Bersinarlah Kotamu (Madinah), Junjunganku (Nabi Muhammad SAW)

madinah

Selama 84 tahun Imam Malik tidak pernah beranjak dari kota Madinah. Beliau memang merasakan keterikatan yang tinggi terhadap kota ini. Bahkan ketika diajak Khoifah Harun Ar-Rasyid untuk berkeliling ke berbagai kota, untuk mensosialisasikan kitabnya Al-Muwattha’, beliau menolak. Katanya, “Baginda memaksa saya berpisah dari kota Madinah, tapi saya tidak akan mengutamakan dunia daripada kota Rosululloh SAW”.
Imam Malik lalu mengutip dua hadist Rosululloh SAW, yaitu “Madinah lebih baik untuk mereka (penduduknya), kalau mereka tahu”, dan “Kota Madinah bis amenghilangkan kotoran yang ada di dalamnya, sebagaimana ubupan (alat peniup api tukang besi) bisa menghilangkan karat besi”.
Madinah, inilah kota yang buminya merupakan salah satu yang paling disenangi Alloh dan Rosul-Nya. Inilah kota yang bersinar (Al Madinah Al Munawwaroh) oleh cahaya Rosululloh yang bersemayam di kota ini.

Keunggulan Madinah
Madinah memiliki keunggulan dibanding kota-kot alain, setelah Makkah. Kalau sholat di Masjidil harom pahalanya dilipatgandakan sampai 100.000 kali, maka di Masjid Nabawi dilipat-gandakan hingga lebih 1.000 kali. Bersabda Nabi Muhammad SAW, “Sholat di Masjidku ini (Masjid nabawi) lebih baik daripada 1.000 sholat di tempat lain, kecuali Masjidil Harom”. Dalam hadist lain beliau bersada, “Sholat di Masjid Madinah bernilai 10.000 sholat, sholat di Masjidil Aqso bernilai 1.000 sholat dan sholat di Masjidil Harom bernilai 100.000 sholat”.
Padahal demikian argumentasi para pendukung madzhab keunggulan Makkah atas Madinah, keutamaan amal itu sekaligus menunjukkan keutamaan bumi tempat amal tersebut dilaksanakan. Apalagi, ada sejumlah hadist shohih yang menegaskan keunggulan Makkah, antara lain, “Sungguh Makkah itu sebaik-baik kotanya Alloh”.
Ada juga yang berpendapat, Madinah lebih utama dibanding kota Makka. Pendapa ini antara lain dianut Sayyidina Umat bin Khattab dan Imam Malik. Suatu kali, seperti diriwayatkan Imam Malik dalam kitab Al Muwattha’, Umar berkata kepada Abdullah bin ‘Iyasy Al Makhzumi, “Apakah kamu berkata bahwa Makkah lebih baik dari Madinah?”
“Makkah adalah tanah suci Alloh (Haramulloh), kota yang dijadikan aman oleh-Nya, dan di sana ada Rumah-Nya (Baitullah):, jawab Abdullah
“Aku tidak bicara sama sekali tentang tanah suci-Nya dan tentang Rumah-Nya. Apakah kamu yang bilang bahwa Makkah itu lebih baik daripada Madinah?”
“Makkah adalah tanah suci-Nya, tempat aman-Nya dan di dalamnya ada Rumah-Nya”.
“Aku tidak bicara tentang tanah suci-Nya dan Rumah-Nya”, sergah Umar lagi

Syafaat Rosul
Apapun pendapat yang dipilih, Madinah adalah salah satu kota utama, salah satu dari dua tanah suci (Haromain). Karena keutamaannya itulah, maka penduduknya memiliki keistimewaan, yaitu mereka akan mendapatkan syafaat gratis dari Rosululloh SAW di hari kiamat nanti. Sabda beliau, “Barangsiapa bersabar atas kesulitan (hidup) di Madinah, maka aku akan mensyafa’atinya di hari kiamat.
Bersabda pula beliau, “Barangsiapa mampu untuk meninggal di kota Madinah, maka hendaklah ia mati di sana, karena tidak ada seorang pun yang mati di kota ini kecuali aku memberinya syafaat di hari kiamat”.
Dalam hadist shohih yang diriwayatkan Bukhori diceritakan, Rosululloh SAW setiap kali pulangdari perjalanan dan mulai melihat dinding kota Madinah, beliau mempercepat laju kendaraannya, karena cinta beliau terhdap kota ini. Sampai-sampai beliau berdo’a, “Ya Alloh, hujamkanlah di hati kami cinta kota Madinah seperti cinta kami terhadap kota Makkah atau lebih dahsyat lagi”.
Dalam hadist-hadist lain, beliau berdo’a untuk keberkahan kota Madinah, “Ya Alloh berikanlah barokah kepada kami di dalam kota kami dua kali lipat dibanding (barokah) untuk Makkah”. Atau do’a beliau untuk Sa’ad bin Abi Waqosh ketika beliau berada di dalam pagar Sikkah Hadidiyah (sekarang Babul ‘Anbariyah tempat masjid Syuqa berada), “Ya Alloh, berikanlah barokah kepada kami dalam kota kami dalam sha’ (ukuran berat makanan) kami, barokahilah kami dalam mud (ukuran berat makanan) kami, Ya Alloh jadikan bersama barokah itu dua barokah”.
Betapa tidak, inilah kota tempat turunnya wahyu Alloh, sampai-sampai tidak ada satu tempat pun di kota ini kecuali pernah dituruni satu ayat ayau beberapa ayat Al Qur-an, atau pun dibarokahi dengan hadist Nabi. Jadi seluruh pelosok dan bagian dari kota ini adalah untaian barokah. Maklumlah kota Madinah adalah kota tempat Nabi SAW berhijrah hingga wafat beliau.
Konon, di setiap tempat masuknya kota Madinah dijaga oleh para Malaikat sehingga tidak bisa dimasuki Dajjal dan penyakit tho’un. Kota Madinah juga kota terakhir yang dirobohkan Alloh di hari akhir nanti.

Karena keutamaannya itu pula, maka tidak seyogyanya orang berbuat maksiat di kota ini seperti halnya di kota Makkah. Bersabda Rosululloh SAW, “… dan tidak ada seorang pun dari penduduk Madinah yang berniat jahat kecuali akan dibuat meleleh oleh Alloh seperti melelehnya timah atau melelehnya garam di dalam air”. Dalam hadist lain yang diriwayatkan Imam Ahmad, beliau bersabda, “Barangsiapa berniat buruk terhadap kota Madinah, maka Alloh akan membuatnya meleleh seperti melelehnya garam di dalam air.

Al Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin dan disadur oleh Hamid Ahmad di harian Duta Masyarakat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: