Jika Seharusnya

pendidikan-sikrus-1

Jika pendidikan formal akan dibuat full day
Apa tidak seharusnya pendidikan di pesantren dilegalkan

Jika ada kemungkinan bahasa daerah akan semakin banyak yang hilang
Apa tidak seharusnya pembelajaran di sekolah menggunakan Dahasa Daerah sebagai dominannya bukan Bahasa Indonesia atau malahan Bahasa Asing

Jika banyak lulusan sekolah yang menjadi beban negara karena pengangguran
Apa tidak seharunsya pendidikan di sekolah lebih megarah kepada kreatifitas dibanding intelektualitas

Jika hasil pembelajaran lebih berhasil ketika dilaksanakan di lembaga bimbingan
Apa tidak seharusnya pembelajaran di sekolah dikurangai

Jika materi Matematika atau Bahasa Inggris bisa ditempuh dalam jangka waktu yang cepat
Apa tidak seharusnya mapel tersebut ditiadakan di sekolah

Jika pendidikan sekolah lebih mengarah kepada karakter
Apa tidak seharusnya anak lebih sering terlibat dalam setiap kegiatan masyarakat sekitar

Jika memang ini semua hanya pemikiran konyol semata
Apa tidak seharusnya diabaikan saja apa yang tertulis di atas

Irsyah, 04102016-1317

Santri Dulu dan Sekarang

dulu

Bedane santri jaman biyen karo Santri jaman saiki :
1. Jaman biyen Kitabe penuh se lemari nganti gak ana tempate,
jaman saiki cukup copy Maktabahtsamilah
2. Jaman biyen sima’an Quran halaqoh kuat,
jaman saiki cukup MP3 plus hand set
3. Jaman Biyen Bahtsul masail kabeh kitab di gawa,
Jaman saiki cukup buka Google
4. Jaman biyen tangi wengi tadarusan-tiqroran,
Jaman saiki tangi wengi facebookan
5. Jaman biyen Gendakan/ Pacaran wedi kualat karo guru ketok langsung dita’zir,
Jaman saiki Gendakan / Pacaran gak ketok neng guru bisa lewat Facebook, tur hp ya bisa dan keamanan terjamin dan langsung menghasilkan
6. Jaman biyen kuat riyadhohe melek mbengi maca kitab maca quran,
jaman saiki kuat melek mbengi nonton chelsea karo real madrid
7. Jaman biyen bil ghoibilquran lebih dari 10 bulan,
jaman saiki cukup 10 hari bisa apal lagu OPLOSAN
8. Jaman biyen nulis piwulang guru,
jaman saiki nulis update status ” cemungut lha yao….”
9. Jaman biyen ningali pasuryane guru ndingkluk,
jaman saiki nantang guru
10 Jaman biyen cuma dikasih doa dan air putih penyakit sembuh,
jaman saiki kudu opname- operasi-minum kapsul.
11. Jaman biyen doane mustajab,
jaman saiki duwite sing mustajab sing podo kuwe, nganggo sarung gak nganggo katok ha ha ha

https://www.faceb**k.com/groups/assyafiiyah/permalink/666931020034887/

Rumah Keluarga Hamba Termulia di Alam Semesta

reruntuhan-rumah-khadijah-dilihat-lebih-dekat

Posisi rumah Sayyidah Khadijah ini lebih rendah dari jalan, sehingga untuk memasukinya seorang mesti menuruni delapan anak tangga. Setelah menapaki tangga, tibalah kita di ruangan besar yang panjangnya sekitar 9 meter dan lebar 3 meter. Dalam ruangan itu terdapat sebuah meja yang digunakan oleh anak-anak untuk membaca Al-Qur’an. Di sebelah kanan meja itu ada sebuah batu kecil dan 2 anak tangga yang memandu kita menuju sebuah lorong sempit dengan lebar sekitar 1,5 meter.

Di lorong itu terdapat 3 buah pintu. Pintu pertama di sebelah kiri menuju ke sebuah kamar kecil berukuran 2,5 meter persegi. Diriwayatkan bahwa tempat ini adalah tempat ibadah Nabi SAW, dan di sinilah ia menerima sebagian wahyu, di sebelah kana kamar ini ada tangga menurun menuju tempat wudhu Nabi SAW.

Pintu kedua berhadapan dengan pintu lorong menuju ke sebuah ruangan yang cukup luas, sekitar 5×3,5 meter, yang menurut riwayat merupakan kamar utama Muhammad dan Khadijah.

Sedangkan pintu ketiga terletak di sebelah kanan menuju sebuah kamar yang cukup panjang, dengan luas sekitar 3,5×7 meter. Di tengah-tengah ruangan itu dibuatkan sebuah tanda persegi empat yang menandakan tempat lahirnya Fatimah Al Zahra. Di pojok sebelah timur ruangan ini tampak tergeletak sebuah batu tumbuk yang menurut riwayat dipergunakan oleh putri Fatimah selama hidupnya.

Di sebelah kiri kamar utama ada sebuah ruangan memanjang hingga ke ujung rumah dengan luas 14×6,5 meter dan terletak lebih tinggi 60 cm dari seluruh bangunan rumah. Kami menduga bahwa ruangan itu dipergunakan oleh Sayyidah Khadijah sebagai gudang penyimpanan barang-barang dagangannya.

Itulah gambaran mengenai rumah Siti Khadijah sebagaimana disebutkan dalam Al-Rihlah Al-Battatuni. Penulis buku itu kemudian berkata, “Jika kita perhatikan secara seksama, rumah ini tampak sederhana. Terdiri dari 4 kamar dan 3 pintu masuk. 1 kamar untuk putri-putrinya, 1 kamar untuk istrinya, 1 kamar untuk beribadah kepada Tuhannya, dan 1 ruang tamu

Dalam kitab Syifa’ Al-Ghiram, Al-Farisi menyampaikan gambaran yang sedikit berbeda mengenai rumah Nabi SAW dan Siti Khadijah. Ia mengatakan, “Rumah Nabi SAW itu, jika kita perhatikan, menyerupai stuktur masjid sekarang, karena bagian utamanya berupa serambi tujuh lorong yang ditopang oleh 8 tiang. Di tengah ruang utama terdapat 3 mihrab. Serambi lainnya terdapat terdapat di bagian depan yang terdiri atas 4 lorong ditopang oleh 5 buang tiang dan di antara dua serambi ini ada sebuah ruang panjang. Serambi kedua lebih rendah dibanding serambi pertama, karena di dekatnya ada beberapa tempat yang menjadi tujuan ziarah orang-orang, yaitu :

Tempat dilahirkannya Sayyidah Fatimah ra, ruangan wahyu, yang bersebelahan dengan ruang Fatimah, dan ruang ketiga yang, menurut Al-Mukhtaba, luasnya 3,5×3 meter. Sedangkan ukuran kamar tempat turunnya wahyu adalah sekitar 5×3,5 meter. Dan luas ruangan tempat dilahirkannya Fatimah adalah sekitar3x2 meter. Di tengah-tengah ruangan ada sebentuk kolam kecil dengan sebuah batu hitam di tengah-tengahya. Diriwayatkan bahwa di sanalah tepatnya Sayyidah Fatimah dilahirkan. Sedangkan serambi yang terletak di depan rumah panjangnya sekitar 21×4 meter dengan jarak antara dua tiangnya sekitar meter. Dan luas serambi yang bersebelahan dengan ruang wahyu adalah sekitar 13×6 meter.

Muhammad Abduh Yamani, Innaha Fathimah Al-Zahra : Hanya Fatimah Bunga nan Jadi Bunda Ayahnya terj. Dedi Slamet Riyadi, (Depok: Penerbit Pustaka Iiman, 2007), h

Semakin Terpesonanya Khadijah binti Kuwaylid

rasul-saw

Tidak lama setelah kedatangan Maysarah, datanglah Muhammad bin Abdullah. Khadijah menyambut lelaki itu di depan pintu rumahnya yang besar dan tinggi. Dengan ramah, dia mengucapkan selamt datang kembali di Mekkah. Senyum manisnya terkulum, menambah mulia pahatan Tuhan pada wajah yang mempesona. Kedua matanya lalu menumbuk dua bola mata bening dan tak berdasar milik Muhammad bin Abdullah. Namun, Khadijah menyalahtingkahi ulahnya kala mata Muhammad bin Abdullah dengan kilat menumbuk objek lain. Segera saja Khadijah memulas sikap tak menentunya dengan menyilakan Muhammad bin Abdullah masuk.

Muhammad bin Abdullah memasuki rumah Khadijah yang megah dan besar. Sungguh, langkah Muhammad bin Abdullah dilihatnya sebagai langkah kemuliaan. Badan lelaki itu condong ke depan ketika melangkah, seperti sedang menuruni turunan saja. Tidak ada kesa membusungkan dada.

Khadijah mengatur posisi hatinya yang sedang tidak pada tempatnya. Ada pusaran yang membetot hatinya. Ada gelora yang tidak bisa dia lawan akhir-akhir ini. Bahkan, perjalanan ke tempat pertemuan pun terasa lama dan jauh sekali.

Khadijah menyilangkan Muhammad bin Abdullah untuk duduk. Khadijah telah siap menyimak cerita, pengalaman selama di perjalanan, termasuk informasi seputar dunia luar Mekah.

Muhammad bin Abdullah mengangguk kepala, sebagai tanda terima kasihnya karena telah diberikan kepercayaan. Anggukan itu sudah cukup menjadi pesona bagi Khadijah. Dia pun membalas anggukan itu, memberikan kode agar lelaki mulia ini bercerita tentang pengalamannya selama berniaga. Cerita yang tidak didapatnya dari Maysarah, yang malah memuji-muji kepribadiaannya.

Tidak lagi ada waktu yang terbuang. Muhammad bin Abdullah langsung menceritakan pengalamannya selama berdagang. Tetapi sebelum bercerita, keterpesonaan Khadijah sudah naik tingkat, naik derajat. Adalah Muhammad bin Abdullah, memberinya dengan beragam oleh-oleh dari perjalanan. Sepanjang Khadijah menjalankan roda perdagangan dan mempercayakan barang-barangnya kepada para agen pilihan, dan memperkerjakan agen-agennya, baru kali ini dia diperlakukan sedemikian istimewa. Belum pernah ada seseorang yang memberinya hadiah. Muhammad bin Abdullah adalah lelaki pertama. Satu-satunya.

Khadijah lupa, kalau Muhammad bin Abdullah tengah bercerita. Cerita tentang pengalaman pertamanya dalam berdagang. Khadijah sudah menyerah dan pasrah dengan keterpesonaan. Dua bola mata tidak lepas dari wajah Muhammad bin Abdullah. Dari bibir Muhammad bin Abdullah, Khadijah seolah melihat permata berhamburan. Kata-katanya berpulas kejujuran. Belum lagi raut wajah senantiasa bersinaran. Bak rembulan.

Khadijah tersentak kala Muhammad bin Abdullah terdiam cukup lama, sebagai tanda berakhirnya cerita. Khadijah mengemasi diri, menyimpan rasa bersalah, atas sikapnya barusan. Ditatanya kembali hati, pun sikapnya.Tanpa banyak bicara, Khadijah langsung memberikan bagian keuntungan seperti yang telah dijanjikan. Muhammad bin Abdullah mengambil haknya. Dia lalu berpamitan kepada Khadijah, perempuan yang telah memberinya pengalaman ini.

Khadijah jarang melihat hal yang remeh-remeh. Namun kali ini, dia merasa harus melakukannya. Beranjaknya Muhammad bin Abdullah direkamnya dengan pasti. Bahkan, Khadijah turut mengantarkannya hingga ke pintu rumah megahnya. Diikuti terus langkah Muhammad bin Abdullah hingga senyap tubuh itu diserap tikungan jalan. Khadijah bahkan tidak sadar telah berucap lirih. Ucap yang bahkan tidak terdengar oleh telinganya sendiri. Gumam itu begitu sejuk, “Selamat Jalan”.

Fatih Zam, Khadijah : Mahadaya Cinta, (Solo : Pustaka Tiga Serangkai, 2011), hal. 73-76

One For All or All For One

all-for-one-and-one-for-all_t

Bagaimana engkau bisa mengatakan menyayangi semuanya
Jika engkau tidak bisa menyayasungi sesuatu
Namun bagaimana juga engkau bisa mengatakan menyayangi sesuatu
Kalau tidak bisa menyayangi semuanya
“One for All and All for One”

Ketika engkau yakin sayang akan sesuatu
Maka sudah seharusnya dirimu sayang
Dengan semua yang ada pada sesuatu tersebut
Meski semua itu sulit untuk dipahami

Ketika engkau bisa sayang semuanya
Berarti engkau benar-benar sayang sesuatu
Karena rasa sayang akan semuanya
Berawal dari rasa sayang akan sesuatu

Kita tidak bisa sayang pada seseorang
Hanya karena salah satu faktor yang ada padanya
Karena hal itu akan terkesan aneh
Sehingga sayang kita karena semua yang ada pada dirinya

Semua yang ada pada diri tercinta
Menjadi alasan kita mencitainya
Namun ketika hal itu ada pada diri orang lain
Kita tidak salah jika mencintai yang lain

Namun ketika diri tercinta tidak berbalas
Tidak perlu kecewa
Karena cinta ada pada diri sendiri
Bukan pada berbalas atau tidak

Aku Mencintaimu ….
Sudah cukup
Aku tidak butuh yang lain
One for All to make All for One

Irsyah, 927-20100214:99(1-2)

Khadijah, Bidadari Tak Bersayap

bidadari-bermata-bening3

Dengan harta waisan itu, Khadijah membangun kerajaan bisnis. Rupanya, yang mewaris ke dalam dirinya bukan hanya harta mendiang ayahnya, melainkan juga kemampuan sang ayah. Bakat bisnis Khuwaylid merasuk ke dalam diri Khadijah. Kecerdasan dan kekuatan Khadijah telah menyetirnya pada kekayaan yang lebih besar ketimbang kekayaan yang diwariskan sang ayah. Kekayaan itu adalah jaringan bisnis milik sang ayah. Maka, sepeninggal Khuwaylid, Khadijah mengambil alih bisnis keluarga. Bahkan, bisnis yang dibangun ayahnya itu menjadi lebih berkembang di tangannya.

Khadijah menjadi seorang entrepreneur. Dia menguasai teknik berbisnis yang mumpuni. Dia lebih memercayakan barang-barangnya kepada orang-orang pilihan, yang mendatangkan keuntungan berlipat baginya. Seperti pepatah yang mengatakan, orang pintar bukan mereka yang bisa melakukan satu pekerjaan dengan baik, tetapu orang yang brilian adalah orang yang mampu menemukan orang pintar untuk mengerjakan pekerjaannya.

Itulah Khadijah. Dia seorang entrepreneur sejati. Pebisnis yang memiliki ragam rencana, lalu mendelegasikan dan mempercayakannya kepada orang-orang pilihan dalam eksekusinya. Sementara, dirinya bisa melakukan aktivitas yang lain. Aktivitas lainnya itu tidak lepas dari kegiatan-kegiatan sosial. Makanya, tidak mengherankan jika orang-orang papa di Mekah ditanya, siapa orang yang paling mengerti mereka, dengan tegas, nama Khadijah akan keluar dari lisan mereka.

Khadijah menjadi sedemikian istimewa. Tidak satu pun masyarakat  Mekah yang tidak mengenalnya. Terutama kaum paap. Bagi mereka, Khadijah adalah bidadari tak bersayap yang diutus Tuhan ke dunia. Khadijah adalah penyantun mereka. Kepada mereka, Khadijah selalu memberikan perhatian dan bantuan.

Fatih Zam, Khadijah : Mahadaya Cinta, (Solo : Pustaka Tiga Serangkai, 2011), hal. 25-26

Nabi Muhammad dan Sikat Gigi (Siwak)

siwak

Nabi Muhammad SAW, Insan ummi yang tak pernah membaca buku karangan bakteriolog Prof. Dr. Plinius, yang menyebutkan di dalamnya bahwa pada bekas air cuci mulut terdapat tidak kurang 40 miliyar bibit penyakit dari berbagai macam, misalnya basil vibrio, spiril, coccus, diploccus, pteptococcus, staphylococcus, protozoa, spirochaeta,  virus dan lain-lain, tetapi (Nabi Muhammad) hampir tak pernah meninggalkan gosok gigi sehingga sempat berkata kepada sahabatnya, “Setiap Jibril datang menemuiku, ditanyakannya apakah aku telah menggosok gigiku, sehingga aku khawatir kalau-kalau gigiku menjadi rontok.

Seseorang (Muhammad SAW) yang tidak pernah belajar bahwa banyak sekali penyakit yang dapat melewati selaput lendir mulut dan hidung, tetapi menilai dan menghargai sikat gigi itu sedemikian tingginya sehingga dalam keadaan bagaimanapun ia (Muhammad SAW) tidak pernah melalaikan untuk mempergunakannya, bahkan pada saat terakhir dari kehidupannya, ia (Muhammad SAW) masih sempat pula menggosok giginya untuk beberapa saat, kemudian ia menghembuskan napas yang terakhir.”

Telah menjadi kebiasaan semasa hidupnya (Muhammad SAW) bila bangun tengah malam untuk melakukan salat tahajud, lebih dahulu ia membersihkan mulut dan menggosok gigi dengan sikat gigi. Pada suatua kesempatan, ia (Muhammad SAW) pernah mengatakan, bahwa menyikat gigi itu bukan saja membersihkan mulut, tetapi juga menyenangkan Tuhan.

Ditinjau dari ilmu keseharan modern, ucapan Nabi SAW ini sangat menakjubkan, oleh sebab baru sesudah 1250 tahun, yaitu pada tahun 1880, pemakaian sikat gigi menjadi umum atau baru setelah 12 abad lamanya

Idrus Shahab, Sesungguhnya Dialah Muhammad cet. III, (Bandung : Pustaka Hidayah, 2004), hal. 38-39

Previous Older Entries

%d blogger menyukai ini: