Shalat Tarawih

Di indonesia terdapat perbedaan dalam masalah pelaksanaan shalat tarawih, ada yang melaksanakan shalat tarawih 8 rakaat + 3 shalat witir, namun ada juga yang melaksanakan shalat tarawih 20 rakaat + 3 shalat witir. Padahal shalat tarawih adalah shalat sunnah yang tidak diwajibkan, tetapi mengapa hal tersebut dipermasalahkan sedemikian pelik dari jaman kakek sampai jaman kita sekarang. Bukankah perbedaan itu adalah Rahmat dan bukan sebagai alasan untuk kita saling menuduh antara sesama orang Islam, karena ketika kita menuduh belum tentu itu kita benar. Bukankah yang paling penting adalah bulan ramadhan kita manfaatkan untuk kita meningkatkan porsi ibadah kita kepada Allah SWT. Yang lebih tidak masuk akal, (menurutku) kita lebih mempermasalahkan jumlah rakaat dalam shalat tarawih padahal mereka sama-sama shalat tarawih hanya beda jumlah rakaat sedangkan masih banyak orang Islam yang tidak mau melaksanakan shalat tarawih (memang hukumnya adalah sunah).

Sekalipun demikian, yang perlu diperhatikan sekarang adalah bahwa beliau Rosulullah SAW tidak pernah menganjurkan melaksanakan shalat tarawih dengan berjamaah dan tidak pula menuntutnya untuk dilakukan setiap malam, sehingga muncul pertanyaan :
1. Apakah praktek shalat sunnah tarawih seperti itu termasuk bid’ah, mengingat di masa Rasulullah SAW masih hidup tidak ada?
2. Bagaimana hukum shalat tarawih yang jumlahnya 20 rakaat?

Jawaban lebih detail bisa dilihat dan dibaca pada buku “Ternyata Aku Orang NU? Kupas Tuntas Tadisi dan Amaliyah NU), oleh Drs. Muhamad Ma’shum Zainy Al-Hasyimiy, MA (Jombang : Darul HIkmah, 1008), hal. 82-98

Berikut adalah ringkasan yang kami ambil dari buku referensi di atas, semoga bermafaat bagi kita semua. Amin Ya Robbal ‘Alamin

Shalat Tarowih adalah shalat malam (Sholatul Lail) yang dilakukan khusus pada bulan ramadlan setelah melaksanakan shalat isya’, sebagaimana yang diungkapkan oleh Syekh Al-Khon sebagai berikut : “Shalat tarawih adalah shalat yang hanya dilaksanakan pada malam bulan ramadlan”

Hukum Shalat Tarawih dan Landasan Amaliyahnya
1. Hadist riwayat Turmudzi yang artinya : Dari Hudzaifah ra., beliau berkata : Rasulullah SAW bersabda : Ikutilah Kedua orang setelah aku, yaitu Abu Bakar dan Umar.
2. Hadist riwayat Bukhari, dari shahabat Abdurrahman bin Al-Qary sesungguhnya beliau berkata : Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku pergi ke masjid bersama Umar bin Khattab, ternyata orang-orang yang ada di masjid berpencar-pencar dalam beberapa kelompok, ada yang sendirian dan ada pula yang salah satu dari mereka menjadi Imam. Lalu Umar bin Khattab berkata : Aku berpendapat, seandainya mereka itu aku kumpulkan dalam satu Imam, tentunya lebih baik. Kemudian beliau mengumpulkan mereka pada Ubay bin Ka’ab, dan malam berikutnya, aku ke masjid lagi bersama Umar bin Khattab dan mereka melaksanakan shalat bermakmum pada seorang Imam. Menyaksikan hal seperti itu, lalu Umar bin Khattab berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Akan tetapi melaksanakan shalat di akhir malam, nilainya lebih baik dari awal malam. Pada saat itu orang-orang sama melakukan shalat tarawih. (HR. Bukhari dan Malik)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: