HUT RI Ke-70

Logo-DP-BBM-HUT-Kemerdekaan-Indonesia-Ke-70

70 tahun sudah kita medeka
Merdeka dari penjajahan bangsa asing
Merdeka dari penindasan negara asing
Merdeka dari segala bentuk dan rupa penindasan

Angka 70 bukan sembarang angka tanpa makna
Namun angka yang bisa dikatakan tonggak awal bagi kita mendapat pertolongan
Karena menurut orang Jawa, angka tujuh disebut Pitu
Pitu dalam artian PITULUNGAN (Pertolongan)

Semoga pemahaman orang Jawa tersebut menjadi doa buat bangsa dan negara ini
Sehingga sejak hari ini dan selamanya
Indonesia akan mendapat pertolongan dari Tuhan Yang Maha Esa
Pertolongan untuk bangkit dari kemiskinan
Pertolongan untuk hidup rukun dan sejahtera
Pertolongan untuk hidup dengan bangga menjadi tuan di tanah sendiri

Sedangkan angka 0 bisa mengandung pengertian nihil/kosong/IKHLAS
Dengan artian bisa jadi pertolongan akan datang pada mereka yang ikhlas
Pertolongan tersebut diberikan kepada mereka yang membersihkan diri dari keinginan yang bersifat individu
Pertolongan Tuhan adalah pertolongan tanpa syarat dan ketentuan tertentu
Karena Tuhan Mahakuasa dan Masa Berkehendak

Kumpulan-Gambar-DP-BBM-Hut-RI-ke-70-17-Agustus-21

Jadikan HUT RI – 70 ini menjadi tonggak awal untuk kita semua
Membangkitkan kembali jiwa kita dalam berbhineka tunggal ika
Bahwa kita berbeda bukan untuk dibedakan
Melainkan untuk bersatu dalam cengkraman burung garuda
Burung garuda yang dengan angkuh menjunjung tinggi 5 sila pancasila
5 Sila yang memberikan simbol dalam menjalin hubungan Vertikal dan Horizontal
Karena Indonesia sekali lagi bukan negara agama
Indonesia adalah negara kebangsaan
Berbangsa satu bangsa Indonesia
Berbahasa satu bahasa Indonesia

LOGO+70+TAHUN+INDONESIA+MERDEKA+oleh+Susetyo+Basuki+09+april+2015+versi+kecil

HUT RI-70
Ayo Kerja
Ayo Bekerja
Ayo Berbuat demi Bangsa
Ayo Bergerak
Ayo Berdiri di Kaki Sendiri

indonesia-merdeka

Iklan

Toleransi Ora Po-Po

images

Ketika kita berbeda bukan berarti kita salah
Di saat kita tak sejalan bukan berarti kita tersesat
Karena apa yang kita pahami berbeda
Karena apa yang kita pandang berbeda

Aku begini karena ini yang aku pahami
Kamu begitu karena itu yang kamu tahu
Kalian gimana karena itu yang kalian terima
Kita adalah apa yang kita yakini

Jangan terlalu mudah menuduh salah
Karena belum tentu kita benar
Karena kita tidak tahu sebenarnya
Yang ada adalah berusaha sebisanya

Yang pakai usholli bukan berarti lebih benar
Dari yang tidak pakai, Begitu juga sebaliknya
Yang pakai qunut bukan berarti lebih diterima
Dari yang tidak pakai, begitu juga sebaliknya

Kita hidup di dunia bhineka tunggal ika
Kita berbeda karena untuk bersama
Kita bersatu karena kita tidak sama
Maka mari berjalan bersama-sama

Irsyah, 8 Juli 2015

Dua Hakekat Hidup

rabbil-alamin

Manusia hidup di dunia ini sebenarnya memiliki dua hakekat. Dua hakekat hidup tersebut sebenarnya juga merupakan janji seorang manusia kepada sang Khalik sebelum manusia dilahirkan ke dunia ini. Dua hakekat hidup itu sendiri juga merupakan perintah Tuhan yang harus dijalankan selama hidup di dunia. Apakah dua hakekat hidup itu?

Masyarakat Jawa mengenal dua hakekat hidup tersebut yaitu tansah eling manembah marang Gusti Allah lan apik marang sak padan-padaning urip. Hakekat hidup yang dikenal oleh masyarakat Jawa tersebut juga dikenal dalam ajaran Islam dengan istilah Hablum Minnallah (selalu menyembah Allah) dan Hablum Minna Nass (berbuat baik pada sesama umat).

Dua hakekat kehidupan tersebut harus senantiasa kita ingat. Pasalnya, jika kita tidak ingat terhadap dua hakekat hidup tersebut, maka kita akan terkena bencana karena ulah kita sendiri. Misalkan, kita tidak berbuat baik terhadap sesama manusia, maka secara langsung maupun tidak langsung, kita tidak akan disenangi manusia lainnya yang ada di sekitar kita. Itu masih masalah hubungan dengan manusia. Nah, kalau hubungan dengan TUhan malah harus lebih baik lagi. Kalau dimusuhi manusia, kita masih bisa berlagak sombong dengan mengatakan tak butuh bantuan dari si fulan yang memusuhi kita, tetapi kalau dimusuhi oleh Gusti Allah, kepada siapa kita berlindung dan meminta pengayoman hidup?

Dua hakekat kehidupan itulah yang harus kita pegang dalam hidup ini. Kalau Anda tidak percaya, silakan Anda mengingkari dua hakekat kehidupan itu dan lihatlah apa yang akan terjadi pada Anda. Oleh karena itu, hayatilah dua hakekat hidup itu sebelum melangkah pada penyembahan Gusti Allah yang maha sempurna. Itu sebagai bukti bahwa kita telah menjalankan apa yang diperintahkan Gusti Allah kang Maha Adil untuk merengkuh CintaNYA.

http://kawruh-kejawen(dot)blogspot(dot)com/2007/12/dua-hakekat-hidup.html

Ageman Asal Gotro Moyo

satu

Agama dipandang dari kata maka ada dua pengertian, namun pengertian di sini bukan pengertian yang umum digunakan melainkan pengertian dari sudut pandang lain yang berkembang di masyarakat jawa yang masih memegang budaya jawa dengan kental.
Agama dalam bahasa jawa adalah AGOMO

Dari kata AGOMO, oleh sebagian orang jawa dianggap sebuah singkatan dari :
A untuk Asal
GO untuk Gotro, dan
MO untuk Moyo
Sehingga menurut orang jawa Agomo adalah Asal Gotro Moyo (Asal Wujud Cahaya). Sedangkan cahaya yang dimaksud di sini adalah Nur Allah dan Nur Muhammad. Sehingga agama yang sudah ada sejak jaman nabi Adam sebenarnya adalah perwujudan dari asal Nur Allah dan Nur Muhammad.

Oleh karena itu, agama yang benar dan bersih sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad hanya memiliki satu ajaran yang sama dan tidak pernah berubah bahkan sampai dunia kiamat, yaitu TAUHID adalah mensucikan Allah dari yang lain dalam hal untuk disembah sebagai Tuhan Pencipta Alam Semesta ini.

Agama kadang juga disebut dengan AGEMAN atau pakaian, karena menurut ornag jawa agama adalah sebuah sarana yang harus dipakai agar bisa mencapai tujuan asal itu sendiri yaitu Nur Allah dan Nur Muhammad SAW. Karena tanpa ageman tersebut tidak mungkin manusia bisa mencapai atau bahkan mengenal Asal Gotro Moyo.

Sehingga ketika agama tidak dipakai untuk mencari asal wujud cahaya yang dimaksud maka agama akan berubah dari tujuan awalnya, karena agama akhirnya hanya akan menjadi sebuah hal yang dijadikan sarana untuk memenuhi keinginan nafsu pemeluk agama itu sendiri. Jika sudah seperti itu, maka agama tidak akan mampu menjadi sebuah konrol terhadap diri manusia itu sendiri. Apa pun agama itu!!!

Sebagaimana yang diceritakan oleh Lek Rofi’ pada 31 Juli 2014 di rumah beliau

Poso (Ngeposne Roso)

puasaa

Bagi orang Jawa, puasa adalah ritual yang biasa dilakukan. Bahkan konon, sebelum agama Islam yang menganjurkan manusia melakukan puasa masuk ke tanah Jawa, orang Jawa sudah biasa berpuasa. Namun puasanya tidak seperti yang diajarkan oleh agama Islam.

Banyak puasa yang dikenal oleh orang Jawa seperti poso mutih (puasa yang tanpa makan makanan yang berasa asin, manis, kecut dan lain-lain. Hanya makan nasi putih dan minum air putih selama 40 hari atau 3 hari yang memiliki hitungan 40 hari).

Ada lagi poso ngrowot (puasa yang hanya makan makanan ubi-ubian dan tumbuhan yang merambat. Seperti makan ketela, ubi dan lain-lain). Dan masih banyak lagi puasa-puasa yang dikenal di Jawa.

Setelah kedatangan Islam, akhirnya orang Jawa pun menjadi terbiasa dengan puasa ala Islam itu. Namun inti dari puasa ala Jawa dengan puasa ala Islam itu sama. Yaitu sama-sama sebagai upaya untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH.

Namun sekarang ini banyak salah kaprah. Saat ini banyak orang yang menganggap puasa sebagai ibadah rutin tahunan. Nah, kalau orang sudah menganggap puasa itu sebagai ibadah rutin, maka ia mengerjakan puasanya juga seperti mengerjakan tugas rutinnya. Artinya, puasanya sekedar gugur kewajiban. Pokoknya sudah mengerjakan puasa, beres.

Orang yang seperti itu sudah dijelaskan dalam kitab Al Qur’an. yang artinya kurang lebih “Banyak manusia yang hanya menemukan kepayahan demi kepayahan dan tidak mendapatkan apa-apa selain kepayahan itu sendiri”.

Lha bagaimana puasa itu supaya tidak mendapatkan kepayahan demi kepayahan?
Ya…kita puasanya dengan hati.
Orang Jawa mengenal tembung mathuk: Poso itu sama dengan ngeposne roso (mengeposkan rasa).
Apa yang dimaksud ngeposne roso?
Ngeposne roso itu adalah menaruh semua roso (rasa) dalam satu pos.
Ada rasa iri, dengki, sakit hati, senang ngrasani, senang mengambil milik orang lain, semuanya rasa itu ditaruh dalam satu pos dan dikunci.

Kalau itu sudah terwujud, maka seorang manusia akan bisa berpuasa dengan menggunakan hatinya. Ia tidak lagi mengagungkan roso-roso yang kurang baik seperti yang telah disebutkan diatas, yang umumnya diatur oleh otak manusia. Dengan puasa menggunakan hati, berarti manusia itu kembali ke dalam kodratnya menjadi 0 (nol). Seorang manusia yang nol, insya Allah akan dekat dengan GUSTI ALLAH.

Apa yang dimaksud dengan nol? Yang dimaksud dengan nol, manusia itu merasa tidak memiliki apapun di dunia ini. Meskipun ia kaya, miskin, pandai maupun pas-pasan. Semuanya sama, merasa tidak memilikinya. Semuanya itu hanyalah titipan dari GUSTI ALLAH yang sewaktu-waktu bisa diambil si EMPUNYA.

Puasa itu tidak berhenti sampai Idul Fitri (kembali fitri/suci) saja. Setelah digembleng selama 1 bulan dengan puasa, menjadi manusia nol itu seharusnya terus ada dalam benak kita.
Orang Jawa mengenal kata-kata “Ojo sok Rumongso, nanging kudu biso rumongso” (jangan sok merasa, tapi harus bisa merasa).

Nah, mudah-mudahan GUSTI ALLAH memberikan welas asih pada kita semua agar puasa kita senantiasa membuat kita menjadi manusia nol sehingga menjadi dekat dengan GUSTI ALLAH. Amien

http://kawruh-kejawen(dot)bl*gsp*t(dot)com/2009/08/puasa-poso-ngeposne-roso.html

Butir-Butir Budaya Jawa

mbudayajawaold
Hanggayuh Kasampurnaning Hurip Berbudi Bawalesana
Ngudi Sejatining Becik

Ketuhanan
1. Pangeran iku siji, ana ing ngendi papan langgeng, sing nganakake jagad iki saisine dadi sesembahane wong sak alam kabeh, nganggo carane dhewe-dhewe.
2. Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng siro uga ana pangeran, nanging aja siro wani ngaku pangeran.
3. Pangeran iku adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan.
4. Pangeran iku langgeng, tan kena kinaya ngapa, sangkan paraning dumadi.
5. Pangeran iku bisa mawujud, nanging wewujudan iku dudu Pangeran.
6. Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, akarya alam saisine, kang katon lan kang ora kasat mata.
7. Pangeran iku ora mbedak-mbedakake kawulane.
8. Pangeran iku maha welas lan maha asih hayuning bawana marga saka kanugrahaning Pangeran.
9. Pangeran iku maha kuwasa, pepesthen saka karsaning Pangeran ora ana sing bisa murungake.
10. Urip iku saka Pangeran, bali marang Pangeran.
11. Pangeran iku ora sare.
12. Beda-beda pandumaning dumadi.
13. Pasrah marang Pangeran iku ora ateges ora gelem nyambut gawe, nanging percaya yen Pangeran iku maha Kuwasa. Dene kasil orane apa kang kita tuju kuwi saka karsaning Pangeran.
14. Pangeran nitahake sira iku lantaran biyung ira, mulo kudu ngurmat biyung ira.
15. Sing bisa dadi utusaning Pangeran iku ora mung jalma manungsa wae.
16. Purwa madya wasana.
17. Owah gingsiring kahanan iku saka karsaning Pangeran kang murbeng jagad.
18. Ora ana kasekten sing madhani pepesthen awit pepesthen iku wis ora ana sing bisa murungake.
19. Bener kang asale saka Pangeran iku lamun ora darbe sipat angkara murka lan seneng gawe sangsaraning liyan.
20. Ing donya iki ana rong warna sing diarani bener, yakuwi bener mungguhing Pangeran lan bener saka kang lagi kuwasa.
21. Bener saka kang lagi kuwasa iku uga ana rong warna, yakuwi kang cocok karo benering Pangeran lan kang ora cocok karo benering Pangeran.
22. Yen cocok karo benering Pangeran iku ateges bathara ngejawantah, nanging yen ora cocok karo benering Pangeran iku ateges titisaning brahala.
23. Pangeran iku dudu dewa utawa manungsa, nanging sakabehing kang ana iki uga dewa lan manungsa asale saka Pangeran.
24. Ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran.
25. manungsa iku saka dating Pangeran mula uga darbe sipating Pangeran.
26. Pangeran iku ora ana sing Padha, mula aja nggambar-nggambarake wujuding Pangeran.
27. Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, mula saka kuwi aja darbe pangira yen manungsa iku bisa dadi wakiling Pangeran.
28. Pangeran iku kuwasa, dene manungsa iku bisa.
29. Pangeran iku bisa ngowahi kahanan apa wae tan kena kinaya ngapa.
30. Pangeran bisa ngrusak kahanan kang wis ora diperlokake, lan bisa gawe kahanan anyar kang diperlokake.
31. Watu kayu iku darbe dating Pangeran, nanging dudu Pangeran.
32. Manungsa iku bisa kadunungan dating Pangeran, nanging aja darbe pangira yen manungsa mau bisa diarani Pangeran.
33. Titah alus lan titah kasat mata iku kabeh saka Pangeran, mula aja nyembah titah alus nanging aja ngina titah alus.
34. Samubarang kang katon iki kalebu titah kang kasat mata, dene liyane kalebu titah alus.
35. Pangeran iku menangake manungsa senajan kaya ngapa.
36. Pangeran maringi kawruh marang manungsa bab anane titah alus mau.
37. Titah alus iku ora bisa dadi manungsa lamun manungsa dhewe ora darbe penyuwun marang Pangeran supaya titah alus mau ngejawantah.
38. Sing sapa wani ngowahi kahanan kang lagi ana, iku dudu sadhengah wong, nanging minangka utusaning Pangeran.
39. Sing sapa gelem nglakoni kabecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pangeran.
40. Sing sapa durung ngerti lamun piyandel iku kanggo pathokaning urip, iku sejatine durung ngerti lamun ana ing donyo iki ono sing ngatur.
41. Sakabehing ngelmu iku asale saka Pangeran kang Mahakuwasa.
42. Sing sapa mikani anane Pangeran, kalebu urip kang sempurna.

Kerohanian
1. Dumadining sira iku lantaran anane bapa biyung ira.
2. Manungsa iku kanggonan sipating Pangeran.
3. Titah alus iku ana patang warna, yakuwi kang bisa mrentah manungsa nanging ya bisa mitulungi manungsa, kapindho kang bisa mrentah manungsa nanging ora mitulungi manungsa, katelu kang ora bisa mrentah manungsa nanging bisa mitulungi manungsa, kapat kang ora bisa mrentah manungsa nanging ya ora bisa mrentah manungsa.
4. Lelembut iku ana rong warna, yakuwi kang nyilakani lan kang mitulungi.
5. Guru sejati bisa nuduhake endi lelembut sing mitulungi lan endi lelembut kang nyilakani.
6. Ketemu Gusti iku lamun sira tansa eling.
7. Cakra manggilingan.
8. Jaman iku owah gingsir.
9. Gusti iku dumunung ana atining manungsa kang becik, mulo iku diarani Gusti iku bagusing ati.
10. Sing sapa nyumurupi dating Pangeran iku ateges nyumurupi awake dhewe. Dene kang durung mikani awake dhewe durung mikani dating Pangeran.
11. Kahanan donya ora langgeng, mula aja ngegungake kesugihan lan drajat ira, awit samangsa ana wolak-waliking jaman ora ngisin-ngisini.
12. Kahanan kang ana iki ora suwe mesthi ngalami owah gingsir, mula aja lali marang sapadha-padhaning tumitah.
13. Lamun sira kepengin wikan marang alam jaman kelanggengan, sira kudu weruh alamira pribadi. Lamun sira durung mikan alamira pribadi adoh ketemune.
14. Yen sira wus mikani alamira pribadi, mara sira mulanga marang wong kang durung wikan.
15. Lamun sira wus mikani alamira pribadi, alam jaman kelanggengan iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan.
16. Lamun sira durung wikan alamira pribadi mara takono marang wong kang wus wikan.
17. Lamun sira durung wikan kadangira pribadi, coba dulunen sira pribadi.
18. Kadangira pribadi ora beda karo jeneng sira pribadi, gelem nyambut gawe.
19. Gusti iku sambaten naliko sira lagi nandang kasangsaran. Pujinen yen sira lagi nampa kanugrahaning Gusti.
20. Lamun sira pribadi wus bisa caturan karo lelembut, mesthi sira ora bakal ngala-ala marang wong kang wus bisa caturan karo lelembut.
21. Sing sapa nyembah lelembut ikut keliru, jalaran lelembut iku sejatine rowangira, lan ora perlu disembah kaya dene manembah marang Pangeran.
22. Weruh marang Pangeran iku ateges wis weruh marang awake dhewe, lamun durung weruh awake dhewe, tangeh lamun weruh marang Pangeran.
23. Sing sapa seneng ngrusak katentremane liyan bakal dibendu dening Pangeran lan diwelehake dening tumindake dhewe.
24. Lamun ana janma ora kepenak, sira aja lali nyuwun pangapura marang Pangeranira, jalaran Pangeranira bakal aweh pitulungan.
25. Gusti iku dumunung ana jeneng sira pribadi, dene ketemune Gusti lamun sira tansah eling.

Kemanusiaan
1. Rame ing gawe sepi ing pamrih, memayu hayuning bawana.
2. Manungsa sadrema nglakoni, kadya wayang umpamane.
3. Ati suci marganing rahayu.
4. Ngelmu kang nyata, karya reseping ati.
5. Ngudi laku utama kanthi sentosa ing budi..
6. Jer basuki mawa beya.
7. Ala lan becik dumunung ana awake dhewe.
8. Sing sapa lali marang kebecikaning liyan, iku kaya kewan.
9. Titikane aluhur, alusing solah tingkah budi bahasane lang legawaning ati, darbe sipat berbudi bawaleksana.
10. Ngunduh wohing pakarti..
11. Ajining dhiri saka lathi lan budi.
12. Sing sapa weruh sadurunge winarah lan diakoni sepadha-padhaning tumitah iku kalebu utusaning Pangeran.
13. Sing sapa durung wikan anane jaman kelanggengan iku, aja ngaku dadi janma linuwih.
14. Tentrem iku saranane urip aneng donya.
15. Yitna yuwana lena kena.
16. Ala ketera becik ketitik.
17. Dalane waskitha saka niteni.
18. Janma tan kena kinira kinaya ngapa.
19. Tumrap wong lumuh lan keset iku prasasat wisa, pangan kang ora bisa ajur iku kena diarani wisa, jalaran mung bakal nuwuhake lelara.
20. Klabang iku wisane ana ing sirah. Kalajengking iku wisane mung ana pucuk buntut. Yen ula mung dumunung ana ula kang duwe wisa. Nanging durjana wisane dumunung ana ing sekujur badan.
21. Geni murub iku panase ngluwihi panase srengenge, ewa dene umpama ditikelake loro, isih kalah panas tinimbang guneme durjana.
22. Tumprape wong linuwih tansah ngundi keslametaning liyan, metu saka atine dhewe.
23. Pangucap iku bisa dadi jalaran kebecikan. Pangucap uga dadi jalaraning pati, kesangsaran, pamitran. Pangucap uga dadi jalaraning wirang.
24. Sing bisa gawe mendem iku: 1) rupa endah; 2) bandha, 3) dharah luhur; 4) enom umure. Arak lan kekenthelan uga gawe mendem sadhengah wong. Yen ana wong sugih, endah warnane, akeh kapinterane, tumpuk-tumpuk bandhane, luhur dharah lan isih enom umure, mangka ora mendem, yakuwi aran wong linuwih.
25. Sing sapa lena bakal cilaka.
26. Mulat salira, tansah eling kalawan waspada.
27. Andhap asor.
28. Sakbegja-begjane kang lali luwih begja kang eling klawan waspada.
29. Sing sapa salah seleh.
30. Nglurug tanpa bala.
31. Sugih ora nyimpen.
32. Sekti tanpa maguru.
33. Menang tanpa ngasorake
34. Rawe-rawe rantas malang-malang putung
35. Mumpung anom ngudiya laku utama.
36. Yen sira dibeciki ing liyan, tulisen ing watu, supaya ora ilang lan tansah kelingan. Yen sira gawe kebecikan marang liyan tulisen ing lemah, supaya enggal ilang lan ora kelingan.
37. Sing sapa temen tinemu.
38. Melik nggendhong lali.
39. Kudu sentosa ing budi.
40. Sing prasaja.
41. Balilu tau pinter durung nglakoni.
42. Tumindak kanthi duga lan prayogo.
43. Percaya marang dhiri pribadi.
44. Nandur kebecikan.
45. Janma linuwih iku bisa nyumurupi anane jaman kelanggengan tanpa ngalami pralaya dhisik.
46. Sapa kang mung ngakoni barang kang kasat mata wae, iku durung weruh jatining Pangeran.
47. Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.
48. Sing sapa gelem gawe seneng marang liyan, iku bakal oleh wales kang luwing gedhe katimbang apa kang wis ditindakake

 

http://kawruh-kejawen(dot)bl*gsp*t(dot)com/2007/11/butir-butir-budaya-jawa-hanggayuh.html

Sunan Bonang : Syahadat Dacim Qacim

tabirladuni

Perkuatlah dirimu dengan ikhtiyar dan amal perbuatan yang baik dan bermanfaat bagi sesama. Teguhlah dalam sikap yang tidak mementingkan dunia. Namun, jangan jadikan pengetahuan ruhani itu sebagai tujuan. Renungi dalam-dalam dirimu agar niatmu terkabul karena kamu adalah pancaran kebenaran Ilahi, sehingga jalan terbaiknya adalah tidak memandang selain Dia.

Jika kamu telah menemukan kesadaran diri, maka tingkatan selanjutnya adalah dengan menempuh jalan untuk mencapai kesadaran tertinggi. Memang sangat berat jalan itu, Wujil. Dalam perjalanannya itu kau akan berhadapan dengan maut dan kau pun akan diikuti oleh sang maut ke mana kau melangkah. Perjalanan suluk ini adalah dengan melaksanakan syahadat dacim qacim. Syahadat dacim qacim adalah karunia yang dilimpahkan oleh Gusti Allah kepada seseorang sehingga ia menyadari dan menyaksikan dirinya bersatu dengan kehendak sapakarya-Nya. Syahdat ini hanya diucapkan oleh para Nabi, Wali, dan orang mukmin sejati. Dapat diumpamakan seperti kesatuan antara tindakan menulis, tulisan, dan lembaran kertas yang mengandung tulisan itu.

Juga dapat diumpamakan seperti gelas, isinya dan gelas yang isinya penuh. Bilamana gelas itu bening, maka isinya akan tampak bening, sedangkan gelasnya tidak kelihatan. Begitu pula hati seorang mukmin, merupakan tempat kediaman Gusti Allah yang akan memperlihatkan kehadiran-Nya bilamana hati itu bersih, tulus dan jujur.

Syahadat ini berupa kesaksian tanpa bicara sepatah kata pun dalam waktu yang lama, sambil mengamati gerak-gerik jasmaninya dalam menyampaikan isyarat kebenaran akan adanya Gusti Allah.

Garam jatuh ke lautan dan lenyap, tetapi tidak dapat dikatakan menjadi laut. Pun tidak hilang ke dalam alam suwung dan kekosongan. Demikian pula apabila manusia mencapai keadaan melarut dalam keilahian itu tidak lantas terserap dalam Wujud Sang Maha Kuasa. Yang lenyap sebenarnya adalah kesadaran akan keberadaan atau kewujudan jasmaninya saja.

Jika kamu mampu menguasai dan mencapai ilmu rahasia tertinggi itu, maka kau pun akan mencapai kesadaran fana’ ruh idafi, yaitu keadaan dapat melihat peralihan atau pertukaran segala bentuk lahir dan kejadian lahir. Di dalamnya, akan tumbuh kesadaran batin untuk menyempurnakan penglihatannya tentang Gusti Allah sebagai Yang Kekal dan Yang Tunggal. Pendek kata, dalam fana’ ruh idafi itu, seseorang sepenuhnya akan menyaksikan kebenaran hakiki sebagaimana emas yang mencair dan hilang kemuliaannya. Namun, emas tidak terus menjadi hilang. Ia akan tetap disebut emas. Di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa segala sesuatu akan binasa, kecuali Wajah-Nya.

Puncak ilmu yang sempurna itu dapat diibaratkan seperti api berkobar. Hanya bara dan nyalanya, hanya kilatan cahaya, hanya asapnya saja kelihatan. Ketahuilah bahwa wujud sebelum api menyala dan sesudah api padam itu karena serba diliputi rahasia.

Jangan tinggikan diri melampaui ukuran. Berlindunglah semata kepada Gusti Allah. Ketahuilah, Wujil, bahwa rumah sebenarnya dari badan ini adalah ruh. Jangan bertanya, jangan memuja nabi dan wali-wali, jangan pula mengaku Gusti. Jangan mengira tidak ada padahal ada.

Sebaiknya, diam saja. Jangan sampai digoncang oleh kebingungan pencapaian sempurna. Keadaan ini dapat diibaratkan seperti seorang suami yang sedang saresmi dengan istrinya. Mereka berdua tenggelam dalam kenikmatan yang melenakan. Hanyut dalam susana berahi.

Ardian Kresna, Sabdo Palon dan Noyo Genggong : Dua Manusia Abadi Penunggu Bumi Jawa, (Jogjakarta : Diva Press, 2012), hal. 254-257

Previous Older Entries

%d blogger menyukai ini: