Wejangan Sunan Bonang tentang Ilmu Hakikat Kehidupan

cungkup-sunan-bonang

Ingatlah Wujil, berhati-hati dan waspadalah dalam menjalani hidup di dunia ini. Jangalah lengah, berlaku ceroboh, dan gegabah dalam melakukan tindakan. Hendaknya diketahui benar-benar bahwa kau ini bukan makhluk yang sempurna. Sadarilah oleh dirimu, bahwa orang yang telah mengenal dirinya, maka ia pun akan mengenal Sang Hyang Widhi. Mengetahui asal muasal semua kejadian yang terhampar di dunia ini. Inilah jalan makrifat sejati, wahai Wujil.

Dengarlah baik-baik, wahai Wujil. Perihal keunggulan diri manusia hendaknya diketahui dari kesejatiaannya dalam sembah dan puji. Kesejatian shalat dalam ajaran Islam, bukan berarti hanya sujud di waktu Ngisa, Subuh, Luhur, Ngasar, dan Maghrib saja, itu hanya disebut sembahyang. Kebajikan utama bagi seorang mukmin adalah mengetahui hakikat shalat. Hakikat memuja dan memuji, itulah shalat yang sebenarnya. Tidak hanya pada waktu bersujud yang wajib, tetapi juga ketika tafakkur dan melaksanakan shalat Tahajud dalam keheningan malam. Buahnya ialah senantiasa menyerahkan diri kepada Gusti Allah. Juga termasuk adab sopan santun sebagai akhlak yang mulia.
Manakah yang disebut dengan sembah yang sebenar-benarnya? Sebaiknya, jangan menyembah jika tidak tahu yang disembah. Akibatnya, martabatmu akan direndahkan. Jika kamu (tidak) tahu akan yang disembah di dunia ini, maka kamu seperti membidik burung. Pelurunya disebarkan, tetapi burungnya tidak kena. Akhirnya menyembah kekosongan. Sembahyang pun gagal total.

Apakah shalat yang benar-benar shalat? Renungkan ini, wahai Wujil. Jangan melakukan shalat, andai tiada tahu siapa (yang) dipuja. Bilamana kau lakukan juga, kau seperti memanah kijang, tetapi tanpa melepas anak panah dari busurnya. Yang kau lakukan menjadi sia-sia, karena yang dipuja hanya wujud khayalmu saja.

Lalu, manakah yang disebut pujian? Meskipun orang-orang memuja siang dan malam, jika tidak disertai petunjuk yang benar, maka tidak akan sempurna tindakan yang dilakukan itu. Jika kamu ingin tahu tentang pujaan, sebaiknya kamu tahu akan hal yang menunjukkan adanya Allah. Masuk dan keluarnya nafas, sebaiknya kamu ketahui juga perihal anasir halus yang melingkupinya.

Apa itu dzikir yang sebenarnya? Dengarlah, wahai muridku, walau kau siang malam berdzikir, jika hatimu tidak dibimbing oleh petunjuk dari Gusti Allah, maka dzikirmu tidak akan menjadi sempurna. Karena dzikir yang sejati tahu bagaimana datang dan perginya nafas. Di situlah Yang Ada akan memperlihatkan petunjuk-Nya.

Petunjuk itu melalui empat anasir yaitu tanah, api, angin, dan air. Dahulu kala ketika manusia Adam pertama kali diciptakan, di dalamnya dilengkapi anasir ruhani yang berupa empat anasir, yaitu Qohar, Jalal, Jamal, dan Kamal.

Adapun sifat tersebut mengandung sifat penunjang yang jumlahnya ada delapan. Sifat dalam badan yang dapat keluar dan masuk. Jika keluar kemana arahnya, jika masuk kemana arahnya. Begitulah kaitan ruh dan badan. Dapat dikenal bagaimana sifat-sifat ini datang dan pergi.

Tua-muda adalah sifat anasir. Sifat tersebut hendaknya kamu ketahui. Jika tua di manakah mudanya, jika muda di manakah tuanya. Anasir tanah adalah melahirkan, kedewasaan, dan keremajaan. Apa dan di mana kedewasaan dan keremahaan? Di mana letak kedewasaan dalam keremajaan?

Adapun anasir api itu bersifat kuat dan lemah. Jika kuat di manakah lemahnya, jika lemah di manakah kuatnya. Api melahirkan kekuatan juga kelemahan. Namun, di mana letak kekuatan dalam kelemahan? Itu harus diketahui pula, wahai muridku.

Ada lagi anasir angin yang sifatnya ada dan tiada. Jika tiada di manakah adanya? Jika ada di manakah tiadanya? Sifat udara itu melipuri keberadaan dan ketidaan. Di dalam tiada terletak pula yang ada. Di dalam ada terletak tempat tiada.

Yang keempat adalah anasir air bersifat hidup dan mati. Jika hidup di manakah matinya? Jika mati kemanakah arah hidupnya? Di mana letak mati dalam hidup? Di mana letak hidup dalam mati? Kemana hidup pergi ketika mati datang? Jika kamu tidak mengetahuinya kau akan menjadi tersesat di jalan.
Hendaknya diketahui pedoman hidup adalah mengetahui akan dirinya sendiri dan tidak putus-putus memuji. Pedoman hidup sejati itu adalah mengenal hakikat diri. Tidak boleh melalaikan shlat yang khusyuk. Lalu, di manakah letaknya yang berdo’a dan yang dituju dengan do’a? Jangan sampai kamu tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, ketahuilah tempat daangnya yang menyembah dan yang disembah.
Orang yang agung mencari pribadinya sendiri yaitu untuk mengetahui dengan tepat hidup mereka yang sebenarnya di dunia ini. Pribadi besar mencari hakikat diri dengan tujuan ingin mengetahui makna sejati hidup dan arti keberadaannya di dunia.

Hendaknya diketahui hidup yang sejati. Kenalilah hidup sebenar-benar hidup. Tubuh ini seluruhnya bagaikan sebuah sangkar, alangkah baiklah diketahui burung di dalamnya. Akan sengsaralah jika kamu tidak mengetahui dan mengenalnya. Hai Wujil, semua tindakanmu tidak mungkin akan berhasil, jika kamu ingin mengetahuinya. Seluruh amal perbuatanmu menjadi sia-sia jika kau tak mengenalnya.
Perbaikilah dirimu dan sucikan dirimu. Tinggallah di suatu tempat yang sepi atau tinggallah dalam kesunyian. Jangan terpengaruh oleh gemerlap dunia. Hindarilah kekeruhan hiruk pikuk kebendaan di dunia ini. Jangan jauh-jauh kamu mencari punjangga yang pandai melantunkan dan menggubah syair-syair keilahian. Keindahan itu tak usah kau cari di tempat jauh karena ia ada dalam dirimu sendiri. Bahkan, seluruh dunia telah ada di sini. Seluruh isi jagat ada di sana, Wujil.
Sebagai penantangnya adalah Sri Khrisna yang ada di dalam dirimu. Agar dunia ini terang bagi pandangmu, maka jadikan sepenuhnya dirimu cinta. Tumpukan pikiran dan heningkan cipta. Siang malam perhatikanlah penglihatanmu. Apa yang tampak di tubuh, semuanya ini adalah dari sifat tingkah lakumu. Pahamilah, bahwa yang kau lihat di sekelilingmu itu adalah akibat dari laku jiwamu! Akan rusak sebenarnya dirimu karena terjadi oleh kemauanmu sendiri. Dunia ini akan menjadi luluh lantak disebabkan oleh keinginanmu. Maka, yang tidak rusak kini harus kau ketahui. Yang tidak mudah rusak inilah yang dikandung pengetahuan sempurna.

Bentangan pengetahuan ini luas dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya. Orang yang mengenal hakikat akan dapr memuja dengan benar. Selain yang mendapat petunjuk ilahiah, sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini. Karena itu, kenalilah dirimu. Kenalilah dirimu yang sejati. Ingkari kebendaan agar nafsumu tidur terlena. Benar-benar seperti telentang badanmu itu membelakangi dunia. Jika matikan nafsuyang tindakannya tak bosan-bosan mengurung tubuh. Yang diperhatikan dan yang diingat terus menerus hanyalah kekurangan. Ia yang mengenal diri, maka nafsunya akan terkendali dari jalan sesat serta kebingungan.kenalilah diri, tahu kelemahan diri, dan selalu awas terhadap tindak tanduk.

Wujil, bila kau mengenal dirimu sendiri, maka kau akan mengenal Gusti Allah. Orang yang mengenal Tuhan, bicaranya pun tidak akan sembarangan. Tidak bicara jika tiada rahasia yang diajarkannya. Ada yang menempuh jalan panjang dan penuh kesukaran sebelum akhirnya menemukan dirinya sendiri. Ia tak pernah membiarkan dirinya tersesat di jalan kesalahan.

Mereka yang telah mendapatkan kesunyatan untuk benar-benar mencari diri sendiri, kata-katanya tak pernah menyimpang dari kesucian. Jalan yang ditempuhnya benar. Tidak pernah keliru dari tempatnya, demikianlah yang disebut jalan kesucian atau lampahing ngurip.

Keadaan Gusti Allah itu jelas berbeda dengan keadaan manusia. Jernihkanlah pikiran tentang keilahian itu. Wujud Gusti Allah itu nyata Mhasuci yang hanya akan dapat dilihat dalam keheningan pikiran dan perasaan. Ada orang yang mengaku tahu, tetapi perilakunya tidak sesuai ajaran, pengendalian nafsu tidak dipatuhi. Mereka yang mengaku tahu jalan, nyatanya tindakannya sering menyimpang. Mengesampingkan kehidupan yang shalih sehingga syariat agama malah tidak dijalankan lagi, bahkan dicampakkan.

Padahal, orang yang mengenal dan benar-benar mengetahui Gustinnya akan dapat kuat mengendalikan hawa nafsu, siang malam memelihara penglihatannya agar menjadi semakin terang dan disesatkan oleh khayalannya sendiri.

Supaya dapat mematikan hawa nafsu, jangan hanya mendengar saja. Bersungguh-sungguhlah dalam menempuh jalan kesucian dengan kemauan dan keyakinan yang kuat. Jika keduanya telah jelas masuk dan keluarnya tiada kesulitan seperti halnya memotong seruas bambu untuk dijadikan alat pikulan sehingga bermanfaat. Lain halnya dengan orang yang belum mengerti, penglihatannya pun menjadi terbatas.

Gusti Allah itu tidak tampak dan tidak berbentuk rupa, tetapi tetap ada. Menurut ajaran orang-orang yang unggul, ia tidak memiliki tempat tertentu. Bila orang itu berhenti melihat, justru akan memiliki penglihatan sejati yang sempurna. Melihat penampilan yang tampak sebenarnya dan melihat wujud yang sejati.

Jika berbicara jangan dengan suara keras seperti seekor burung di pohon kanigoro itu berteriak-berteriak namun tiada artinya. Jika menyangkut perkataan rahasia, janganlah berbuat seperti orang hanya dapat berbicara. Demikian kata orang yang telah sempurna pengetahuannya.

Sebaiknya kamu pun tahu tentang hakikat diam dan bicara itu sendiri. Jika kamu tidak tahu, itu tiada gunanya. Diamnya tiada isi. Diam dalam tafakkur adalah jalan utama untuk mengenal Gusti Allah. Memuja tanpa selang waktu dan mengerjakan ibadahnya dengan sempurna. Disebabkan oleh makrifat, maka tubuh akan bersih dari noda. Pelajari kaidah pencerahan kalbu ini dari orang arif yang telah tahu jalannya agar kau mencapai hakikat, yaitu tempat yang merupakannya sumber kehidupan ini.

Jangan hanya memuja jika tidak menyaksikan yang dipuja. Juga sia-sialah orang yang memuja jika tanpa kehadiran yang dipuja. Walaupun Gusti Allah tidak di depan kita, namun pandanglah semua yang ada di hadapanmu sebagai isyarat kehadiran ada-Nya. Inilah makna diam dalam tafakkur. Asal mula segala kejadian menjadi nyata.

Renungi pula hakikat sejati kehendak diri, hai Wujil! Hakikat tidak dibatasi oleh pikiran kita. Berpikir dan menyebut suatu perkara, bukanlah kemauan murni. Kemauan itu sukar dipahami seperti halnya memuja Gusti Allah. Ia tidak terpaut pada hal-hal yang tampak.

Orang yang berilmu akan beribadah tanpa kenal waktu. Seluruh gerak hidupnya adalah beribadah. Diamnya, bicaranya, dan tindak tanduknya, bahkan getaran bulu-bulu dikulit tubuhnya hingga seluruh anggota badannya digerakkan untuk beribadah. Inilah kehendak tubuh yang murni.
Kehendak itu lebih penting dari pikiran, sehingga untuk diungkapkan dalam kata-kata dan suara sangatlah sukar. Kemauan bertindak merupakan ungkapan pikiran, niat melakukan perbuatan adalah ungkapan perbuatan. Melakukan shalat atau berbuat kejahatan, keduanya adalah buah dari kehendak diri.

Apa gunanya orang yang berjaga di malam hari, orang yang sudah buta matanya. Kentduanya tiada manfaatnya jika tidak dituntun untuk melihat kebenaran yang sebenarnya. Bagaimana bisa tahu diri sendiri? Sebab aku pernah mendengar bahwa asal kesempurnaan itu tidak karena berbicara dan tidak boleh tinggal diam. Bukan karena diam dan bukan karena berbicara, Wujil. Bertanyalah kamu kepada orang yang tekun bertapa. Cara sembah dan puja puji sebaiknya kau ketahui pula. Sembah itu bermacam-macam.

Kata orang yang telah unggul, memuji dalam sekejap saja itu banyak pengaruh baiknya. Sama dengan orang yang melakukan sembahyang seratus tahun, jika tahu tujuannya. Siapa saja yang sudah tahu sarana dan pujiannya terus menerus serta tidak mengenal waktu. Orang unggul yang lain mengatakan bahwa pujian seperti itu sama dengan sembahyang selama enam puluh tahun. Sudah bebas sempurna raganya. Tidak terikat oleh waktu dan tingkah lakunya dapat menjadi contoh. Bukan seperti burung bangau yang aku perumpamakan itu, Wujil.

Percayalah, jika senantiasa memuji Gusti Allah di siang dan malam hari, maka amat besarlah pengaruh baiknya, asal dilakukan menurut aturan. Hal ini sama dengan sembahyang dua belas tahun. Nah, sebaiknya kamu melakukan tapa brata yang seperti ini, Wujil. Jangan sampai gagal!

Ada lagi orang yang bersujud di hadapan Gusti Allah seperti sedang melakukan sungkem darma bakti. Dalam sekejap saja akan sangat besar pengaruh baiknya, asal tahu petunjuknya. Hal ini sama dengan sembahyang dua belas tahun. Itulah yang dinamakan tafakkur. Jika sedang dalam keadaan diam kemana arahnya, tanyakanlah hal itu. Siapa yang akan menerangkan naik turunnya diam dan bicara itu harus diketahui pula!

Orang yang diam itu lebih baik, demikianlah sembahyang yang tanpa terputus tanpa terikat waktu. Maka, sempurnakanlah orang itu. Tubuhnya tiada yang tertinggal, bahkan termasuk kotoran di tubuhnya. Diam yang hakiki adalah ketika seseorang melaksanakan shalat Tahajjud, yaitu shalat sunnah tengah malam setelah tidur. Shalat semacam ini merupakan cara terbaik mengatasi berbagai persoalan hidup. Inti shalat ialah bertemu muka dengan Sang Hyang Manon tanpa perantara.
Jika seseorang memuja tidak mengetahui benar-benar siapa yang dipuja, maka yang dilakukannya tidak bermanfaat. Ketika melakukan shalat, semestinya seseorang mampu membayangkan kehadiran dirinya bersama kehadiran Sang Murbeng Dumadi. Itulah perjalanan kesempurnaan yang sebenarnya. Bergurulah secara jelas pada pujangga yang benar-benar mengetahui tentang kebenaran. Demikianlah pesan dari utusan sang utusan Gusti Allah yang unggul, yaitu Nabi kita, Muhammad SAW.

Sebaiknya, jangan menyembah jika tidak kelihatan nyata. Sembah dan pujian tiada gunanya bila yang disembah itu jelas ada di hadapanmu. Maka kamu akan mengerti keberadaanmu. Keberadaanmu sendiri sebenarnya tiada. Demikianlah yang dinamakan diam pada orang yang memuji. Menjadi nyata kemauan purba yang hakiki.

Jarang orang yang mengerti keadaan yang sebenarnya, yaitu perihal tingkah laku itu. Jika tidak dikerjakan, bagaimana akan dapat diselesaikan? Yang tidak lupa mengerjakan itu sudah menunjukkan bahwa ia telah mendapat anugerah dari Gusti Allah. Siapa yang tidak mengerjakan hal itu, akan menunjukkan dosanya. Akan terkena kemalangan dan penderitaan hidup.

Jika kau bertanya kepadaku tentang hakikat dari niat, maka janganlah hanya terbatas pada gagasan. Karena yang menggagas dan yang menyebut, hal itu bukan yang disebut dengan niat yang sejati. Tidak mudah yang disebut dengan shalat, sembah, dan pujian itu. Kebaktian yang unggul tidaklah mengenal waktu. Semua tingkah lakunya adalah sembahyangnya. Diam dan bicaranya serta segala gerak tubuhnya t eak urung menjadi sembahyangnya. Sampai pada cara wudhunya dan kotoran di badannya pun menjadi sembah. Demikianlah yang dikatakan niat yang sejati, pujian yang tak putus-putusnya.
Wahai Wujil, niat itu lebih penting dari tingkah laku dan perbuatan yang banyak. Bahkan bahasa maupan suara, karena niat untuk melakukan tindakan itulah yang justru terungkap pikirannya. Sebenarnya, niat itu bukan niatnya, melainkan niat untuk melakukan tindakan itu yang terungkap. Niat melakukan sembah yang tiada bedanya dengan niat merampas.

Sebaiknya, kendalikanlah hawa nafsumu, hai Wujil. Jika nafsumu sudah kau ikat, maka jangan terlalu banyak bicara. Jangan terlalu memaksakan kemauan dan menuruti kehendak pribadi untuk dipaksakan kepada orang lain. Perbuatan itulah yang disebut sebagai jalan sesat karena yang diandalkannya hanyalah pendapatnya sendiri. Perumpamaannya adalah orang yang mengagungkan permainan rebananya. Tidak urung jika rebananya dibuang ke atas, akan saling lempar melempar jika orang lain tidak berkenan dengan perbuatannya.

Ardian Kresna, Sabdo Palon dan Noyo Genggong : Dua Manusia Abadi Penunggu Bumi Jawa, (Jogjakarta : Diva Press, 2012), hal. 218-230

1 Komentar (+add yours?)

  1. JATMIKO KO
    Jun 23, 2016 @ 14:07:11

    trimakasih risalahnya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: