Mendarat di Matahari

Di sudut masjid di bawah kentongan. Tampak sesosok makhluk bersarung sedang termenung. Semprul namanya, si santri junior itu sedang asyik melamun, memikirkan obrolan dari jama’ah dengan Kang Sodron semalam diacara PUMI (Pengajian Umum Malam Isnain) tentang kemajuan teknologi yang menjadikan manusia bisa sampai ke bulan. (baca cerita ke 81. Sholat di Bulan).

Disaat Semprul masih terlelap dalam lamunan, tiba-tiba ia dikejutkan oleh,”Assalaamu’alaykum, lagi ngapain ‘sampean’?” (sampean = anda/kamu; bhs jawa untuk orang yang sebaya)

Semprul terperanjat kaget dan segera beranjak dari duduknya, “Wa’alaykum salam. Eh, Kang Sodron tah? Pucuk dicinta ulam pun tiba.”

“Apa?! Kamu jatuh cinta sama aku? Hiii….”

“Hayah… Bukan, Kang. Maksudku PUCUK DICINTA alias kebetulan nih. Saya butuh sama sampean.”

“Oh… Butuh apa?”

“Saya mau tanya, Kang. Apa benar dengan kemajuan teknologi manusia bisa pergi ke bulan?”

“Yah, insya Allah begitulah. Jangankan terbang ke bulan. Terbang ke Arab Saudi cuma dalam waktu satu hari saja bisa. Bahkan dalam waktu satu detik saja kita bisa langsung terhubung dengan manusia di seluruh dunia untuk ngobrol bareng.” (cieeh… Sodron udah ga gaptek lagi nih ye.)

“Emang bisa, Kang? Pake apaan tuh?” (maklum, si Semprul lebih gaptek dari Sodron.)

“Bisa dong. Pake HJ.”

“Apa tuh HJ, setahu saya sih dulu pernah denger HP, Kang. Kalo ga salah kepanjangan dari hengpon.”

“Hadeh, HP itu bukan hengpon tapi Hand Phone alias telfon genggam. HP mah udah qodim (kuno) sekarang yang jadid (baru) HJ, kepanjangan dari Hatif Jawwal alias telfon seluler.”

“Ah, Kang Sodron bisa saja. Ngomong ngomong soal manusia ke bulan. Emmh… Kira kira manusia bisa juga ga ya pergi ke Matahari?”

“Oh, bisa. Bisa banget.”

“Masa sih, Kang. Emang disana ga panas, Kang?”

“Ga, kok. Ga panas, dingin malah, kan ada ACnya.”

“Hiyaa… Itu kan Mall, Kang. Supermarket. Maksud saya Matahari yang di angkasa itu.”

“Insya Allah, bisa.”

“Lha, iya. Emangnya ga kepanasan, Kang?”

“Ga, dong. KAN MENDARATNYA PAS MALAM HARI.” (Sodron pun ngacir…)

gubrak… “Dasar santri Sodron…” (semprul menggerutu)

–0o0o0–

Ketika kabar mengenai manusia mendarat di bulan menyebar ke penjuru dunia. Banyak dari kita yang langsung mempercayainya mengingat kemajuan teknologi sekarang ini semakin bertambah maju.

Namun demikian tak ayal masih ada juga diantara mereka yang tidak percaya bahkan dengan extrim menuduh kafir bagi mereka yang mempercayainya.

Hemh… Manusia punya hak untuk percaya atau tidak. Jika kita percaya, dan dengannya bisa menambah keimanan kita maka okelah. Tapi jika kita tidak percaya, boleh boleh saja kan, tentunya tanpa harus menuduh orang lain kafir ataupun bodoh dong.

Allah sendiri sudah memberikan isyarat di dalam Al Qur-an bahwa, “tidak akan pernah ada manusia yang mampu naik ke atas langit tanpa sulthon atau kekuatan.”

Yah, itu benar. Kita yang tidak punya kekuatan yaitu ilmu pengetahuan yang cukup dan kecanggihan teknologi yang memadai tentu tidak akan bisa terbang ke bulan. Tapi tidak bagi mereka yang memilikinya, yaitu ilmu pengetahuan dan kecanggihan pesawat ulang alik dan roket yang mereka ciptakan, mereka mampu menjejakkan kaki di bulan.

Wallaahu a’lam…

Sekali lagi… Kita boleh percaya ataupun tidak. Itu hak kita masing masing.

Salam damai selalu, Islam rahmatalil ‘aalamiin..

copas dari => sukai fp Humor Islami Ala Santri – HIAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: