Di Padang Mahsyar

padang-pasir-kosong

Ka’bah, betapa mulianya dia. Di hari kiamat nanti Ka’bah termasuh yang ikut dikumpulkan di padang Mahsyar. Dia datang tak ubahnya pengantin yang diarak, diiringi orang-orang yang penah berhaji kepadanya. Sambil bergelantungan pada kelambunya, mereka berjalan mengitarinya sampai Ka’bah dimasukkan ke dalam surga dan orang-orang itu ikut masuk ke dalamnya

Di salah satu sudut Ka’bah, seperti kita ketahui, ada batu hitam atau Hajar Aswad yang mulia. Sabda Rosululloh SAW, “Hajar Aswad itu adalah satu dari batu-batu yaqut surga. Batu ini seperti halnya Ka’bah, juga akan dikumpulkan di padang Mahsyar. Tapi di sana batu ini memiliki dua mata untuk melihat dan lisan untuk bicara. Dengan lisannya itu, dia bersaksi atas setiap orang yang penah menciumnya”.

Inilah batu yang sering dicium oleh Rosululloh. Jika didapatinya tempat sekitar batu itu kosong, beliau pasti akan mendatanginya lalu menciumnya tiga kali. Kadangkala beliau berthowaf sambil menaiki kendaraan lalu meletakkan tongkatnya pada Hajar Aswad dan mencium ujung tongkat itu.

Bukan karena memuja batu itu, kalau kita ikut menciumnya, tapi karena kecintaan kita kepada Alloh dan Rosul-Nya. Amirul Mukminin Umar bin Khottob, ketika mencium Hajar Aswad, berkata kepada batu hitam itu, “Aku tahu, engkau tidak bisa memberi madhorot atau manfaat. Kalau saja aku tidak melihat Rosululloh SAW menciummu, pasti aku tidak akan mengecupmu”.

Setelah itu, Umar meangis menderu-deru lalu menoleh ke belakang. Di sana Ali Karromallohu Wajhah, “Ya Abal Hasan (Hai Bapaknya Hasan), di sinilah air mata (seharusnya) ditumpahkan, dan doa dikabulkan”, katanya kepada Ali.
“Kalau begitu, Ya Amirol Mukminin, dia memberi madhorot dan manfaat?”, sahut Ali
“Kok begitu?”
“Sungguh Alloh ketika mengambil perjanjian kepada bayi-bayi yang hendak dilahirkan, Dia menulis untuk mereka satu perjanjian yang kemudian ditelan oleh batu ini. Nah, batu ini bersaksi bahwa orang mukmin akan menepati perjanjiaan, dan bersaksi bahwa orang kafir akan mengkhianatinya”.

Itulah makna doa yang diucapkan ketika menciumnya, “Allohumma iimaanan bika, wa tashdiiqon bi kitaabika, wa wawafa’an bi ‘ahdika (Ya Alloh, aku beriman kepada-Mu, membenarkan Kitab-Mu, dan menepati perjanjian-Mu)”.

Konon kata para Ulama, berthowaf selama tujuh minggu pahalanya sama dengan umroh, sedang umroh tiga kali sama dengan satu kali haji. Dalam hadist shohih Rosululloh SAW bersabda, “Umroh di bulan Romadhon sama dengan berhaji bersamaku”. (HR. Al Bukhori dan Muslim

Dinukil oleh Hamid Ahmad dari Karya Imam Al Ghozali, Ihya’ Ulumiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: