Nadzar dan Harta Karun

harta

Dengan tegas beliau menjelaskan bahwa semua ini dilakukan untuk menemukan sumus Zamzam. Bukan karena ketidak hormatannya terhadap tempat suci mereka. Alasan itu tetap tidak bisa mereka terima. Percekcokan semakin memanas, ‘Abdul Munthallib bersikeras untuk meneruskan sementara masyarakatnya tidak satu pun yang berpihak kepadanya. Hari itu beliau benar-benar merasa miskin dengan hanya mempunyai satu putra. Berkelebatlah berbagai bayangan seandainya mempunyai lebih dari satu anak. Tentu anak-anaknya akan selalu siap berbidri di belakangnya untuk mendukung sang ayah.(1)

Akhirnya untuk meredam suasana, beliau mengucapkan sebuah nadzar. Janji khusus untuk mengorbankan salah satu putranya jika mempunyai anak laki-laki lebih dari sepuluh. Dengan nadzar ini sebenarnya beliau ingin menegaskan pada kaumnya bahwa apa yang dilakukannya demi keperluan mereka juga. Selain itu nadzarnya adalah bukti keseriusan beliau kalau penggalian tempat itu bukan untuk melecehkan  tempat suci tersebut. Seolah beliau berkata pada mereka,

“Di tempat ini kalian hanya menyembelih hewan kurban untuk tuhan Ka’bah. Sekarang lihatlah, aku akan mengorbankan lebih dari semua di sini . aku akan mengorbankan darah dagingku sendiri”.

Semua orang tercengang, kesadaran mereka tersentak dengan nadzar tersebut. ‘Abdul Munthallib seakan-akan membangkitkan kembali cerita leluhur mereka, Nabi Ibrahim As. Nadzar beliau tak ubahnya janji yang pernah diucapkan Nabi Ibrahim atas Nabi Ismail. Melihat begitu teguhnya keinginan ‘Abdul Munthallib, perlahan-lahan mereka mundur. Membiarkan anak-beranak itu meneruskan penggalian. Sampai sejauh itu, tidak ada yang berani bertindak lebih jauh. Tanpa diberi aba-aba, mereka diam, membiarkan ‘Abdul Munthallib dan al-Haris meneruskan penggalian. Kini mereka berdua bisa menggali dengan sepenuh hati. Bapak anak ini tak peduli dengan berpuluh-puluh pasang mata yang terus mengawasi pekerjaan miterius tersebut.

Di tengah-tengah penggalian, tanpa terduga ‘Abdul Munthallib menemukan harta karun yang di timbun kabilah Jurhum di dalam sumur Zamzam. Saat itulah semua yang hadir merasa mempunyai hak atas harta tersebut. Kericuhan mulai terjadi, setiap orang telah menjelma menjadi bidak-bidak catur yang dipermainkan nafsu.

Mereka langsung menyatakan keinginannya kepada ‘Abdul Munthallib untuk ambil bagian dari harta itu. Menanggapi hal tersebut, dengan bijak kakek Rasulullah yang bernama asli Syaibah itu segera mengambil keputusan. Beliau memutuskan bahwa harta kekayaan kabilah Jurhum berupa patung emas dan berbagai peralatan perang tersebut akan diundi. Enam buah bejana dipersiapkan. Dua bejana kuning untuk Ka’bah, dua bejana warna hitam untuk ‘Abdul Munthallib dan dua buah lainnya yang berwarna putih untuk orang-orang Quraisy. Setelah diundi, ternyata dua bejana kunign mengarah pada patung emas. Sehingga keduanya menjadi bagian Ka’bah. Dua bejana hitam mengarah pada dua jenis alat perang sehingga semua peralatan perang berhak menjadi milik ‘Abdul Munthallib. Ketika itu orang Quraisy tidak mendapatkan bagian sebab dua bejana warna putih jatuh pada undian terakhir. Sesuai dengan aturan, bejana yang terakhir keluar tidak mendapat bagian.

Team Sejarah 2010, ATSAR, Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW – Lentera Kehidupan – Untuk Mengenal Pendidik Sejati Manusia, Kediri : Pustaka Gerbang Lama, 2012, hlm. 6-8

-1- Abu MuhammadAbd al-Malik Ibn Hisyam, Sirah an-Nabawiyah Ibn Hisyam, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2007, hal. 60

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: