Semakin Terpesonanya Khadijah binti Kuwaylid

rasul-saw

Tidak lama setelah kedatangan Maysarah, datanglah Muhammad bin Abdullah. Khadijah menyambut lelaki itu di depan pintu rumahnya yang besar dan tinggi. Dengan ramah, dia mengucapkan selamt datang kembali di Mekkah. Senyum manisnya terkulum, menambah mulia pahatan Tuhan pada wajah yang mempesona. Kedua matanya lalu menumbuk dua bola mata bening dan tak berdasar milik Muhammad bin Abdullah. Namun, Khadijah menyalahtingkahi ulahnya kala mata Muhammad bin Abdullah dengan kilat menumbuk objek lain. Segera saja Khadijah memulas sikap tak menentunya dengan menyilakan Muhammad bin Abdullah masuk.

Muhammad bin Abdullah memasuki rumah Khadijah yang megah dan besar. Sungguh, langkah Muhammad bin Abdullah dilihatnya sebagai langkah kemuliaan. Badan lelaki itu condong ke depan ketika melangkah, seperti sedang menuruni turunan saja. Tidak ada kesa membusungkan dada.

Khadijah mengatur posisi hatinya yang sedang tidak pada tempatnya. Ada pusaran yang membetot hatinya. Ada gelora yang tidak bisa dia lawan akhir-akhir ini. Bahkan, perjalanan ke tempat pertemuan pun terasa lama dan jauh sekali.

Khadijah menyilangkan Muhammad bin Abdullah untuk duduk. Khadijah telah siap menyimak cerita, pengalaman selama di perjalanan, termasuk informasi seputar dunia luar Mekah.

Muhammad bin Abdullah mengangguk kepala, sebagai tanda terima kasihnya karena telah diberikan kepercayaan. Anggukan itu sudah cukup menjadi pesona bagi Khadijah. Dia pun membalas anggukan itu, memberikan kode agar lelaki mulia ini bercerita tentang pengalamannya selama berniaga. Cerita yang tidak didapatnya dari Maysarah, yang malah memuji-muji kepribadiaannya.

Tidak lagi ada waktu yang terbuang. Muhammad bin Abdullah langsung menceritakan pengalamannya selama berdagang. Tetapi sebelum bercerita, keterpesonaan Khadijah sudah naik tingkat, naik derajat. Adalah Muhammad bin Abdullah, memberinya dengan beragam oleh-oleh dari perjalanan. Sepanjang Khadijah menjalankan roda perdagangan dan mempercayakan barang-barangnya kepada para agen pilihan, dan memperkerjakan agen-agennya, baru kali ini dia diperlakukan sedemikian istimewa. Belum pernah ada seseorang yang memberinya hadiah. Muhammad bin Abdullah adalah lelaki pertama. Satu-satunya.

Khadijah lupa, kalau Muhammad bin Abdullah tengah bercerita. Cerita tentang pengalaman pertamanya dalam berdagang. Khadijah sudah menyerah dan pasrah dengan keterpesonaan. Dua bola mata tidak lepas dari wajah Muhammad bin Abdullah. Dari bibir Muhammad bin Abdullah, Khadijah seolah melihat permata berhamburan. Kata-katanya berpulas kejujuran. Belum lagi raut wajah senantiasa bersinaran. Bak rembulan.

Khadijah tersentak kala Muhammad bin Abdullah terdiam cukup lama, sebagai tanda berakhirnya cerita. Khadijah mengemasi diri, menyimpan rasa bersalah, atas sikapnya barusan. Ditatanya kembali hati, pun sikapnya.Tanpa banyak bicara, Khadijah langsung memberikan bagian keuntungan seperti yang telah dijanjikan. Muhammad bin Abdullah mengambil haknya. Dia lalu berpamitan kepada Khadijah, perempuan yang telah memberinya pengalaman ini.

Khadijah jarang melihat hal yang remeh-remeh. Namun kali ini, dia merasa harus melakukannya. Beranjaknya Muhammad bin Abdullah direkamnya dengan pasti. Bahkan, Khadijah turut mengantarkannya hingga ke pintu rumah megahnya. Diikuti terus langkah Muhammad bin Abdullah hingga senyap tubuh itu diserap tikungan jalan. Khadijah bahkan tidak sadar telah berucap lirih. Ucap yang bahkan tidak terdengar oleh telinganya sendiri. Gumam itu begitu sejuk, “Selamat Jalan”.

Fatih Zam, Khadijah : Mahadaya Cinta, (Solo : Pustaka Tiga Serangkai, 2011), hal. 73-76

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: