Arti dan Dasar Tawassul

tawasul_logo_by_saesm-d2z8pet

Tawassul(1) dalam bahasa artinya perantara(2), yang artinya sama dengan kata Istighosah(استغاثة), Isiti’anah(استعانة)(3), Tajawwuh(تجوه), dan Tawajjuh(توجه)(4). Sedang menurut istilah tawassul adalah :
الوسيلة هى التى يتوصل بها الى تحصيل المقصود
Wasilah adalah sesuatu yang dapat menjadi sebab sampainya pada tujuan.(5)
Jadi yang dimaksud Tawassul di sini adalah :
طلب حصول منفعة او اندفاع مضرة من الله بذكر اسة نبى او ولى اكراما للتوسل
Memohon datangnya suatu kemanfa’atan atau terhidarnya bahaya kepada Allah dengan menyebut nama Nabi atau Wali untuk menghormati keduanya.(6)
Adapun dasar pijakan pelaksanaan Tawassul adalah firman Allah dan SAbda Rasul-Nya sebagai berikut:
1. Al-Qur’an, yang artinya :

35. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

64. dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya[313] datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

2. Al Hadist riwayat Bukhari,(8) yaitu :
عن انس رضى الله عنه ان عمر ابن الخطاب رضى الله عنه كان اذا قحطوا استسقى بالعباس بن عبجد المطلب فقال : اللهم كنا نتوسل اليك بنبينا فبسقينا وانا نتوسل اليك بعم نبينا فاسقنا فيسقون. رواه البخارى
Dari sahabat Anas, ia mengatakan : Pada zaman Umar bin Khattab pernah terjadi musim paceklik , ketika shalat minta hujan Umar kemudian bertawassul kepada paman Rasulullah, Abbas bin Abdul Muththalib : kemudian Umar berkata : Ya Tuhan, dulu kami mohon kepada-Mu dengan bertawassul kepada Nabi-Mu, maka Engkau pun menurunkan hujan kepada kami, dan kita (sekarang) memohon kepada-Mu dengan bertawassul kepada paman Nabi-Mu, turunkalah hujan kepada kami. Allah pun menurunkan hujan kepada mereka. HR. Bukhari.(9)

Dari dasar tawassul tersebut, dapat diambil pemahaman bahwa tawassul merupakan suatu sebab yang dilegitimasi oleh syara’ sebagai suatu sarana terkabulkannya suatu do’a bagi seorang hamba. Oleh karena itu, bertawassul kepada Nabi atau wali hanyalah sebagai sebab terkabulnya do’a hamba, baik ketika beliau masih hidup maupun sudah meniggal-dunia, sebab orang yang berdo’a masih tetap memiliki keyakinan bahwa tidak ada yang dapat mewujudkan kemanfaatan dan bahaya kecuali hanyalah Allah semata, sebagaimana yang diungkapkan oleh Sysikh Al-Zahawiy sebagai berikut, “Yang dimaksud istighotsah dan tawassul dengan para Nabi dan orang-orang yang sholih adalah mereka itu merupakan sebab-sebab dan perantara untuk tercapainya tujuan. Dan hakikatnya Allah-lah pelaku yang sebenarnya (yang mengabulkan do’a) sebagai penghargaa nkepada mereka sebagaimana hakikat keyakinan dalam segala macam perbuatan.(10)

Dengan demikian, bertawassul dapat dianalogikan dengan seseoran gyang sedang sakit datang ke dokterdan meminum obat supaya diberikan kesembuhan oleh Allah, dan ia tetap berkeyakinan bahwa yang menciptakan kesembuhan adalah Allah, sedang obat hanya sebagai sebab munculnya kesembuhan. Oleh karena itu, jika oba itu merupakan contah dari sebab ‘adi (yaitu sebab yang bersifat alamiyah), maka tawassul merupakan sebab syar’i (yaitu sebab-sebab yang memang diperkenankan oleh syara’). (11)

Muhammad Mashum Zainy al-Hasyimi, Ternyata Aku Orang NU, (Jombang: Darul Hikmah, 2008, cet. I), hal. 11-14
-1- Jamaknya adalah wasilun atau wasail atau wusulun, artinya adalah sesuatu yang bias mendekatkan pada perkara lainnya. Lihat Ma’luf, Louis, al-Munjid fi allughah wa al-A’lam, (Beirut, Maktabah Dar al-Masyriq, 1986), hal. 900
-2- Warson, Ahmad Munawar, al-Munawwar : Arab-Indonesia, (Yogyakarta, Maktabah PonPest. Krapyah al-Munawwir, 1984), hal. 1663
-3- Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 45
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,
-4- Warson, Ahmad Munawwar, Op.cit, hal. 1644
-5- Ibnu Katsir, Abu Al-Fida’iy Isma’il bin Umar, Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim, Juz II, (Beirut, Maktabah Dar al-Fikr, 1987), hal. 50
-6- Al-Harory, Abdullah Al-Hafidz, Syarah al-Qawim, (Beirut, Maktabah Dar al-Masyariy, 1999), hal. 378
-7- Dalam menanggapi ayat ini, Ibnu Katsir berkomentar dengan mengatakan bahwa, Allah SWT telah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang berbuat kemaksiatan dan berlaku dosa, jika di antara mereka melakukan kesalahan dan kemaksiatan supaya mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta ampunan kepada Allah di sisinya dan memohon kepada beliau supaya mau memohonkan ampunan untuk mereka, karena jika mereka melakukan hal itu, maka Allah akan mengabilkan taubatnya, mengasihinya dan mengampuninya.
Lihat Ibnu Katsir, Op.cit, Juz I, hal. 492 atau bandingkan dengan hadist tentang kasus al-‘Utbiy, yaitu :
Abu Mansur al-Shabagh berkata, “Aku duduk di samping makam Rasulullah SAW lalu datang seorang ‘Arabiy dan berkata : Salam sejahtera atasmu ya Rasulallah, aku telah mendengar Allah berfirman dalam surat al-Nisa’ ayat 64, aku datang kepadamu dengan memohon ampun karena dosaku dan memohon pertolonganmu kepada Tuhanku. Lalu ia bersya’ir dan pergi begitu saja.”
Kemudian aku tertidur dan bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan beliau bersabda, “Wahai ‘Utbiy, kejarlah orang Arab tersebut dan sampaikan berita gembira kepadanya bahwa Allah telah mengampuni dosanya”.
Lihat al-Nawawy, Muhyidin Abu Zakariyya Yahya al Syarf, al-Idhah fi Manasik al-Hajji, (Makkah al-Mukarramah, Maktabah al-Imdadiyah, tth), hal. 498, atau Ibnu Qudamah al-Maqdisiy al-Hanbaly, al-Mughniy, Syarkh al-Kabir, Juz III, (Beirut, Maktabah Dar al-Fikr, 1405 H), hal 556, atau al-Buthiy, al-Kasy-syaf al-Qina’, Juz V, (Beirut, Maktabah al-Farabiy, tth), hal. 255
-8- Dalam menanggapi hadist tersebut, syaikh Abdul Hayyi dan Abdul Kari berkomentar : “Pada dasarnya tawassul yang telah dilakukan sahabat Umar dengan sahabat Abbas merupakan tawassul kepada Nabi SAW (yang saat itu beliau sudah meninggal), sebab posisi sahabat Abbas sebagai paman beliau Nabi SAW dank arena kedudukannya yang sangat tinggi di sisi Nabi SAW. Lihat Abdul Karim, al-Takhdzir Min al-Ightirar, (Makah al-Mukaramah, Maktabah al-Farabiy, tth), hal. 125
-9- Bukhari, Shahih …, Op.cit, Hadist indek nomor 954 atau bandingkan dengan hadis Muslim :
اللهم انى اسألك واتوجه اليك بنبين محمدنبي الرحمة, يا محمد انى اتوجه بك الى ربى فى حاجاتى لبقضى لى
Ya Allah aku memohon dan memanjatkan do’a kepadaMu (dengan perantara) Nabi Kamu Muhammad, Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku memohon kepada tuhanmu dengan perantaraan engkau atas segala kebutuhanku supaya dikabulkan.
Dan bandingkan juga dengan komentar Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, al-Mausyu’ah al-Muayassarah, Juz I, (Riyadl, Saudi Arabiyah, Maktabah al-Nadwah al-‘Ilmiyah li al-Sabab al-Islamiy, tth), hal 139-143, atau al-Dur al-Nahdid, hal. 5
-10- Misalnya sebuah pisau, yang pada hakikatnya tidak memiliki kemampuan untuk memotong, sebab pemotong yang sebenarnya adalah Allah SWT, sehingga pisau hanya berfungsi sebagai suatu penyebab dalam kebiasaannya berpotensi untuk memotong, sebab Allah SWT menciptakan keadaan memotong melalui alat pisau tersebut. Lihat al-Zahawiy, Syaikh Jamil Afandiy Shidqiy, al-Fajr al-Shadiq, (Turki, Maktabah Isik, 1981), hal. 53
-11- Ibid, hal. 54. Oleh sebab itu, jika tawassul tidak menjadi sebab syar’iy, maka Rasulullah tidak akan mengajarkan orang buta yang datang kepada beliau supaya mau bertawassul dengannya, sebagaimana dalam hadist tersebut di atas.
-12- Dalam menggapi hadist riwayta Muslim itu, al-Syaukaniy berkomentar bahwa hadist tersebut dapat dijadikan sebagai dasar kebolehan bertawassul dengan Rasulullah SAW kepada Allah SWT selama yang bertawassul tetap berkeyakinan bahwa yang memberi kemanfaatan dan kemudlaratan adalah Allah SWT sesuai dengan kehendaknNya. Lihat al-Syaukani, Tukfah al-Dzakirin, hal. 180

2 Komentar (+add yours?)

  1. Elvy Fauziyah
    Nov 29, 2013 @ 21:30:27

    cak  luqman pean ngamuk t?????????????????????????????????? maaf cak 

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: