Syair Kerinduan

gerimis

Wahai angin sampaikan salamku pada Layla!
Tanyakan padanya apakah dia masih mau berjumpa denganku?
Apakah ia masih memikirkan diriku?
Bukankah telah kukorbankan kebahagiaanku demi dirinya!
Hingga diri ini terlunta-lunta, sengsara di padang pasir gersang

Wahai kesegaran pagi yang murni dan indah!
Maukah engkau menyampaikan salam rindu pada kekasihku
Belailah rambutnya yang hitam berkilau
Untuk mengungkapkan dahaga cinta yang memenuhi hatiku

Wahai angin, maukah engkau membawakan keharuman rambutnya padaku
Sebagai pelepas rindu
Sampaikan pada gadis yang memikiat hati itu
Betapa pedih rasa hatiku jika tidak bertemu dengannya
Hingga tak kuat lagi aku menanguung beban kehidupan

Aku merangkak melintasi padang pasir
Tubuh berbalut debu dan darah menetes
Air mataku pun telah kering
Karena selalu meratap dan merindukannya

Duhai semilir angin pagi, bisikkan dengan lembut salamku
Sampaikan padanya pesanku ini :

Duhai Layla, bibirmu yang selaksa merah delima
Mengandung madu dan memancarkan keharuman surga
Membahagiakan hati yang memandang
Biarkan seua itu menjadi milikku!

Hatiku telah dikuasai oleh pesona jiwamu
Kecantikanmu menusuk hatiku laksana anak panah
Hingga sayap yang sudah pata ini tidak mungkin dapat terbang

Berbagai bunga warna-warni menjadi layu dan mati
Karena cembutu pada kecantikan parasmu yang bersinar
Engkau laksana dewi dalam gelimang cahaya
Surgapun akan tertarik untuk mencuri segala keindahan yang engkau miliki
Karena engkau terlalu indah dan terlalu berharga untuk tinggal di bumi!

Duhai Layla, dirimu selalu dalam pandangan
Siang selalu kupikirkan dan malam selalu menghiasi mimpi
Hanya untukmu seorang jiwaku rela menahan kesedihan dan kehancuran

Jeritanku menembus cakrawala
Memanggil namamu sebagai pengobat jiwa, penawar kalbu
Tahukah, engkau, tahi lalai di dagumu itu seperti sihir yang tidak bisa aku hindari
Ia menjadi sumber kebahagiaan yang telah memikatku untuk selalu mengenangmu
Membuat insan yang lemah ini tidak lagi mempunyai jiwa
Karena jiwaku telah tergadaikan oleh pesonamu yang memabukkan
Jiwaku telah terbeli oleh gairah dan kebahagiaan cinta yang engkau berikan

Dan demi rasa cintaku yang mendalam
Aku rela berada di puncak gunung salju yang dingin seorang diri
Berteman lapar, menahan dahaga
Wahai kekasihku, hidupku uang tidak berharga ini suatu saat akan lenyap
Tetapi biarkan pesonamu tetap abadi selamanya di hatiku

Nizami Ganjavi, Layla Majunun, diterjemahkan oleh Ust. Salim Bazmul, (Yogyakarta : Navila, 2010), hal. 27- 30

Apakah Serasi Mesti Selalu Sama

serasi

Langit dan bumi tak pernah serasi
Namun mereka serasa, sejanji
Mereka saling menaungi, saling melindungi

Beginilah seharusnya
Ini bukan perkara serasi, namun serasa
Sebab cinta bukanlah cerita, namun penyembuh luka

(Nurul Maria Sisilia)

“Engkau pernah jatuh cinta?”

“Itu adalah anugerah tertinggi dari Tuhan, Laila. Semua orang pasti pernah merasakannya. Dan, aku tahu, anugerah itu tengah engkau kecap”
“Siapa yang telah membuatmu jatuh cinta, Laila?”

“Mungkin kau tahu lebih dari yang aku tahu, bahwa aku sudah tertakdir seperti ini. Harta dan kemewahan ini seolah ditimpakan Tuhan begitu saja. Segala kemewahan sudah ada dalam genggamanku, bahkan mungkin ketika tanganku belum sanggup menggenggam apa pun”
“Lalu bagaimana menurutmu jika aku jatuh cinta kepada seorang papa?”
“Apakah orang-orang tidak akan menertawakanku? Apakah kekasihku takkan malu dengan status sosial yang kumiliki? Kenapa Tuhan tak jadikan aku tak berpunya saja?”

“Lalu, kalau kau papa, apakah engkau akan jatuh cinta dengan lelaki itu? Atau, setidaknya engkau akan memiliki keberanian untuk sekedar jatuh cinta?”

“Setidaknya, kalau aku papa dan pujaan hatiku papa, tidak lagi ada sekat. Bukankah jika demikian, kami betul-betul serasi?

“Serasi? Apakah serasi mesti selalu sama, Laila?”

“Bukankah jika demikian, tidak ada lagi keraguan di antara kami! Buankah orang-orang tidak akan menyibukkan diri menggunjingkan kami!”

“Sejak kapan cinta menjadi lemah dengan omongan orang-orang, Laila?
“Laila, apakah serasi mesti selalu sama?

“Setidaknya, keserasian yang dilandasi oleh kesamaan akan memudahkan pemahaman satu sama lainnya”

“Laila, aku tahu, engkau tidak kurang suatu apa. Berlimpah dengan kilau harta. Itu tidak bisa disangkal lagi, bahwa Tuhan telah menakdirkan engkau demikian. Tetapi, patut engkau tahu, Laila, bahwa cinta itu tidak bisa memilih”

“Apakah karena itu orang-orang mengatakan kalau cintaitu buta keberadaannya?”

“Ya. Cinta memang buta, Laila!”
“Tetapi, bukan berarti cinta mesti menerabas segalanya, tanpa aturan!”
“Cinta akan buta, Laila, kalau tidak ada perlakuan kepadanya. Cinta tidak akan mampu meraba jika tidak ada yang menuntunnya”

“Maksudmua?”

“Laila, bukankah orang yang buta masih bisa berjalan dengan bantuan tongkat? Atau, bisa berjalan jika ada orang lain yang membimbingnya?”
“Cinta tidak memiliki mata untuk melihat, Laila. Juga tidak memiliki telinga untuk mendengar. Dia juga tidak memiliki rasa untuk menimbang”

“Lalu, apa menurutmu?”

“Cinta ibarat jasad yang tidak memiliki indera. Dia hanya berdenyut dan bernafas. Cinta akan melihat, mendengar, dan merasa kalau di sana ada saling percaya, saling memperhatikan, dan kesediaan menerima apa adanya”

“Jadi?”

“Perbuatan, Laila. Cinta adalah perbuatan, bukan semata perkataan”
“Mencintai adalah sebuah keputusan, Laila. Mencintai berarti pilihan untuk memutuskan memerhatikan, memutuskan untuk menyayangi, dan memutuskan untuk melakukan serangkaian perbuatan. Mencintai adalah sebuah kerja besar, Laila. Dan, kerja besar tidak cukup dengan kata”

“Lalu, apa maksud konsep keserasian yang engkau katakan tadi?”

“Serasi tidak mesti harus sama!”

“Ya. Apa maksudmu dengan hal itu? Aku tidak mengerti!”

“Sejarah mencatat bahwa yang senantiasa disandingkan tidak dari unsur yang sama, Laila. Selalu berlawanan. Langit selalu disandingkan dengan bumi. Malam selalu disandingkna dengan siang. Semua berlawanan. Tetapi, semuanya telah dijodohkan jaman. Mereka berpasangan!”

“Apa menurutmu, termasuk kaya dan miskin?”
“Lalu, apa perekatnya? Apa yang menyebabkan ketidaksamaan ini berubah menjadi serasi?

“Laila, barangkali aktor-aktor alam itu memang tidak serasi. Karena berbeda adanya mereka. Meski demikian, mereka serasa, Laila. Tidak penting serasi atau tidak, terpenting adalah serasa. Langit dan bumi tidak serasi, tetapi mereka serasa. Mereka memiliki rasa yang sama. Rasa ingin menaungi dan rasa ingin dinaungi. Begitu juga dengan siang dan malam. Mereka tidak serasi. Siang hanya punya panas yang menyengat, sedangkan malam memiliki gemintang dan gulita yang misterius. Tetapi, mereka serasa. Mereka memiliki rasa yang sama untuk secara bergiliran menampilkan diri pada waktu yang telah ditetapkan kepada mereka. Mereka saling menopang, saling menguatkan, saling mendukung. Mereka berbuat atas rasa yang sama sehingga keserasaan mereka telah menjadikan mereka berada dalam kesetasian”

“Apakah pada akhirnya akan melahirkan keharmonisan?”

“Itulah tujaun akhir cinta, Laila. Menciptakan keharmonisan dan kesetimbangan. Semua menuju pada apa yang diinginkan Tuhan. Kedamaian”
“Tidak disebut cinta, Laila, jika itu tidak menguatkan. Bukan cinta namanya jika semua terasa menyakitkan. Cinta itu menyembuhkan. Cinta itu ….”

Fatih Zam, Khadijah : Mahadaya Cinta, (Solo : Pustaka Tiga Serangkai, 2011), Hal. 77-88

One For All or All For One

all-for-one-and-one-for-all_t

Bagaimana engkau bisa mengatakan menyayangi semuanya
Jika engkau tidak bisa menyayasungi sesuatu
Namun bagaimana juga engkau bisa mengatakan menyayangi sesuatu
Kalau tidak bisa menyayangi semuanya
“One for All and All for One”

Ketika engkau yakin sayang akan sesuatu
Maka sudah seharusnya dirimu sayang
Dengan semua yang ada pada sesuatu tersebut
Meski semua itu sulit untuk dipahami

Ketika engkau bisa sayang semuanya
Berarti engkau benar-benar sayang sesuatu
Karena rasa sayang akan semuanya
Berawal dari rasa sayang akan sesuatu

Kita tidak bisa sayang pada seseorang
Hanya karena salah satu faktor yang ada padanya
Karena hal itu akan terkesan aneh
Sehingga sayang kita karena semua yang ada pada dirinya

Semua yang ada pada diri tercinta
Menjadi alasan kita mencitainya
Namun ketika hal itu ada pada diri orang lain
Kita tidak salah jika mencintai yang lain

Namun ketika diri tercinta tidak berbalas
Tidak perlu kecewa
Karena cinta ada pada diri sendiri
Bukan pada berbalas atau tidak

Aku Mencintaimu ….
Sudah cukup
Aku tidak butuh yang lain
One for All to make All for One

Irsyah, 927-20100214:99(1-2)

API

Api terbagi menjadi empat :
1. Api yang berwarna hitam dan membakar = Api Neraka
2. Api yang berwarna tapi tidak membakar = Api yang membakar Nabi Ibrahim as
3. Api yang berwarna dan membakar = Api yang ada di dunia
4. Api yang tidak berwarna tapi membakar dan memabara = Api Cinta, Api Dendam, Api Cemburu, dll

Puisi Do’a Pengantin

Ya Allah …
Tidak aku pinta dia untuk sempurna
Tapi jadikan kami sempurna
Untuk saling mengisi kekurangan kami

Ya Allah …
Tidak aku pinta dia datang dengan kesombongan
Atas apa yang diraihnya
Tapi datangkanlah dia dengan ketulusan cinta karena-MU
Agar aku dapat kebaikan dunia, agama dan akhiratku
Berdua bersamanya …

Amin Ya Robbal ‘Alamin ….

Ketika ….

Indah rasanya ketika hati ini tersentuh perasaan cinta
Betapa nyamannya ketika kita berada di dekatnya
Terlebih kita terbuai hanyut dalam alunan cinta
Bersatu ….
Sedapat mungkin menciptakan rasa keinginan
Untuk saling memiliki

%d blogger menyukai ini: