Firman Suci

Ketika temaram semakin suram
Pertanda kini senja telah tiba dan malam segera menjelang
Gelap pun datang mengiringi kehadiran malam
Dan malam pun benar-benar datang berselimut kabut kelam

Semilir angin meniup dedaunan
Mengurai pucuk-pucuk cemara
Membelai kuncup-kuncup bunga yang siap mekar … yang tidur lelap
Sambil menanti kehadiran pagi yang berseri

Brung hantu bersenandung ria
Melantunkan kalam TUHAN
Mengalunkan wahyu ILAHI
Bersama-sama binatang malam
Melagukan nyanyian keagungan Sang Pencipta
Yang teruntai dalam rajutan Sabda Alam

Ketika malam kelam
Ketika gulita benar-benar tiba
Muncullah bintang gemintang
Lentera alam di angkasa raya nun jauh di sana

Lalu sang purnama menampakkan wajahnya
Yang cantik nan jelita
Seluruh binatang amalam bersenandung ria menyambutnya
Namun sang ratu ayu malu-malu tersipu
Sembunyi di balik mega kelabu
Kemudian lenyap bersama perginya malam
Ia tenggelam dalam kelam

Malam berlalu ….
Hari berganti pagi
Di ufuk timur mulai tampak
Lembayung sutra mulai bercahaya
Kokok ayam bersahutan menyambutnya
Kicau burung silih berganti
Mereka berlomba berpacu
Menyambut sang surya
Yang kini telah menyinari
Pagi berseri …
Memberi harapan hidup penghuni semesta raya

Rerumputan bergoyang
Terjaga dari lelap tidurnya
Pepohonan menggeliat
Lalu menghirup udara segar
Di pagi ceria

Kuncup-kuncup pun mulai bermekaran
Menebarkan semerbak wangi bunga
Kumbang-kumbang beterbangan
Mengecup kembang yang sedang mekar
Dan menghisap sari madunya

Burung-burung kecil mengepakkan sayapnya
Untuk melanglang buana
Mencari sesuap pagi dan sekeping siang
Buat berjaga di senja hari
Guna mengusir lapar dan dahaga
Agar menikmati malam hidupnya
Lalu mendengkur dalam tidur penuh syukur

Saat itulah sang raja siang
Berjalan dengan gagahnya
Dengan benderang sinar matanya
Dengan percik dan semburat cahaya kehidupan yang ditebarkan
Ia memberi energi kepada seluruh titah
Yang ada di muka bumi
Menambah semarak dan bahagia penghuni mayapada

Ketika sore tiba
Mega-mega datang berbaris beriringan
Sinar temaram matahari senja semakin suram
Sang surya berangsur menghilang
Ia tak tahan
Perlahan ia ditinggalkan siang penuh kenangan

Ia bersembunyi di balik awan
Dan gunung-gunung tinggi yang menjulang
Dan ia semakin malu menampakkan rona merah di wajahnya
Yang kian muram

Terlebih ketika pelangi menari-nari mengiringi kepergiannya
Lalu tabir hitam menyelimutinya
Sang surya tak berdaya menampakkan wajahnya
Ia lenyap di telan malam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: