Bibirmu Indah

garis-garis-hitam-pada-bibir

Bibir kamu indah
Tapi, tidak ada artinya indah bibir kalau bibir itu hanya teronggok di jalan
Bibirmu akan indah kalau dia berada pada tempatnya. Tetapi kalau bibirmu tergeletek di jalanan, bukan indah lagi namanya. Tetapi, sudah menciptakan kegaduhan bagi siapa saja yang menemukannya.

Berkacalah.
Lalu, perhatikan bibirmu, apakah kamu sepakat denganku bahwa bibirmu memang indah?
Bagaimana? Indah bukan!

Sekarang, coba kamu bercermin lagi!
Pusatkan pangdanganmu hanya pada bibirmu. Anggaplah hidungmu yang mancung indah itu, pipimu yang kemerahan dan segar itu, matamu yang besar dan dalam itu, dahimu yang sungguh aku tak lagi punya umpama, bahkan seluruh wajahmu, tidak ada. Apakah kamu akan puas dengan bibir indahmu saja?
Keindahan bibirmu akan tetap ada kalau keberadaan bibirmu itu tetap pada posisinya. Kau pandang bibirmu, bukan semata bibirmu. Tapi, juga didukung dengan seraut wajahmu.

Sama halnya dengan guci ini
Kalau kamu memusatkan pada cacatnya saja, selamanya dia akan begitu. Apakah setelah membeli guci, kemudian memajangnya, kamu akan memandang cacat guci ini? Tentu tidak bukan?!

Fatih Zam, Khadijah : Mahadaya Cinta, (Solo : Pustaka Tiga Serangkai, 2011), hal. 56-59

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: