Saatnya Pengorbanan

pengorbanan-seorang-pria-untuk-wanita

Penduduk Mekah terbelalak menyaksikan pemandangan aneh hari itu. Mereka keluar rumah dengan penuh tanda tanya. Sehari sebelumnya, keluarga bangsawan kaum Quraisy ini telah melakukan pembicaraan serius perihal nadzar yang telah diucapkan ‘Abdul Munthalib beberapa tahun silam. Mendegar hal itu, kesepuluh putranya tercengang. Tak percaya kalau ternyata setelah dewasa, salah satu dari mereka harus merasakan pedihnya sayatan pedanga dari ayahnya sendiri. Sebenarnya urusan kematian bagi mereka bukanlah suatu yang menakutkan. Apalagi jika harus mati di tangan ayah mereka sendiri demi memenuhi nadzarnya, itu sama sekali bukan sesuatu yang harus ditakuti. Bahkan mereka beranggapan itu merupakan kematian yang cukup terhormat. Yang mereka takuti adalah menyaksikan kematian saudara sendiri tepat di depan mata tanda dapat melakukan apa pun baginya. Hal itu lebih pedih daripada sabetan pedang beracun ke tubuh mereka. Kini putra-putra ‘Abdul Munthalib benar-benar bingung dan memang layak bingung.

“Wahai Ayah, apa yang harus kami lakukan?” tanya putranya ketika mendengar penjelasan beliau.
“Tulislah nama-nama kalian pada anak panah!” dengan mantap ia menjawab.
Mereka pun melakukan apa yang diperintahkan ayahnya.(1)
Keesokan paginya mereka keluar menuju Ka’bah untuk melaksanakan undian sebagai penentu siapa yang akan dikorbankan.

Ketika mentari mulai memamerkan kemenangannya mengusir gelapnya malam, keluarga yang telah diliputi kegelisahan itu tengah berdiri mengkuatkan diri menerima kekalahan untuk memenuhi nadzar di hadapan juru ramal kota. Bagi ‘Abdul Munthalib nadzar tidak bisa diabaikan karena urusan ini berkaitan dengan Tuhan. Meskipun begitu beliau merasa limbung juga ketika memabyangkan seandainya yang harus dikorbankan adalah ‘Abdullah. Si bungsu kesayangannya yang kini ketampanannya sedang mekar. Untuk meneguhkan hatinya, beliau meminta agar juru ramal segera melakukan pengunfian. Masyarakat Mekah hanya mampu menatap ketika pemimpin mereka itu menyerahkan beberapa anak panah yang telah tertera nama-nama putranya.

Anak panah telah berada dalam genggaman juru ramal. Semua mata memincinng ingin menyaksikan siapa yang bakal keluar dari undian tersebut. Hati ‘Abdul Munthalib tegang. Seandainya boleh memilih, mungkin lebih baik beliau menghadapi ratusan pasukan perang –meskipun tanpa senjata- daripada harus menunggu beberapa menit yang sangat mengerikan itu. Apalagi ketika beliau menatap si bungsu nan tampan, ‘Abdullah. Beliau benar-benar merasa pedih jika membayangkan ‘Abdullah yang akan menjadi korban dari nadzarnya. Penantian itu serasa menyodorkan kepala sendiri ke mulut singa padang pasir yang tengah kelaparan.

Sesaat kemudian undian segera dilaksanakan. Semua mata menatap, setiap hari tegang dan jantung siapa pun berdenyut tak menentu seperti seorang peserta lomba baca puisi di pasar ‘Ukadz yang lupa barisan kata-katanya. Dan apa yang dikhawatirkan ‘Abdul Munthalib menjadi kenyataan. Ternyata yang keluar dari hasil undian adalah ‘Abdullah, putra kesayangannya. Seketika itu tubuh beliau seolah tercerabut tulang-belulangnya. Lunglai bagai pakaian basah hendak dijemur. Hatinya bagai dipatuk ular berbisa. Tanpa diberi aba-aba, semua orang menutup mulut, tan percaya dengan apa yang mereka lihat. Sungguh seandainya yang terpilih bukan ‘Abdullah, ‘Abdul Munthalib berniat mengadakan pesta sebagai ucapan syukur-nya. Namun, takdir berbicara lain.

Nadzar telah terucap, undian juga telah keluar. Tibalah detik-detik mendebarkan itu. Dengan menenteng sebilah golok tajam, ‘Abdul Munthalib menuntu ‘Abdullah menuju tempat di antara berhala Ishaf dan Nailah. Bapak dan anak ini saling berpegangan tangan, erat seolah saling meyakinkan bahwa smeua akan baik-baik saja seperti halnya yang dialami oleh Nabi Ibrahim as dan Ismail as putra kesayangannya. Ketika mereka berdua berjalan dengan langkah yang dimantap-mantapkan, masyarakat yang hadir mulai kasak-kusuk. Terutama keluarga dari Fathimah binti Amr bin Adiy dari Klan Makhzum, ibu ‘Abdullah. Satu-satunya istri ‘Abdul Munthalib dari klan Quraisy yang mempunyai pengaruh cukup kuat di Mekah. Mereka tetap tidak bisa menerima keputusan itu meskipun telah memahami nadzar ‘Abdul Munthalib. Akhirnya mereka sepakat untuk menghentikan pembunuhan itu dan mencoba untuk berbicara baik-baik dengan ‘Abdul Munthalib.

Team Sejarah 2010, ATSAR, Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW – Lentera Kehidupan – Untuk Mengenal Pendidik Sejati Manusia, Kediri : Pustaka Gerbang Lama, 2012, hal. 9-11
-1- Abu MuhammadAbd al-Malik Ibn Hisyam, Sirah an-Nabawiyah Ibn Hisyam, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2007, hal. 63

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: