Apakah Serasi Mesti Selalu Sama

serasi

Langit dan bumi tak pernah serasi
Namun mereka serasa, sejanji
Mereka saling menaungi, saling melindungi

Beginilah seharusnya
Ini bukan perkara serasi, namun serasa
Sebab cinta bukanlah cerita, namun penyembuh luka

(Nurul Maria Sisilia)

“Engkau pernah jatuh cinta?”

“Itu adalah anugerah tertinggi dari Tuhan, Laila. Semua orang pasti pernah merasakannya. Dan, aku tahu, anugerah itu tengah engkau kecap”
“Siapa yang telah membuatmu jatuh cinta, Laila?”

“Mungkin kau tahu lebih dari yang aku tahu, bahwa aku sudah tertakdir seperti ini. Harta dan kemewahan ini seolah ditimpakan Tuhan begitu saja. Segala kemewahan sudah ada dalam genggamanku, bahkan mungkin ketika tanganku belum sanggup menggenggam apa pun”
“Lalu bagaimana menurutmu jika aku jatuh cinta kepada seorang papa?”
“Apakah orang-orang tidak akan menertawakanku? Apakah kekasihku takkan malu dengan status sosial yang kumiliki? Kenapa Tuhan tak jadikan aku tak berpunya saja?”

“Lalu, kalau kau papa, apakah engkau akan jatuh cinta dengan lelaki itu? Atau, setidaknya engkau akan memiliki keberanian untuk sekedar jatuh cinta?”

“Setidaknya, kalau aku papa dan pujaan hatiku papa, tidak lagi ada sekat. Bukankah jika demikian, kami betul-betul serasi?

“Serasi? Apakah serasi mesti selalu sama, Laila?”

“Bukankah jika demikian, tidak ada lagi keraguan di antara kami! Buankah orang-orang tidak akan menyibukkan diri menggunjingkan kami!”

“Sejak kapan cinta menjadi lemah dengan omongan orang-orang, Laila?
“Laila, apakah serasi mesti selalu sama?

“Setidaknya, keserasian yang dilandasi oleh kesamaan akan memudahkan pemahaman satu sama lainnya”

“Laila, aku tahu, engkau tidak kurang suatu apa. Berlimpah dengan kilau harta. Itu tidak bisa disangkal lagi, bahwa Tuhan telah menakdirkan engkau demikian. Tetapi, patut engkau tahu, Laila, bahwa cinta itu tidak bisa memilih”

“Apakah karena itu orang-orang mengatakan kalau cintaitu buta keberadaannya?”

“Ya. Cinta memang buta, Laila!”
“Tetapi, bukan berarti cinta mesti menerabas segalanya, tanpa aturan!”
“Cinta akan buta, Laila, kalau tidak ada perlakuan kepadanya. Cinta tidak akan mampu meraba jika tidak ada yang menuntunnya”

“Maksudmua?”

“Laila, bukankah orang yang buta masih bisa berjalan dengan bantuan tongkat? Atau, bisa berjalan jika ada orang lain yang membimbingnya?”
“Cinta tidak memiliki mata untuk melihat, Laila. Juga tidak memiliki telinga untuk mendengar. Dia juga tidak memiliki rasa untuk menimbang”

“Lalu, apa menurutmu?”

“Cinta ibarat jasad yang tidak memiliki indera. Dia hanya berdenyut dan bernafas. Cinta akan melihat, mendengar, dan merasa kalau di sana ada saling percaya, saling memperhatikan, dan kesediaan menerima apa adanya”

“Jadi?”

“Perbuatan, Laila. Cinta adalah perbuatan, bukan semata perkataan”
“Mencintai adalah sebuah keputusan, Laila. Mencintai berarti pilihan untuk memutuskan memerhatikan, memutuskan untuk menyayangi, dan memutuskan untuk melakukan serangkaian perbuatan. Mencintai adalah sebuah kerja besar, Laila. Dan, kerja besar tidak cukup dengan kata”

“Lalu, apa maksud konsep keserasian yang engkau katakan tadi?”

“Serasi tidak mesti harus sama!”

“Ya. Apa maksudmu dengan hal itu? Aku tidak mengerti!”

“Sejarah mencatat bahwa yang senantiasa disandingkan tidak dari unsur yang sama, Laila. Selalu berlawanan. Langit selalu disandingkan dengan bumi. Malam selalu disandingkna dengan siang. Semua berlawanan. Tetapi, semuanya telah dijodohkan jaman. Mereka berpasangan!”

“Apa menurutmu, termasuk kaya dan miskin?”
“Lalu, apa perekatnya? Apa yang menyebabkan ketidaksamaan ini berubah menjadi serasi?

“Laila, barangkali aktor-aktor alam itu memang tidak serasi. Karena berbeda adanya mereka. Meski demikian, mereka serasa, Laila. Tidak penting serasi atau tidak, terpenting adalah serasa. Langit dan bumi tidak serasi, tetapi mereka serasa. Mereka memiliki rasa yang sama. Rasa ingin menaungi dan rasa ingin dinaungi. Begitu juga dengan siang dan malam. Mereka tidak serasi. Siang hanya punya panas yang menyengat, sedangkan malam memiliki gemintang dan gulita yang misterius. Tetapi, mereka serasa. Mereka memiliki rasa yang sama untuk secara bergiliran menampilkan diri pada waktu yang telah ditetapkan kepada mereka. Mereka saling menopang, saling menguatkan, saling mendukung. Mereka berbuat atas rasa yang sama sehingga keserasaan mereka telah menjadikan mereka berada dalam kesetasian”

“Apakah pada akhirnya akan melahirkan keharmonisan?”

“Itulah tujaun akhir cinta, Laila. Menciptakan keharmonisan dan kesetimbangan. Semua menuju pada apa yang diinginkan Tuhan. Kedamaian”
“Tidak disebut cinta, Laila, jika itu tidak menguatkan. Bukan cinta namanya jika semua terasa menyakitkan. Cinta itu menyembuhkan. Cinta itu ….”

Fatih Zam, Khadijah : Mahadaya Cinta, (Solo : Pustaka Tiga Serangkai, 2011), Hal. 77-88

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: