Tulisan pada Batu Pondasi Ka’bah

Pada batu yang menjadi pondasi bangunan Ka’bah yang telah diletakkan Nabi Ibrahim telah ditemukan sebuah batu bertuliskan bahasa Suryani. Kejadian ini terjadi saat renovasi Ka’bah untuk pertama kalinya sedangkan usia Nabi Muhammad SAW saat itu sekitar 35 tahun

2241930469_0bdc91b249_m

“Aku adalah Allah sang pemilik Bakkah, Aku membangunnya ketika kuciptakan langit, bumi, matahari dan bulan. Aku mengelilinginya dengan tujuh malaikat yang setia. Malaikat-malaikat itu akan selalu begitu hingga gunung-gunung yang mengitarinya runtuh. Dan Aku berikan keberkahan bagi ahli Bakkah di dalam air dan susu”

Team Sejarah 2010, ATSAR, Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW -Lentera Kehidupan – Untuk Mengenal Pendidik Sejati Manusia, Kediri : Pustaka Gerbang Lama, 2012, hal. 95

Iklan

Kelahiran Baru dan Renovasi

makkah

Kegembiraan dan suka cita mengambang di atas Makkah ketika putri Khadijah dan Muhammad lahir ke dunia. Fatimah Al-Zahra, bunga Quraisy yang semerbak wanginya, lahir pada Jum’at 20 Jumadil Akhir, ketika bangsa Quraisy tengah membangun Ka’bah. Lima tahun sebelum Muhammad ditahbiskan sebagai Nabi.
Sukacita itu berbarengan dengan kebahagiaan suku Quraisy yang diselematkan dari perang saudara berkat kebijaksanaan dan kecerdikan Muhammad. Mereka terlepas dari pertumpahan darah dan perseteruan antar saudara. Momen mulia ini diabadikan oleh seorang penyair Quraisy bernama Hubairah ibn Abi Wahab Al-Makhzumi, yang mengatakan bahwa syairnya itu dilantunkan berkali-kali oleh penduduk Quraisy:

Benih-benih permusuhan mulai ditanamkan
Jentik-jentik api kebencian mulai dinyalakan
Kobarannya semakin besar, mereah, membara
Ketika suasana semakin panas tak tertahankan
Kami sepakat mengangkat seorang pemutus perkara
Yaitu siapa saja yang pertama memasuki rumah tua

Lalu kami melihatnya berjalan dengan langkah tegap
Seketika kami berteriak gembira, kami rela dia jadi penetap
Kami suka, kami ridha, sebab dia Muhammad yang terpercaya

Lalu ia sampaikan ketetapn yang tak pernah terpikirkan sebelumnya
Ia bentangkan selembar sorban, setiap pemimpin memegang ujungnya
Kemudian bersama-sama kami mengangkat batu mulia itu ke tempatnya
Dan, dengan tangannya yang mulia, ia letakkan ke tempat asalnya

Kami suka, kami rela dan bahagia
Kami puja, kami kagumi kebijakannya
Sepanjang masa

Seandainya penyair itu tahu bahwa Fatimah Al-Zahra lahir pada hari itu, pasti ia akan sebutkan namanya dalam rangkaian bait-bait indahnya. Pasti ia akan nyanyikan bahwa Fatimah adalah pembawa kebahagiaan dan berkah yang meliputi Makkah

Muhammad Abduh Yamani, Innaha Fathimah Al-Zahra : Hanya Fatimah Bunga nan Jadi Bunda Ayahnya terj. Dedi Slamet Riyadi, (Depok: Penerbit Pustaka Iiman, 2007), hal. 3-5

Nadzar dan Harta Karun

harta

Dengan tegas beliau menjelaskan bahwa semua ini dilakukan untuk menemukan sumus Zamzam. Bukan karena ketidak hormatannya terhadap tempat suci mereka. Alasan itu tetap tidak bisa mereka terima. Percekcokan semakin memanas, ‘Abdul Munthallib bersikeras untuk meneruskan sementara masyarakatnya tidak satu pun yang berpihak kepadanya. Hari itu beliau benar-benar merasa miskin dengan hanya mempunyai satu putra. Berkelebatlah berbagai bayangan seandainya mempunyai lebih dari satu anak. Tentu anak-anaknya akan selalu siap berbidri di belakangnya untuk mendukung sang ayah.(1)

Akhirnya untuk meredam suasana, beliau mengucapkan sebuah nadzar. Janji khusus untuk mengorbankan salah satu putranya jika mempunyai anak laki-laki lebih dari sepuluh. Dengan nadzar ini sebenarnya beliau ingin menegaskan pada kaumnya bahwa apa yang dilakukannya demi keperluan mereka juga. Selain itu nadzarnya adalah bukti keseriusan beliau kalau penggalian tempat itu bukan untuk melecehkan  tempat suci tersebut. Seolah beliau berkata pada mereka,

“Di tempat ini kalian hanya menyembelih hewan kurban untuk tuhan Ka’bah. Sekarang lihatlah, aku akan mengorbankan lebih dari semua di sini . aku akan mengorbankan darah dagingku sendiri”.

Semua orang tercengang, kesadaran mereka tersentak dengan nadzar tersebut. ‘Abdul Munthallib seakan-akan membangkitkan kembali cerita leluhur mereka, Nabi Ibrahim As. Nadzar beliau tak ubahnya janji yang pernah diucapkan Nabi Ibrahim atas Nabi Ismail. Melihat begitu teguhnya keinginan ‘Abdul Munthallib, perlahan-lahan mereka mundur. Membiarkan anak-beranak itu meneruskan penggalian. Sampai sejauh itu, tidak ada yang berani bertindak lebih jauh. Tanpa diberi aba-aba, mereka diam, membiarkan ‘Abdul Munthallib dan al-Haris meneruskan penggalian. Kini mereka berdua bisa menggali dengan sepenuh hati. Bapak anak ini tak peduli dengan berpuluh-puluh pasang mata yang terus mengawasi pekerjaan miterius tersebut.

Di tengah-tengah penggalian, tanpa terduga ‘Abdul Munthallib menemukan harta karun yang di timbun kabilah Jurhum di dalam sumur Zamzam. Saat itulah semua yang hadir merasa mempunyai hak atas harta tersebut. Kericuhan mulai terjadi, setiap orang telah menjelma menjadi bidak-bidak catur yang dipermainkan nafsu.

Mereka langsung menyatakan keinginannya kepada ‘Abdul Munthallib untuk ambil bagian dari harta itu. Menanggapi hal tersebut, dengan bijak kakek Rasulullah yang bernama asli Syaibah itu segera mengambil keputusan. Beliau memutuskan bahwa harta kekayaan kabilah Jurhum berupa patung emas dan berbagai peralatan perang tersebut akan diundi. Enam buah bejana dipersiapkan. Dua bejana kuning untuk Ka’bah, dua bejana warna hitam untuk ‘Abdul Munthallib dan dua buah lainnya yang berwarna putih untuk orang-orang Quraisy. Setelah diundi, ternyata dua bejana kunign mengarah pada patung emas. Sehingga keduanya menjadi bagian Ka’bah. Dua bejana hitam mengarah pada dua jenis alat perang sehingga semua peralatan perang berhak menjadi milik ‘Abdul Munthallib. Ketika itu orang Quraisy tidak mendapatkan bagian sebab dua bejana warna putih jatuh pada undian terakhir. Sesuai dengan aturan, bejana yang terakhir keluar tidak mendapat bagian.

Team Sejarah 2010, ATSAR, Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW – Lentera Kehidupan – Untuk Mengenal Pendidik Sejati Manusia, Kediri : Pustaka Gerbang Lama, 2012, hlm. 6-8

-1- Abu MuhammadAbd al-Malik Ibn Hisyam, Sirah an-Nabawiyah Ibn Hisyam, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2007, hal. 60

Ketika Sumur Zam-Zam Disembunyikan

3

Tatkala Ka’bah setelah di bangun, tidak lebih Mekkah hanya terdiri dari kabilah-kabilah Amalekit dan Jurhum. Sesudah Ismail dan Ibrahim menetap di sana dengan memasang sendi-sendi rumah itu, barulah Mekkah mengalami perkembangan. Mereka tinggal di sekitar tempat itu, Mekkah pada waktu itu adalah tempat bertemunya para kabilah yang dalam perjalanan ke Yaman, Hira, Syam, dan Najd. Juga berhubungan langsung dengan perdagangan dunia. Kota Mekkah sudah di do’akan oleh nabi Ibrahim dan ditetapkan Allah akan menjadi suatu daerah yang aman sentosa.

Meskipun sudah dikalahkan oleh kaum Amalekit, Mekkah masih di tangan kaum Jurkum sampai pada masa Mudzadz bin ‘Amr ibnu Harits. Pada saat generasi ini perdagangan di kota Mekkah berkembang sangat pesat sekali tetapi mereka lupa bahwa mereka tinggal di tanah yang tandus, yang selalu harus diwaspadai, saat itu air zam-zam menjadi kering dan peringatan Mudzadz kepada masyarakatnya tentang akibat hidup berfoya-foya, tidak membuahkan hasil.

Mudzadz berusaha menggali sumur zam-zam lebih dalam lagi, diambilnya dua pangkal pelana emas dari Ka’bah beserta harta untuk persembahan mereka ke dalam Ka’bah. Di masukkan semua ke dalam dasar sumur itu, sedangkan pasir yang masih di dalamnya dikeluarkan, dengan harapan suatu saat ia akan menemukannya kembali. Ia keluar dengan keturunan Ismail dari Mekkah. Demikian turun menurun sampai kepada Qushayy bin Kilab (kakek dan nenek nabi Muhammad SAW).

Ramzi Abdul Aziz, Sejarah Ringkas : Sang Nabi Muhammad, (Pustaka Harsa : hal. 6-7)

Bakal Sirna

bagian-bagian Ka'bah

Ka’bah, coba lihatlah. Betapa tidak pernah sepi dari orang. Betapa setiap waktu, orang-orang mengelilinginya, tak ubahnya pusaran air. Kata seorang ulama, “Tidaklah tenggelam matahari di ufuk barat, kecuali pasti ada seorang wali abdal yang berthowaf, dan tidaklah terbit fajar kecuali ada seorang wali autad sedanf berthowaf. Nah, jika tidak ada lagi wali autad dan wali abdal yang berthowaf maka itulah awal hilangnya Ka’bah.

Ka’bah memang bakal diangkat dari muka bumi ini, hingga tidak tampak bekasnya sama sekali. Hal ini terjadi jika selam tujuh tahun berturut-turut tidak ada seorang pun yang berhaji kepadanya. Setelah itu, tulisan Al Qur-an dihapuskan dari lembaran-lembarannya. Ketika itu, pagi-pagi orang dibuat kahet mendapati Al Qur-an jadi putih tanpa tulisan sehuruf pun.

Selanjutnya menyusul dihapuskannya Al Qur-an dari hati atau memori orang sehingga tidak ada seorang pun yang mengingat kalimatnya. Orang pun kembali ke syi’ir dan nyanyian-nyanyian serta kabar-kabar kaum jahiliyah. Lalu keluarlah Dajjal, disusul turunnya Nabi Isa as, yang kemudian membunuh Dajjal, sedang kiamat waktu itu tidak ubahnya wanita hamil yang sudah kebelet melahirkan.

Ali bin Abi Tholib menuturkan firman Alloh dalam hadist qudsi, “Jika AKU hendak merobohkan dunia ini, maka AKU akan mengawalinya dengan rumah-Ku (Baitulloh). Jadi, AKU robohkan lebih dulu Rumah-Ku itu, kemudian Aku robohkan dnia ini di atas punig-puingnya”.

Diambil dari kitab Ihya’ Ulumiddin Karya Imam Al Ghozali oleh Hamid Hamdan

Di Padang Mahsyar

padang-pasir-kosong

Ka’bah, betapa mulianya dia. Di hari kiamat nanti Ka’bah termasuh yang ikut dikumpulkan di padang Mahsyar. Dia datang tak ubahnya pengantin yang diarak, diiringi orang-orang yang penah berhaji kepadanya. Sambil bergelantungan pada kelambunya, mereka berjalan mengitarinya sampai Ka’bah dimasukkan ke dalam surga dan orang-orang itu ikut masuk ke dalamnya

Di salah satu sudut Ka’bah, seperti kita ketahui, ada batu hitam atau Hajar Aswad yang mulia. Sabda Rosululloh SAW, “Hajar Aswad itu adalah satu dari batu-batu yaqut surga. Batu ini seperti halnya Ka’bah, juga akan dikumpulkan di padang Mahsyar. Tapi di sana batu ini memiliki dua mata untuk melihat dan lisan untuk bicara. Dengan lisannya itu, dia bersaksi atas setiap orang yang penah menciumnya”.

Inilah batu yang sering dicium oleh Rosululloh. Jika didapatinya tempat sekitar batu itu kosong, beliau pasti akan mendatanginya lalu menciumnya tiga kali. Kadangkala beliau berthowaf sambil menaiki kendaraan lalu meletakkan tongkatnya pada Hajar Aswad dan mencium ujung tongkat itu.

Bukan karena memuja batu itu, kalau kita ikut menciumnya, tapi karena kecintaan kita kepada Alloh dan Rosul-Nya. Amirul Mukminin Umar bin Khottob, ketika mencium Hajar Aswad, berkata kepada batu hitam itu, “Aku tahu, engkau tidak bisa memberi madhorot atau manfaat. Kalau saja aku tidak melihat Rosululloh SAW menciummu, pasti aku tidak akan mengecupmu”.

Setelah itu, Umar meangis menderu-deru lalu menoleh ke belakang. Di sana Ali Karromallohu Wajhah, “Ya Abal Hasan (Hai Bapaknya Hasan), di sinilah air mata (seharusnya) ditumpahkan, dan doa dikabulkan”, katanya kepada Ali.
“Kalau begitu, Ya Amirol Mukminin, dia memberi madhorot dan manfaat?”, sahut Ali
“Kok begitu?”
“Sungguh Alloh ketika mengambil perjanjian kepada bayi-bayi yang hendak dilahirkan, Dia menulis untuk mereka satu perjanjian yang kemudian ditelan oleh batu ini. Nah, batu ini bersaksi bahwa orang mukmin akan menepati perjanjiaan, dan bersaksi bahwa orang kafir akan mengkhianatinya”.

Itulah makna doa yang diucapkan ketika menciumnya, “Allohumma iimaanan bika, wa tashdiiqon bi kitaabika, wa wawafa’an bi ‘ahdika (Ya Alloh, aku beriman kepada-Mu, membenarkan Kitab-Mu, dan menepati perjanjian-Mu)”.

Konon kata para Ulama, berthowaf selama tujuh minggu pahalanya sama dengan umroh, sedang umroh tiga kali sama dengan satu kali haji. Dalam hadist shohih Rosululloh SAW bersabda, “Umroh di bulan Romadhon sama dengan berhaji bersamaku”. (HR. Al Bukhori dan Muslim

Dinukil oleh Hamid Ahmad dari Karya Imam Al Ghozali, Ihya’ Ulumiddin

Betapa Mulia Rumah-MU

liberation

Setiap malam Alloh SWT melihat orang-orang di bumi ini, yang paling dahulu dilihat Alloh adalah orang-orang di Makkah. Di antara orang-orang di Makkah yang paling dahulu dilihat Alloh adalah orang-orang yang ada di Masjidil Haram. Barangsiapa dilihat Alloh sedang berthowaf akan diampuni dosanya, barangsiapa dilihat Alloh sedang sholat diampuni dosanya, barangsiapa dilihat Alloh sedang berdiri menghadap qiblat juga diampuni dosa-dosanya.

Makkah memang mempunyai kedudukan tersendiri karena di kota ini ada Rumah Alloh (Baitulloh), yaitu Ka’bah. Makkah adalah bumi Alloh yang paling mulia di sisi Alloh. Ketika Rosululloh SAW kembali ke Makkah, beliau mencium Ka’bah sambil bersabda, “Sungguh kamu adalah bumi Alloh yang paling baik dan kota Alloh yang paling baik dan kota Alloh yang laong aku sukai. Kalau saja aku tidak dikeluarkan darimu, pasti aku tidak akan keluar.

Beruntunglah para jamaah haji yang mencapai kota nan mulia (Makkah Al Musyarofah) ini karena setipa amal baik di kota ini dilipat-gandakan pahalanya. Menurut Imam Hasan Al Bashri, puasa sehari di Makkah sama dengan puasa 100.000 hari di luar Makkah, dan bersedekah satu dirham di Makkah sama dengan sedekah 100.000 dirham di luar Makkah. Alhasil, setiap kebajikan di Makkah bernilai 100.000 kali lipat di luar Makkah

Diambil dari kitab Ihya’ Ulumiddin Karya Imam Al Ghozali oleh Hamid Hamdan

%d blogger menyukai ini: