Khadijah binti Khuwaylid

timthumb.php

Dia adalah satu-satunya perempuan yang diberi dua julukan sekaligus : Ratu Mekah dan Ratu Quraisy. Bukan kecantikan semata yang menjadi penyebab julukan itu disematkan. Ada hal istimewa yang tidak dimiliki kebanyakan perempuan, tetapi melekat pada perempuan itu, yaitu kemampuan berbisnis, berdagang.

Perempuan itu adalah seorang pedagang yang brilian. Bahkan, kafilah dagangnya adalah kafilah terbesar. Perbandingannya adalah jika sebuah kafilah dagang Makkah mulai melalukan ekspedisi, barang-barang perempuan itu sebanding dengan seluruh barang pedagang Makkah.

Dia memiliki sentuhan emas. Apa-apa yang melalui tangannya akan menjadi sebuah keuntungan. Dia adalah perempuan yang cukup disegani para lelaki. Karena banyak teman mereka yang berlimpah harta, ditolak lamarannya. Dia adalah Khadijah binti Khuwaylid. Perempuan yang oleh orang Quraisy dijuluki at-Thahirah, perempuan suci. Julukan yang tentunya tidak sembarangan didapatkan. Terlebih jika julukan itu disematkan oleh orang Quraisy yang mayoritas berpaham pagan.

Kenapa Khadijah dijuluki At-Thahirah? Khadijah perempuan yang terjaga. Itu saja. Jika dalam berdagang lazim digunakan cara-cara rente, mengurangi timbangan, menimbun harta seenaknya, cara-cara itu sama sekali tidak dilakukan oleh Khadijah dalam aktivitas perdagangannya. Dalam aktivitas spiritual pun, jika orang-orang Mekah begitu kreatif hingga mengkoleksi ragam tuhan dengan perwakilan berhala, Khadijah hanya memiliki satu Tuhan, tempatnya merajuk kesah. Khadijah benar-benar terjaga dari paham pagan. Dia adalah pengikut agama Ibrahim, hanif.

Ayahnya, Khuwaylid, dikenal sebagai pedagang sukses dan kaya raya. Khuwaylid dikenal sebagai pedagang yang jujur dan terhormat. Dia tidak pernah terlibat dalam aktivitas jual beli yang bisa merugikan salah satu pihak. Khuwaylid jaud dari perdagangan rente, curang, dan semacamnya.

Dia dikenal sebagai penyayang sesamanya. Terlebih kepada saudara dan kaum paap. Tak ada kaum papa yang tidak mengenalnya. Bagi mereka, nama Khuwaylid dan seluruh keluarga adalah nama  yang mereka tempatkan di rak tertinggi lemari hati mereka.

Selain berdagang, Khuwaylid pun dikenal sebagai aktivis sosial kemanusiaan. Dia tergabung ke dalam sebuah organisasi pembela hak-hak kaum yang terampas. Khuwaylid pun meninggal dengan cara yang terhormat. Meninggal dengan cara seorang lelaki sejati. Meninggal ketika terlibat dalam perang dengan mereka yang menzalimi hak-hak kaum tertindas yang terampas.

Kepada Khadijah, kekayaannya itu diwariskan ketika napas sudah habis dihembuskan. Khadijah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaan yang tidak sedikit. Namun, kekayaan yang banyak itu tidak lantas membuat Khadijah berpangku tangan karena merasa sudah berkecukupan. Dia tidak hanyut ke dalam pesta pora dan foya-foya, atau menimbun harta.

Fatih Zam, Khadijah : Mahadaya Cinta, (Solo : Pustaka Tiga Serangkai, 2011), hal. 23-25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: