2 Kisah Menakjubkan saat Haji

kartun-islam-1

Imam Ali ibn Muwaffaq pergi haji. Malam menjelang wuquf (tanggal 8 Dzulhijjah) dia menginap di masjid Khaif di Mina. Dalam tidurnya dia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Mereka mengenakan baju warna hijau.
“Ya ‘Abdalloh (Wahai Hamba Alloh)”, kata malaikat yang satu
“Labbaik, Ya ‘Abdalloh”, sahut temannya
“Tahukah kamu, ada berapa yang naik haji tahun ini?”
“Tidak tahu”
“Tahun ini ada 600.000 jamaah haji”
“Tahukah kamu berapa orang yang diterima di antara mereka?”
“Tidak”
“Hanya enam orang saja!”
Sesudah itu, kedua malaikat membumbung ke atas, lalu menghilang. Imam Ali terbangun gelagapan. Dia sedih sekali, “Kalau yang diterima hanya enam orang, lalu masih adakah tempat buatku di antara enam orang ini?”.
Ketika dia melaksanakan thawaf ifadhah seusai wuquf, dia berdiri di depan Ka’bah. Dia berpikir melihat begitu banyaknya jumlah jamaah haji, namun begitu sedikitnya yang diterima hajinya. Dia berdiam di situ sampai tertidur.
Dalam tidurnya dia melihat kembali dua malaikat yang dilihatnya dalam mimpi pertama. Mereka turun dari langit dalam rupa dan bentuk yang sama. Setelah saling menyapa seperti tadi, yang satu bertanya, “Tahukah kamu apa yang telah diputuskan Tuhan kita tadi malam?”.
“Tidak!”, jawab temannya
“Dia telah memberi (bonus) kepada masing-masing dari keenam orang (yang diterima amalnya) tadi 100.000 orang (sehingga semua jamaah haji tahun ini diterima semua amalnya, pen)”
Imam Ali langusng terbangun , kali ini dengan perasaan berbung-bunga.
Dalam kisah yang lain, Imam Ali ibn Muqaffaq, diceritakan naik haji dan mengahadiahkan hajinya untuk Rosululloh SAW. Usai menunaikan seluruh manasik haji, dia berimipi bertemu Rosululloh SAW.
“Wahai Ibna Muwaffaq (anaknya Muwaffaq), kamu menghajikan saya, ya?”, tanya Rosululloh SAW.
“Ya, Junjunganku!”
“Jadi kamu bertalbiyah untukku, ya?”
“Ya, Junjunganku!”
“Kalau begitu, aku akan membalas kamu di hari kiamat nanti. Di padang Mahsyar aku akan memegang tanganmu, lalu aku bimbing kamu masuk surga pada saat para makhluk masih menjalani perhitungan (hisab)”.

Diambil dari karya Imam Al Ghozali, Ihya’ Ulumiddin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: