Dua Hakekat Hidup

rabbil-alamin

Manusia hidup di dunia ini sebenarnya memiliki dua hakekat. Dua hakekat hidup tersebut sebenarnya juga merupakan janji seorang manusia kepada sang Khalik sebelum manusia dilahirkan ke dunia ini. Dua hakekat hidup itu sendiri juga merupakan perintah Tuhan yang harus dijalankan selama hidup di dunia. Apakah dua hakekat hidup itu?

Masyarakat Jawa mengenal dua hakekat hidup tersebut yaitu tansah eling manembah marang Gusti Allah lan apik marang sak padan-padaning urip. Hakekat hidup yang dikenal oleh masyarakat Jawa tersebut juga dikenal dalam ajaran Islam dengan istilah Hablum Minnallah (selalu menyembah Allah) dan Hablum Minna Nass (berbuat baik pada sesama umat).

Dua hakekat kehidupan tersebut harus senantiasa kita ingat. Pasalnya, jika kita tidak ingat terhadap dua hakekat hidup tersebut, maka kita akan terkena bencana karena ulah kita sendiri. Misalkan, kita tidak berbuat baik terhadap sesama manusia, maka secara langsung maupun tidak langsung, kita tidak akan disenangi manusia lainnya yang ada di sekitar kita. Itu masih masalah hubungan dengan manusia. Nah, kalau hubungan dengan TUhan malah harus lebih baik lagi. Kalau dimusuhi manusia, kita masih bisa berlagak sombong dengan mengatakan tak butuh bantuan dari si fulan yang memusuhi kita, tetapi kalau dimusuhi oleh Gusti Allah, kepada siapa kita berlindung dan meminta pengayoman hidup?

Dua hakekat kehidupan itulah yang harus kita pegang dalam hidup ini. Kalau Anda tidak percaya, silakan Anda mengingkari dua hakekat kehidupan itu dan lihatlah apa yang akan terjadi pada Anda. Oleh karena itu, hayatilah dua hakekat hidup itu sebelum melangkah pada penyembahan Gusti Allah yang maha sempurna. Itu sebagai bukti bahwa kita telah menjalankan apa yang diperintahkan Gusti Allah kang Maha Adil untuk merengkuh CintaNYA.

http://kawruh-kejawen(dot)blogspot(dot)com/2007/12/dua-hakekat-hidup.html

Dimensi Kehidupan

Dimensi

Dalam kehidupan ini, sepertinya hanya terbagi menjadi tiga dimensi saja
1. Baik dan Buruk
2. Benar dan Salah
3. Indah dan Jelek

Contoh Pertama :
Orang yang mau melakukan sholat = BAIK
Orang yang mau sholat dengan memenuhi rukun dan syarat sah sholat = BENAR
Orang yang khusyuk saat sholat = INDAH

Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) berkata, “Terkadang Keindahan itu lebih diutamakan dibanding dengan Kebaikan dan Kebenaran, sedangkan wali songo mengajarkan Keindahan yang baik dan benar!”

#Sambutan Cak Nun saat Harlah NU tahun 2013 di kantor PBNU dalam acara bedah buku Atlas Walisongo

Contoh Kedua :
Orang mau mengaji Al-Qur’an = BAIK
Orang yang mengaji Al Qur’an dengan Tartil Bertajwid = BENAR
Orang yang mengaji Al Qur’an dengan suara dan lagu yang merdu = INDAH

Sayyidina Umar ra awal mendapat Hidayah masuk Islam adalah karena tertarik saat mendengar bacaan Al-Qur’an saudarinya yang terdengar merdu dan syahdu dari dalam rumah, padahal niat awal beliau adalah untuk meminta kejelasan tentang apakah benar kalau saudarinya tersebut masuk Islam dan jikalau benar maka akan dibunuh jika tetap ikut pada Muhammad SAW

Ketika Sumur Zam-Zam Disembunyikan

3

Tatkala Ka’bah setelah di bangun, tidak lebih Mekkah hanya terdiri dari kabilah-kabilah Amalekit dan Jurhum. Sesudah Ismail dan Ibrahim menetap di sana dengan memasang sendi-sendi rumah itu, barulah Mekkah mengalami perkembangan. Mereka tinggal di sekitar tempat itu, Mekkah pada waktu itu adalah tempat bertemunya para kabilah yang dalam perjalanan ke Yaman, Hira, Syam, dan Najd. Juga berhubungan langsung dengan perdagangan dunia. Kota Mekkah sudah di do’akan oleh nabi Ibrahim dan ditetapkan Allah akan menjadi suatu daerah yang aman sentosa.

Meskipun sudah dikalahkan oleh kaum Amalekit, Mekkah masih di tangan kaum Jurkum sampai pada masa Mudzadz bin ‘Amr ibnu Harits. Pada saat generasi ini perdagangan di kota Mekkah berkembang sangat pesat sekali tetapi mereka lupa bahwa mereka tinggal di tanah yang tandus, yang selalu harus diwaspadai, saat itu air zam-zam menjadi kering dan peringatan Mudzadz kepada masyarakatnya tentang akibat hidup berfoya-foya, tidak membuahkan hasil.

Mudzadz berusaha menggali sumur zam-zam lebih dalam lagi, diambilnya dua pangkal pelana emas dari Ka’bah beserta harta untuk persembahan mereka ke dalam Ka’bah. Di masukkan semua ke dalam dasar sumur itu, sedangkan pasir yang masih di dalamnya dikeluarkan, dengan harapan suatu saat ia akan menemukannya kembali. Ia keluar dengan keturunan Ismail dari Mekkah. Demikian turun menurun sampai kepada Qushayy bin Kilab (kakek dan nenek nabi Muhammad SAW).

Ramzi Abdul Aziz, Sejarah Ringkas : Sang Nabi Muhammad, (Pustaka Harsa : hal. 6-7)

%d blogger menyukai ini: