Bahaya Hasud dalam Kisah Fir’aun

http://nugietgreen.files.wordpress.com/2011/08/24935_ramses-ii.gif

Dahulu kala di mesir, ada seorang lelaki yang bernama Mush-chab. Adapun pekerjaannya adalah pengembala kambing sedangkan usianya sekitar 170 tahun. Namun sampai usia tersebut belum dikarunia seorang anak sekali pun. Padahal nurani seorang yang sudah tua pasti merindukan seorang anak. Sebagaimana diketahui, bagaimana senangnya menimang-nimang anak ketika kecil dan bercengkrama dan membantu dalam kehidupan ketika sang anak sudah besar nantinya.

Terdorong  rasa ingin mendapatkan seorang anak, sedangkan keinginan tersebut tidak dikabulkan oleh Alloh. Hingga suatu ketika Mush-chab melihat seekor sapi yang umurnya masih muda (kira-kira 2-3 tahun) yang beranak seekor pedet (sapi kecil). Ketika Mush-chab melihat sapi tersebut, maka timbullah watak asli dari seorang manusia, Mush-chab  berpikir di dalam hatinya, “Duh … seekor sapi yang hanya berusia sekitar 3 tahun sudah beranak tetapi diriku yang sudah berusia 170 tahun akan tetapi belum dikarunia seorang anak sekalipun. Sungguh tidak Adil Tuhan kepada diriku!”.

Oleh karena itulah, hal ini yang menyebabkan Mush-chab marah, iri dan dendam kepada sapi tersebut. Mulai dari dibunuh, dilukai bahkan hampir di pukuli. Akan tetapi Alloh SWT memberi keistimewaan sapi tersebut di saat itu untuk berkata kepada Mush-chab, “Hai Mush-chab, kamu akan mendapatkan karunia putra namun karena ketidak sabaran dan sifat hasud dirimu kepada diriku maka aku yakin kalau putramu nantinya akan menjadi tiang atau pondasi dari neraka Jahannam”. (Al Kalamu Nishfu Ad-Dua’aa = orang berkata bagaikan sebuah do’a)

Setelah itu Mush-chab pulang dan menjima’ istrinya, yang karenanya istrinya mengandung namun sebelum istrinya melahirkan seorang putra yang nantinya akan menjadi seorang Fir’aun, Mush-chab meninggal terlebih dahulu. Sehingga sang anak tersebut di beri nama Al Walid ibn Mush-chab.

Ketika sang anak (Al Walid) besar atau baligh, diserahkan oleh ibunya kepada seorang yang bekerja sebagai tukang kayu, di mana saat itu orang yang berkerja sebagai tukang kayu selalu berpindah-pindah tempat dari satu desa ke desa lain dan dari satu kota ke kota lain (nomaden). Secara otomatis perkembangan jiwa dan karakter Al Walid terpengaruh oleh perubahan tempat, situasi dan kondisi sehingga karakter Al Walid yang asalnya pendiam berubah menjadi liar tidak terkendali.

Akhirnya Al Walid belajar ilmu pertukangan meski pada akhirnya tidak suka karena penghasilan yang di dapat tidak sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan, oleh karena itulah Al Walid berpindah profesi menjadi seorang penjudi. Namun Al Walid tetap tidak bersabar karena tidak sadar bahwa dalam dunia judi itu lebih banyak kalah daripada menang dan lebih banyak gagal daripada sukses. Sehingga hal itu menyebabkan Al Walid setiap hari di saat pulang hanya meminta uang kepada ibunya dan jikalau ibu tidak memiliki uang maka Al Walid marah.

Ibu Al Walid mengeluh, “Duh Anakku, kok begini perilakumu. Aku mohon berhentilah bermain judi dan jadilah seorang anak yang baik-baik saja!”

Al Walid menjawab, “Wahai Ibu, jangan ikut campur dengan urusanku. Apakah aku bermain judi, atau berbuat apapun, janganlah pernah sekalipun ikut campur. Jangan indahkah diriku. Aku bisa menanggung kehidupanku sendiri. Aku bisa mencukupi diriku sendiri!”. Inilah awal mula Al Walid dipanggil dengan sebutan ’Aun (Opo Jare Aku), hal ini karena jawaban Al Walid kepada ibunya yang di dalam tatanan bahasa Arab disebut dengan ‘Aunu Nafsi = Menolong diri sendiri.

Nasehat dari siapapun tidak mampu merubah sifat ’Aun dari berbuat judi, meski terus-terusan kalah. Bahkan ’Aun berani menjual pakaian meski sampai telanjang hanya untuk obsesi bermain judi. Oleh karena sudah tidak memiliki pakaian yang bisa digunakan maka ’Aun menggunakan kain kotor (gombal) hanya untuk menutup kemaluan depan dan belakangnya. Hal ini karena ’Aun merasa malu dengan orang lain, karena telanjang.

Setelah banyak orang yang tahu kalau ’Aun telah kalah telak dalam perjudian bahkan sampai telanjang bulat, maka ’Aun melarikan diri dari pandangan masyarakat. Oleh karena Al Walid melarikan diri (Farra dalam tatanan bahasa Arab berbentuk fi’il madhi, sedangkan Orang Arab mengatakan Firro), dan mulai saat itu Al Walid disebut dengan sebutan Fir’aun, yang artinya menanggung tapi melarikan diri, bisa menjaga tapi rugi, pintar tapi gila, berani mengatakan OPO JARE AKU tapi dirinya takut, bisa menanggung akan tetapi celaka.

Akhirnya Fir’aun kembali ke kampung halamannya setelah menyembunyikan diri dalam pelariannya selama sekitar 1 tahun, tetapi masyarakat tetap mengenalnya dan lebih senang memanggilnya dengan sebutan Fir’aun bukan sebagai dengan sebutan Al Walid.

“Wahai Anakku, setelah kekalahanmu berulang kali dalam perjudian apakah tidak lebih baik buatmu untuk kembali menjadi tukang kayu karena ilmu yang sudah engkau miliki daripada engkau terjun kembali ke dunia judi yang telah membuatmu kalah telak”, kata sang Ibu kepada Fir’aun ketika bertemu.

“Sudahlah Ibu, jangan ikut campur urusanku! Apakah aku akan berkerja atau tidak? Apakah yang akan aku kerjakan? Biarlah semua apa kataku sendiri, bagaimanapun caranya!” Jawab Fir’aun.

Setelah itu, Fir’aun melanjutkan perjalanan dan menemukan uang 1 dirham di tengah-tengah perjalanan. Meski menurut agama seharusnya penemuan tersebut harus diumumkan kepada khalayak akan tetapi tidak menurut Fir’aun, karena bagi Fir’aun jangankan tidak ada yang memiliki meski sudah jelas diketahui ada yang memiliki uang 1 dirham itupun tetap akan diambil oleh Fir’aun.

Dari uang 1 dirham tersebut Fir’aun belanja semangka dan dijadikan sebagai modal usaha berdagang buah-buahan. Sehingga siapapun yang melewati tempatnya ditawari untuk membeli semangka dagangannya tersebut. Sesaat Fir’aun berjualan semangka ada sebuah pengumuman yang menyatakan untuk mengembalikan uang 1 dirham bagi mereka yang menemukannya, bahkan dalam pengumuman tersebut disebutkan beserta dengan ciri-cirinya dan perkiraan uang tersebut hilang. Hal tersebut membuat Fir’aun kaget karena dia yang merasa yang telah menemukannya, dan mengakui kalau dirinya yang telah menemukan uang 1 dirham tersebut namun sudah dirupakan berupa beberapa semangka yang tujuan awalnya akan dijual.

“Jika benar kalau engkau adalah yang menemukan uang tersebut, maka apa kamu juga tahu bahwa Pemimpin Daerah di sini mewajibkan kepada setiap orang yang berjualan di pinggir jalan untuk membayar pajak sebesar 1 dirham”, sahut pengawal yang menyampaikan pengumuman tersebut.

Fir’aun marah dan mengamuk kemudian mengambil semangka tersebut dan di bawa berlari berputar-putar di Mesir, hal ini dilakukan karena akan ditarik pajak padahal Fir’aun sudah tidak memiliki apa-apa lagi kecuali dagangan semangka tersebut. Selama dalam pelarian tersebut, semangka tersebut dihabiskan satu persatu di saat Fir’aun merasa lapar.

Pada akhirnya Fir’aun kemudian merampok dan mencuri ketika cadangan buah semangka miliknya habis dimakan. Sehingga terkadang Fir’aun ditangkap polisi dan dimasukkan ke dalam penjara akan tetapi tetap berbuat hal yang sama ketika keluar dari penjara dan hal ini berulang beberapa kali.

Suatu ketika ada seorang lelaki yang kehilangan kendali atas kuda tunggangannya dan hal itu menyebabkan dirinya terpelanting dari atas kuda bahkan diinjak-injak oleh kudanya sendiri. Ketika Fir’aun mengetahui hal tersebut bukannya menolong orang yang terluka melainkan dengan teganya Fir’aun malahan mendekati kuda yang sedang beringas tersebut dan mencurinya.

Setelah sekian lama waktu berlalu, akhirnya pemilik kuda tersebut sembuh dari luka yang diderita dari terjangan kuda tunggangannya sendiri dan berkata dalam hati, “Sungguh hebat pemuda tersebut (Fir’aun), karena mampu menundukkan seekor kuda yang sedang beringas tidak terkendali bahkan oleh diriku yang menjadi pemiliknya”.

Ada baiknya bila dia aku jadikan dirimua sebagai seorang pembantu diriku, menjadi ajudanku dan semua kebutuhan yang kamu inginkan akan aku penuhi”. Demikian kata pemilik kuda bertemu dengan Fir’aun yang kemudian diiyakan oleh Fir’aun sendiri.

Singkat kata Fir’aun menjadi ajudan orang tersebut bahkan sampai juragan Fir’aun tersebut meninggal, satu hal yang membuat Fir’aun senang tidak terkira dalah bahwa juragan Fir’auntidak mempunyai ahli waris walaupun seorang. Sehingga harta juragan tersebut menjadi milik Fir’aun dan oleh Fir’aun harta tersebut sebagian kecil diberikan kepada ibunya.

Jikalau dahulu ketika Fir’aun dimarahi oleh ibu ada sedikit rasa takut karena merasa tidak memiliki apa-apa, maka sekarang Fir’aun tidak merasa takut sedikitpun walau nantinya akan dimarahi oleh ibu karena merasa sudah menjadi orang kaya meski didapat dari warisan mantan juragan Fir’aun. Dahulu ketika Fir’aun masih miskin saja tidak mau mendengarkan nasehat dari siapapun bahkan dari ibunya, apalagi saat ini di saat Fir’aun memiliki banyak harta. Wajar bagi manusia ketika dalam kondisi sukses atau kaya maka akan semena-mena namun ketika dalam kondisi miskin mereka biasanya santun atau tidak berani macam-macam, namun hal ini lain dengan Fir’aun. Jangankan ketika kaya, bahkan ketika dalam kondisi mengenaskan atau miskin-pun Fir’aun sudah berbuat semaunya (semena-mena).

Namun pada akhirnya kekayaan melimpah yang didapatnya dari mantan juragan Fir’aun habis tidak tersisa, hal ini dikarenakan gaya hidup Fir’aun yang berfoya-foya, dari mabuk-mabukkan, bermain perempuan, berjudi dan lain sebagainya malah lebih sering dilakukan ketika kaya. Di saat kehabisan harta itulah, maka yang dikerjakan Fir’aun hanya duduk di depan pintu-pintu makam Mesir dengan tujuan tidak lain untuk meminta uang meski dengan sedikit memaksa kepada para peziarah makam. Bahkan Fir’aun beralasan hal ini dilakukan karena mendapat perintah dari Raja Mesir.

Oleh karena mereka para peziarah mengira kalau itu benar perintah Raja Mesir meskipun pada dasarnya Raja Mesir sendiri tidak mengetahui kalau namanya digunakan oleh Fir’aun untuk kepentingan pribadi Fir’aun sendiri. Sehingga setiap peziarah datang ke makam selalu memberi uang yag terkadang tidak sedikit kepada Fir’aun. Hal ini berlangsung lama sekali dan bahksan uang yang didapat Fir’aun melimpah, sehingga Fir’aun sanggup membangun sebuah istana, membayar upah pembantu, memiliki juru masak pribadi.

Ketika anak Raja Mesir meniggal dunia dan hendak dimakamkan, maka dengan akal liciknya Fir’aun mendekati jenazah anak Raja Mesir tersebut dengan menangis meraung-raung, hal ini dengan maksud agar masyarakat semakin percaya jikalau Fir’aun adalah anak buah Raja Mesir. Namun Raja Mesir sendiri heran dengan apa yang dilakukan oleh Fir’aun terhadap jasad anaknya karena merasa tidak mengenal Fir’aun. Namun ketika raja kembali ke kerajaan, dia mendapat informasi dari para pejabat dan pengawal kerajaan tentang Fir’aun dan apa yang dilakukan di pintu makam tersebut. Setelah mendapat informasi yang akurat dari bawahannya, maka dengan segera raja memanggil Fir’aun untuk menghadap.

“Sungguh berani sekali engkau mengatas-namakan diriku untuk melakukan penarikan uang kepada para peziarah?” bentak Raja Mesir kepada Fir’aun sesaat setelah Fir’aun dihadapkan.

Setelah membentak Fir’aun, raja mengambil sebilah pedang yang gunanya untuk memenggal kepala Fir’aun. Sesaat sebelum pedang tersebut memenggal lehernya, Fir’aun berteriak meminta ampun kepada baginda raja dan bersedia membayar sejumlah uang berapapun yang diminta oleh raja sebagai bentuk tebusan nyawanya yang telah berbuat salah.

Akhirnya ampunan raja diberikan setelah raja menyetujui usulan dari Fir’aun yang berani menebus nyawanya dengan harga berapapun yang diminta. Bahkan karena hal tersebut juga, Raja Mesir berencana untuk mengangkat Fir’aun sebagai orang kepercayaannya dalam urusan penarikan pajak di depan makam. Namun rencana raja di tolak oleh seluruh bawahannya, dengan alasan akan menurunkan wibawa dan nama baik raja di masyarakat jika menuruti saran dari Fir’aun untuk menarik pajak di depan pintu makam. Namun raja tetep bersikeras meneruskan usulan Fir’aun, dengan alasan Fir’aun telah sukses melaksanakannya selama ini. Pada akhirnya kegiatan penarikan uang di depan makam oleh Fir’aun tidak disetujui oleh dewan kerajaan sehingga batal untuk dilaksanakan.

Karena raja yang sudah menerima uang suap dari Fir’aun juga menjanjikan kepada Fir’aun untuk diangkat sebagai orang kepercayaan dalam urusan uang pajak namun hal tersebut tidak disetujui oleh dewan kerajaan sehingga batal buat Fir’aun untuk diangkat sebagai kepercayaan raja. Namun bukan Fir’aun namanya kalau tidak mempunyai rencana cadangan. Fir’aun menawarkan diri kepada raja untuk menjadi kepala keamanan di kerajaan Mesir, karena Fir’aun tahu kalau raja Mesir memiliki banyak musuh, dan tawaran Fir’aun yang ini disetujui oleh raja. Sehingga Fir’aun sukses diangkat menjadi kepala keamanan khusus raja Mesir.

Karena Raja yang terlalu mengistimewakan Fir’aun dengan cara membangun sebuah benteng khusus di dalam kerajaan untuk tempat Fir’aun menjalankan tugas, sehingga hal inilah juga yang memicu musuh raja semakin hari semakin banyak. Hingga puncaknya, pada suatu hari ada seseorang yang bermaksud untuk membunuh raja Mesir. Raja Mesir yang merasakan bahwa hidupnya terancam berlarian kesana kemari di dalam kerajaan untuk meminta tolong kepada siapapun yang ditemuinya termasuk kepada Fir’aun. Namun dikarenakan benteng tempat Fir’aun berada sangat jauh sehingga membuat raja harus berlari lebih lama lagi.

“Fir’aun tolong aku, karena akan ada yang membunuh diriku?”, raja menyampaikan maksud kedatangannya kepada Fir’aun saat sudah sampai di depan benteng tempat Fir’aun berada.

“Silahkan masuk ke dalam benteng baginda raja, karena biar aku mudah untuk menolong baginda!”, jawab Fir’aun.

Ketika raja sudah berada di dalam benteng, Fir’aun menyuruh raja untuk duduk sedangkan Fir’aun sendiri berjalan ke arah pintu dan menguncinya dari dalam setelah itu Fir’aun mengambil sebilah pedang dan membunuh raja. Kemudian dengan liciknya Fir’aun melepas semua pakaian dan mahkota raja untuk digunakan sendiri dan dengan percaya dirinya menduduki singgasana kerajaan. Hal ini membuat geger seluruh kerajaan, semua punggawa kerajaan bertanya kepada Fir’aun di mana raja sekarang.

“Tidak usah kalian mencari raja di mana, yang terpenting sekarang adalah bahwa aku sekarang menjadi Raja kalian yang baru!”, jelas Fir’aun kepada seluruh penghuni kerajaan Mesir.

Akhirnya dengan kelicikannya Fir’aun menguasai kerajaan dan menyingkirkan siapa saja yang tidak suka dengan dirinya atau berusaha untuk menentangnya. Hal ini berlangsung lama sampai saat di mana Fir’aun bertemu dengan seorang anak kecil yang bernama Musa as.

 

Nara Sumber : KH. Yazid Busthomi dari Wahab ibnu Munabbih

Sumber Kisah Dari kitab Badaa-iuz Zuhur hal 116

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: