Mengobati Sengatan Hewan Berbisa

Suatu ketika Abu Sa’id Al Khudriyyi dipanggil oleh Baginda Rosul Muhammad SAW
Nabi bertanya, “Maukah engkau untuk aku tugaskan ke sebuah daerah?”
“Hanya Allah dan Rosul yang mengetahui apa yang terbaik untuk kami” Jawab Abu Sa’id
“Aku ingin menugaskanmu untuk pergi ke Suriah?” Jelas Nabi Muhammad
“Insya Allah kami akan melaksanakannya dengan segenap kekuatan dan keimanan yang kami miliki” jawab Abu Sa’id dengan tegas
“Aku persilahkan bagimu membawa 30 rombongan berkuda!” Nabi melanjutkan penjelasannya
“Alhamdulillah, semoga dengan hal tersebut Allah menjadikan semuanya lebih mudah dan bermanfaat bagi kami semua” ujar Abu Sa’id dengan penuh hormat seraya memohon izin untuk mempersiapkan semuanya terlebih dahulu
Kemudian nabi mempersilahkan kepada Sahabat Abu Sa’id untuk mempersiapkan semuanya sebelum keberangkatannya menuju Suriah dengan membawa misi dari Baginda Rosul Muhammad SAW. Tak lama berselang berangkatlah rombongan yang dipimpin oleh Sahabat Abu Sa’id Al Khudriyyi tersebut menuju ke Suriah dengan diiringi doa dan restu Nabi Muhammad dan dukungan dari semua sahabat yang lain.
Di tengah perjalanan, rombongan Abu Sa’id singgah di sebuah daerah masih di wilayah Arab namun penduduknya belum beriman kepada Allah SWT dan Rosul-Nya Muhammad. Sebagai ketua rombongan, Abu Sa’id Al Khudriyyi meminta izin untuk beristirahat sementara sambil menghilangkan lelah sebelum melanjutkan kembali perjalanan menuju Suriah dan berharap dijamu dengan pantas sebagaimana tradisi ornag arab di saat itu yang selalu menjamu dan menghormati semua tamu yang singgah.
Namun ternyata perlakuan mereka sungguh tidak mencerminkan kebiasaan orang arab kala itu, mereka terang-terangan menolak menjamu rombongan Abu Sa’id Al Khudriyyi dengan alasan yang tidak jelas dan tidak masuk akal. Sehingga sebagai tamu yang baik dan sebagai muslim yang mengedepankan kepribadian yang santun, Abu Sa’id Al Khudriyyi dan rombongan tidak berlama-lama beristirahat dan secepatnya melanjutkan perjalanan mereka.
Tidak lama setelah penolakan dari tokoh masyarakat kaum tersebut, di tengah-tengah persiapan Abu Sa’id Al Khudriyyi dan rombongan melanjutkan perjalanan datanglah utusan dari kaum tersebut menemui sahabat Abu Sa’id yang telah ditunjuk Nabi menjadi ketua rombongan.
“Sudikah kalian menolong kami?” tanya utusan tersebut
“Pertolongan apakah yang dapat kami bantu, Insya Allah selama kami mampu kami bersedia untuk membantu kalian!” jawab Abu Sa’id Al Khudriyyi
“Pemimpin kami menderita sakit karena baru saja tersengat binatang berbisa” jelas sang utusan
“Kemudian apa yang dapat kami bantu?” tanya Abu Sa’id untuk memastikan bantuang apa yang diinginkan
“Apakah di antara kalian ada yang mengetahui tentang dunia pengobatan dan mau membantu menghilangkan bisa dalam tubuh pemimpin kami tersebut?” mohon sang utusan dengan penuh harapan besar akan pertolongan
“Ada, aku sendiri!” jawab Abu Sa’id Al Khudriyyi
“Sudikah kiranya engkau menolong kami?” sang utusan memohon kepastian
“Maaf, aku tidak bisa melakukan hal tersebut!” jawab Abu Sa’id dengan tegas
“Apakah yang menyebabkan tuan tidak mau menolong kami, padahal kami sangat membutuhkan pertolongan tuan!” rengek sang utusan
“Bukankah barusan, pemimpin kalian juga menolak ketika kami memohon pertolongan di saat kami membutuhkan!” Abu Sa’id menjelaskan keengganannya
“Namun, kami melihat dan yakin bahwa kalian adalah orang-orang yang baik dan suka menolong. Maka tidakkah kalian merasa kasihan dengan keadaan pemimpin kami” sang utusan mencoba merayu
“Aku akan membantu mengobati pemimpinmu namun dengan satu syarat” akhirnya Abu Sa’id melunak
“Apakah syarat tersebut”
“Gantilah pengobatan tersebut dengan apa yang kalian miliki”
“Kami tidak memiliki harta kekayaan yang kami miliki hanyalah binatang ternak”
“Apakah kalian tidak keberatan bila ternak tersebut diberikan kepada kami sebagai bekal perjalanan kami!” Abu Sa’id mencoba mencari kepastian
“Kami sanggup memberikan kepada tuan dan rombongan ternak sebanyak 30 ekor sebagaimana jumlah rombongan yang tuan bawa. Apakah tuan bersedia”
“Baik, aku setuju. Tunjukkan kepadaku di mana pemimpinmu yang sedang terluka berada agar secepatnya dapat aku obati”
Kemudian Abu Sa’id berjalan dengan dipandu utusan kaum ke tempat di mana pemimpin mereka berada. Selanjutnya Sahabat Abu Sa’id Al Khudriyyi mengobati luka dari binatang berbisa tersebut dengan cara mengeluarkan membersihkan darah yang kotor dari luka dan selanjutnya membasuh bekas luka dengan air sambil dibacakan surat Al Fatihah sebanyak 7 kali.
Dengan ijin Allah SWT, luka tersebut tidak lama berselang terasa ringan dan tidak memberikan efek yang memberatkan terhadap pemimpin kaum tersebut.
Akhirnya sebagaimana yang telah dijanjikan akhirnya mereka memberi sahabat Abu Sa’id Al Khudriyyi beserta rombongan binatang ternak sebanyak 30 ekor dan mengucapkan permintaan maaf mereka atas ketidak sopanan mereka dalam menghormati tamu yang datang. Setelah itu, tidak lama berselang Abu Sa’id dan rombongan melanjutkan misi menuju Suriah.
(HR. Imam Ad Daruquthni, Imam Abu Daud, Imam At Turmudzi)
Ahmad Yasin ibin Asmuni Al Jarani, Fadhoilul Suwar, (Kediri, Hidayatul At Thulab, 2002), hal. 3

Sesaat setelah keadaannya membaik, maka pemimpin tersebut mengirim utusanny akembali kepada kami dengan membawa 30 ekor kambing sebagai imbalan atas pertolongan yang kami berikan. Namun di saat Abu Sa’id Al Khudriyyi hendak memakannya maka sahabatnya mencegahnya
“Janganlah kamu memakannya terlebih dahulu, sebelum kita meminta penjelasan dari Baginda Rasul SAW! Apakah kambing tersebut diperbolehkan bagi kita untuk memakannya?
“Masya Allah, benar sekali saudaraku. Lebih baik kita menghadap Nabi Muhammad SAW!”
Tidak berselang lama kemudian, mereka menghadap Nabi SAW dan menceritakan seluruh kejadian tanpa mengurangi maupun menambahnya sedikitpun.
Nabi Muhammad SAW bertanya, “Dari siapakah engkau tahu kalau Surat Al Fatihah bisa digunakan untuk mengobati hal seperti itu?”
Sahabat Abu Sa’id menjawab dengan sedikit ragu, “Ya Rasulullah, sesungguhnya hal tersebut tiba-tiba terbersit begitu saja dalam hatiku!”
Nabi Muhammad tersenyum dan berkata, “Makan dan nikmatilah kambing itu!”

HR. At Turmudzi menurut Sulaiman bin Qottah
Ahmad Yasin ibin Asmuni Al Jarani, Fadhoilul Suwar, (Kediri, Hidayatul At Thulab, 2002), hal. 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: