihan
19. Kita sering mencaci maki Allah melalui cacian kita terhadap ciptaan Allah yang tidak sesuai dengan kehendak kita atau yang tidak sempurna menurut pandangan kitaa
20. Amal perbuatan anak sama seperti amal perbuatan orang tua, maka jika baik maka orang tua mendapat pahala yang sama begitu juga sebaliknya bila yang dilakukan adalah keburukan maka orang tua juga akan mendapat dosa seperti apa yang anak mereka lakukan

Gus Muflis (Gresik) di Banaran 26 Mei 2014 dalam rangka memperingati Isro’ dan Mi’roj Nabi Muhammad SAW dan Haul ke 57 Syeikh Zainunin bin Ibrahim bin Ali Akbar

Muhammad SAW Berprilaku Ilmiah sebelum Ilmuwan Berteori

Bermuda 05

Seharusnya engkau lebih mengagumi pengetahuan Rasulullah SAW
Sebagai seorang yang tak dapat membaca dan menulis
Apalagi masuk laboratorium untuk melaksanakan eksperimen-eksperimen
dan penyelidikan-penyelidikan di dalamnya.
Seorang ummi yang hidup dalam masa di mana pengetahuan manusia terhadap kebersihan dan kesehatan adalah masih begitu rendah
Seorang yang memerintahkan ummatnya untuk benar-benar mencuci bekas kencing tanpa pernah menyelidiki tentang mycosis atau folliculitis misalnya
Seorang yang mengajarkan tentang etika dan cara makan yang baik tanpa pernah belajar tentang ulcus pepticum umpamanya
Seorang yang tak pernah meneropong dengan mikroskop tentang pengaruh kontaminasi basi-basil penyakit pada air minum sebagai pembawa sebab dari penyakit thypoid fever misalnya
dan yang menfatwakan adab minum tanpa mempelajari pengaruh minuman panas terhadap pharyngitis
Atau tentang kuman-kuman yang hidup sebagai normal flora di hidung dan mulut
Atau tentang zat arang dalam pernafasan
Seorang yang tidak pernah belajar dari seorang dosen tentang pengaruh sinar ultraviolet terhadap proses pengurangan zat-zat kimia
Tentang droplet inflection
Tentang toxin-toxin yang berbahaya pada bangkai
Tentang epidemi dan pademi
Dan tentang lain-lainnya

Idrus Shahab, Sesungguhnya Dialah Muhammad cet. III, (Bandung : Pustaka Hidayah, 2004), hal. 44

Rumah Keluarga Hamba Termulia di Alam Semesta

reruntuhan-rumah-khadijah-dilihat-lebih-dekat

Posisi rumah Sayyidah Khadijah ini lebih rendah dari jalan, sehingga untuk memasukinya seorang mesti menuruni delapan anak tangga. Setelah menapaki tangga, tibalah kita di ruangan besar yang panjangnya sekitar 9 meter dan lebar 3 meter. Dalam ruangan itu terdapat sebuah meja yang digunakan oleh anak-anak untuk membaca Al-Qur’an. Di sebelah kanan meja itu ada sebuah batu kecil dan 2 anak tangga yang memandu kita menuju sebuah lorong sempit dengan lebar sekitar 1,5 meter.

Di lorong itu terdapat 3 buah pintu. Pintu pertama di sebelah kiri menuju ke sebuah kamar kecil berukuran 2,5 meter persegi. Diriwayatkan bahwa tempat ini adalah tempat ibadah Nabi SAW, dan di sinilah ia menerima sebagian wahyu, di sebelah kana kamar ini ada tangga menurun menuju tempat wudhu Nabi SAW.

Pintu kedua berhadapan dengan pintu lorong menuju ke sebuah ruangan yang cukup luas, sekitar 5×3,5 meter, yang menurut riwayat merupakan kamar utama Muhammad dan Khadijah.

Sedangkan pintu ketiga terletak di sebelah kanan menuju sebuah kamar yang cukup panjang, dengan luas sekitar 3,5×7 meter. Di tengah-tengah ruangan itu dibuatkan sebuah tanda persegi empat yang menandakan tempat lahirnya Fatimah Al Zahra. Di pojok sebelah timur ruangan ini tampak tergeletak sebuah batu tumbuk yang menurut riwayat dipergunakan oleh putri Fatimah selama hidupnya.

Di sebelah kiri kamar utama ada sebuah ruangan memanjang hingga ke ujung rumah dengan luas 14×6,5 meter dan terletak lebih tinggi 60 cm dari seluruh bangunan rumah. Kami menduga bahwa ruangan itu dipergunakan oleh Sayyidah Khadijah sebagai gudang penyimpanan barang-barang dagangannya.

Itulah gambaran mengenai rumah Siti Khadijah sebagaimana disebutkan dalam Al-Rihlah Al-Battatuni. Penulis buku itu kemudian berkata, “Jika kita perhatikan secara seksama, rumah ini tampak sederhana. Terdiri dari 4 kamar dan 3 pintu masuk. 1 kamar untuk putri-putrinya, 1 kamar untuk istrinya, 1 kamar untuk beribadah kepada Tuhannya, dan 1 ruang tamu

Dalam kitab Syifa’ Al-Ghiram, Al-Farisi menyampaikan gambaran yang sedikit berbeda mengenai rumah Nabi SAW dan Siti Khadijah. Ia mengatakan, “Rumah Nabi SAW itu, jika kita perhatikan, menyerupai stuktur masjid sekarang, karena bagian utamanya berupa serambi tujuh lorong yang ditopang oleh 8 tiang. Di tengah ruang utama terdapat 3 mihrab. Serambi lainnya terdapat terdapat di bagian depan yang terdiri atas 4 lorong ditopang oleh 5 buang tiang dan di antara dua serambi ini ada sebuah ruang panjang. Serambi kedua lebih rendah dibanding serambi pertama, karena di dekatnya ada beberapa tempat yang menjadi tujuan ziarah orang-orang, yaitu :

Tempat dilahirkannya Sayyidah Fatimah ra, ruangan wahyu, yang bersebelahan dengan ruang Fatimah, dan ruang ketiga yang, menurut Al-Mukhtaba, luasnya 3,5×3 meter. Sedangkan ukuran kamar tempat turunnya wahyu adalah sekitar 5×3,5 meter. Dan luas ruangan tempat dilahirkannya Fatimah adalah sekitar3x2 meter. Di tengah-tengah ruangan ada sebentuk kolam kecil dengan sebuah batu hitam di tengah-tengahya. Diriwayatkan bahwa di sanalah tepatnya Sayyidah Fatimah dilahirkan. Sedangkan serambi yang terletak di depan rumah panjangnya sekitar 21×4 meter dengan jarak antara dua tiangnya sekitar meter. Dan luas serambi yang bersebelahan dengan ruang wahyu adalah sekitar 13×6 meter.

Muhammad Abduh Yamani, Innaha Fathimah Al-Zahra : Hanya Fatimah Bunga nan Jadi Bunda Ayahnya terj. Dedi Slamet Riyadi, (Depok: Penerbit Pustaka Iiman, 2007), h

Previous Older Entries

%d blogger menyukai ini: