Toleransi Ora Po-Po

images

Ketika kita berbeda bukan berarti kita salah
Di saat kita tak sejalan bukan berarti kita tersesat
Karena apa yang kita pahami berbeda
Karena apa yang kita pandang berbeda

Aku begini karena ini yang aku pahami
Kamu begitu karena itu yang kamu tahu
Kalian gimana karena itu yang kalian terima
Kita adalah apa yang kita yakini

Jangan terlalu mudah menuduh salah
Karena belum tentu kita benar
Karena kita tidak tahu sebenarnya
Yang ada adalah berusaha sebisanya

Yang pakai usholli bukan berarti lebih benar
Dari yang tidak pakai, Begitu juga sebaliknya
Yang pakai qunut bukan berarti lebih diterima
Dari yang tidak pakai, begitu juga sebaliknya

Kita hidup di dunia bhineka tunggal ika
Kita berbeda karena untuk bersama
Kita bersatu karena kita tidak sama
Maka mari berjalan bersama-sama

Irsyah, 8 Juli 2015

Kenangan Terakhir Bersama Bunyai saat Umroh 1435 H

maqam-ibrahim-kabah

Ramadhan 1435 H, tepatnya pada tanggal 17, Ibu nyai Syarofah binti Hasan atau yang lebih kita kenal dengan nama Bunyai Musyarofah Mufid menunaikan ibadah Umroh ke tanah suci didampingi salah satu putra beliau, Gus Abdul Muhaimin.

Sesampainya di sana, maka semua rangkaian ibadah dilaksanakan seperti pada umumnya. Akan tetapi, entah mengapa bunyai terus menyampaikan keinginannya kepada gus Muhaimin agar dibawa mendekat ke Ka’bah Rumah Allah SWT
“Boten saget BU!!!, teng ngandap penuh?!”, jawab gus Muhaimin
Karena memang kenyataannya demikian, ketika bulan Ramadhan maka jama’ah yang datang untuk Umroh tidak kalah banyak dengan ketika datang musim Haji. Bahkan waktu itu, bunyai hanya bisa didorong di kursi roda oleh Gus Imin di bangunan baru tempat thawaf khusus

Pada akhirnya , gus Imin selalu mencari inisiatif (atas kehendak Allah) mencari celah agar Bunyai bisa mendekat ke Ka’bah. Kesempatan itu datang setelah Idul Fitri tiba, waktu itu gus Imin mencoba melihat kondisi di sekitar Ka’bah. Alhamdulillah keadaan di sekitar Ka’bah lengang. Secepatnya gus Imin mengajak bunyai dan mendorong kursi roda beliau mendekat ke Ka’bah. Persisnya di belakang maqom Ibrahim.
Namun anehnya Bunyai tidak beraksi sama sekali, beliau hanya memandang Ka’bah tanpa menangis dan tanpa memanjatkan do’a. Padahal pada lumrahnya, siapa pun yang mendekati Ka’bah pasti akan terharu karena rindu dan cinta atau paling tidak mengadahkan tangan dan memanjatkan do’a agar secepatnya bisa kembali ziarah ke Baitullah Makkah Al Mukaromah. Saat itu gus Imin hanya duduk bersila di bawah kursi roda Bunyai.

Tidak lama kemudian, datang seseorang yang tidak bisa dibilang muda lagi, karena sudah terlihat renta. Beliau mendatangi bunyai dan menyapa. Sesaat terjadi dialog antara orang tersebut dengan gus Muhaimin yang kurang sedikit banyak mengerti dan mampu berbahasa Arab, karena beliau lama belajar di pondok pesantren Modern Gontor.

Tidak lama kemudian, orang tersebut berdo’a dan Bunyai ikut mengamini dan mengadahkan tangan, yang mana sebelumnya Bunyai tidak berdo’a sama sekali. Usut punya usut, ternyata orang tersebut adalah Imam Besar Masjidil Haram yang menjadi Imma Jama’ah setiap Shalat Subuh.
Allahu Karim, sungguh perpisahan yang indah sekali. Umroh terakhir yang penuh dengan kata Subhanallah

Hal ini sebagaimana yang telah diceritakan gus Muhaimin kepada sebagian alumni As-Syafi’iyah di depan Ndalem sesaat setelah Tahlil Bersama Alumni di Musholla Pondok. Tepatnya pada hari Kamis, 30 April 2015 Pukul 09.30 WIB

%d blogger menyukai ini: